Let’s Start Composting!


Let’s Start Composting! image

Apa yang dimaksud dengan composting?

Composting atau mengompos adalah kegiatan mengolah kembali bahan organik melalui proses penguraian dengan bantuan mikroorganisme dan kelembapan tertentu menjadi pupuk kompos. Bahan organik ini dapat berupa sampah dapur ataupun sampah dedaunan  di halaman, sehingga dapat kita lakukan di rumah. Namun, terdapat berbagai macam komposter atau alat untuk mengompos, di antaranya:

  • Gerabah atau Pot

Gerabah atau pot dapat digunakan sebagai komposter karena terbuat dari tanah liat maka terdapat pori-pori di sisinya, sehingga sirkulasi udara dapat terjadi. Anda dapat menimbun tanah di gerabah, lalu buatlah beberapa lubang. Kuburlah sampah organik pada tiap lubang tersebut. Kompos siap dipanen ketika gerabah sudah penuh.

  • Takakura

Metode Tatakura merupakan temuan Koji Takakura, ahli kimia terapan di Himeji Institute of Technology, Jepang. Metode ini menggunakan keranjang cucian bekas yang memiliki lubang-lubang  dan kardus di lapisan dalamnya untuk medianya. Bahan organik yang digunakan di antaranya sampah hijau, sampah coklat, dan tanah dengan susunan dari terbawah ialah bantal sekam bawah, kompos jadi, bahan organik, bantal sekam atas, lalu tutup dengan kain hitam berpori dan tutup keranjang.

  • Kontainer

Drum plastik atau kontainer dapat digunakan sebagai komposter. Metode ini dapat dilakukan dengan cara melubangi bagian bawah kontainer agar sirkulasi udara dapat terjadi. Hal ini penting dilakukan karena plastik tidak berpori. Hal ini sangat mudah dilakukan sebab