Apakah Kaca Lebih Ramah Lingkungan Dibandingkan Plastik?


Apakah Kaca Lebih Ramah Lingkungan Dibandingkan Plastik? image

Saat Anda me-google zero waste, Anda pasti akan melihat berton-ton gambar toples kaca di mana-mana.

Dari toples berisi bumbu hingga toples untuk menyimpan pernak-pernik kecil, kaca cukup populer di komunitas zero waste.

Tapi apakah kaca benar-benar lebih baik untuk lingkungan dibandingkan plastik?

Plastik cenderung mendapatkan reputasi yang sangat buruk dari para pecinta lingkungan – hal ini berkaitan dengan fakta bahwa hanya 9 persen dari plastik yang benar-benar didaur ulang. Tapi, apakah plastik sebenar seburuk itu dibandingkan kaca? Mungkin jawabannya tidak sejelas yang Anda kira.

Kaca

Pertama, penting untuk dicatat bahwa kaca dapat didaur ulang tanpa henti. Selain itu, kaca tidak pernah kehilangan kualitas dan kemurniannya meski di daur ulang berulang kali. Masalahnya?

Pengunaan Pasir

Pertama, pembuatan kaca baru membutuhkan pasir. Meskipun kita memiliki berton-ton pasir di pantai, gurun, dan di bawah laut, kita menggunakannya lebih cepat daripada yang dapat diisi ulang oleh planet ini. Bahkan, kita menggunakan pasir lebih banyak daripada minyak! Padahal hanya jenis pasir tertentu yang dapat digunakan untuk memproduksi kaca (Nope, pasir gurun tidak dapat digunakan).

Alhasil sebagian besar pasir di ambil dari dasar sungai dan dasar laut. Apa dampaknya?

Pengambilan pasir  mengganggu ekosistem rantai makanan mikroorganisme yang hidup di atasnya. Selain itu, menghilangkan pasir dari dasar laut juga membuat komunitas pantai rawan terhadap banjir dan erosi.

Proses Pembuatan

Kaca menggunakan pasir tiap kali dibuat. Maka dari itu, bahan-bahan ini harus dilebur hingga 2600 hingga 2800 derajat Fahrenheit.

Setelah itu, mereka melalui proses conditioning, molding dan finishing sebelum menjadi produk akhir.

Setelah produk akhir dibuat, produk tersebut diangkut sehingga dapat dicuci dan disterilkan, kemudian diangkut lagi ke toko untuk dijual atau digunakan.

Masalah lain dengan kaca? Kaca lebih berat dari plastik, dan lebih mudah pecah selama transit.

Berarti, kaca menghasilkan lebih banyak emisi transportasi yang lebih banyak dan lebih mahal daripada plastik.

Total energi bahan bakar fosil yang dikonsumsi untuk membuat kaca di Amerika Utara sangat tinggi.

Recyle Rate

Apakah kaca bisa di-recyacle? Ya, jawabannya kaca bisa di daur ulang. Tapi apakah benar, seluruh kaca yang dibuang akhirnya di daur ulang?

Faktanya, hanya 33 persen limbah kaca didaur ulang di Amerika. Padahal 10 juta metrik ton kaca dibuang setiap tahun di Amerika. Ini adalah angka di negara maju, bayangkan recyle rate negara-negara lainnya yang tidak memiliki sumber daya sebanyak Amerika Serikat.

Kenapa recyle rate kaca rendah?

Kaca berwarna hanya dapat dilebur dan di daur ulang dengan warna serupa. Selain itu kaca yang biasanya digunakan untuk bakeware tidak dapat didaur ulang karena kaca-kaca oven, mesin panggang, microwave dan lain sebagainya memang didesain agar tahan terhadap suhu tinggi. Maka dari itu, kaca-kaca ini memerlukan cara khusus untuk di daur ulang.

Meskipun kaca sepenuhnya dapat didaur ulang, sayangnya ada fasilitas yang memilih untuk menghancurkan kaca dan menggunakannya sebagai landfill cover. Ini lebih murah daripada benar-benar mendaur ulang kaca karena kaca tersebut tidak di proses sama sekali.

Catatan: dalam proses daur ulang materi organik, sampah organik dan anorganik yang sudah diproses dihancurkan lalu ditimbun dengan berbagai lapisan tanah. Landfill cover adalah salah satu lapisan yang digunakan dalam proses daur ulang. Lapisan tersebut biasanya berisi plastik atau kaca, dimana mereka memang tidak ditujukan untuk di daur ulang. Plastik dan kaca tersebut menghalangi air yang masuk dari hujan, dan mencegah bau sampah keluar dari tanah.

Biodegradability

Apabila tidak di daur ulang dan dibiarkan begitu saja, kaca membutuhkan satu juta tahun agar bisa terurai secara alami di lingkungan.

(view this figure at 200%)

Plastik

Tahan air dan ringan. Seburuk apa sih plastik itu sebenarnya?

Bahan dasar plastik

Plastik berbahan dasar minyak bumi, dimana minyak bumi sumber daya yang tidak dapat diperbarui dan mencemari lingkungan.

Pengeboran minyak  mengganggu ekosistem darat dan laut. Terlebih lagi apabila ada tumpahan minyak yang mencemari tanah dan air dan dapat menyebabkan kebakaran dan ledakan yang mengerikan.

Carbon Footprint

Proses dari bahan mentah hingga plastik akhirnya dibuang selalu menghasilkan karbon dioksida. Saat pabrik membuat plastik, proses tersebut juga menggunakan bahan bakar fosil dan menghasilkan emisi. Faktanya, emisi dari plastik pada tahun 2015 setara dengan hampir 1,8 miliar metrik ton CO2.

Recycle Rate

Apakah plastik bisa di-recyle? Ya, beberapa plastik bisa di daur ulang. Tapi, kualitas plastik akan selalu berkurang setiap kali plastik tersebut didaur ulang. Alhasil, pada akhirnya plastik tersebut tidak dapat digunakan dan berakhir di lingkungan. Selain itu, hanya 9 persen plastik benar-benar didaur ulang. Hal ini dikarenakan jenis plastik sangat beraneka ragam dan jenis-jenis plastik ini harus dipisah dengan benar sebelum di daur ulang. Tidak hanya itu, plastik harus dibersihkan dari materi organik sebelum di daur ulang. Dengan keadaan dimana kita menghasilkan 380 juta ton tiap tahunnya dan edukasi recycling yang tidak setimpal, proses daur ulang plastik sangat jauh dari optimal.





Macam Jenis Plastik



Biodegradability

Apabila tidak di daur ulang dan dibiarkan begitu saja, plastik membutuhkan 450 hingaa 1000 tahun agar bisa terurai secara alami di lingkungan. Dibandingkan dengan kaca, yang membutuhkan waktu 1 juta tahun untuk terurai, angka-angka ini mungkin tampak rendah. Namun, penting untuk diingat tidak seperti kaca, plastik mengandung bahan kimia beracun yang meresap ke tanah dan lingkungan sekitarnya seiring berjalannya waktu.


Jawabannya?

Kaca lebih ramah lingkungan dibandingkan plastik. Dari segi produksi, kaca dan plastik sama buruknya untuk lingkungan. Keduanya memperlukan materi dari alam, dan proses pengambilan materi tersebut menggangu ekosistem. Selain itu, keduanya juga menghasilkan emisi karbon yang cukup besar. Namun, apabila kita lihat dari segi recycle rate dan biodegradibility, sudah jelas kaca merupakan opsi yang lebih baik dibandingkan dengan plastik. Meski recycle rate kaca masih terhitung rendah, setidaknya kaca tidak kehilangan kualitasnya saat di daur ulang. Selain itu, meski kaca membutuhkan waktu jauh lebih lama untuk terurai alami, kaca tidak meracuni tanah dan lingkungan sekitarnya. Hal ini jauh lebih penting dibandingkan plastik yang meracuni tanah dan dapat menimbulkan efek samping jangka panjang.

Apa kalian punya pendapat lainnya? You can always let us know!


This article is written by Cindy Tandiono


Related Post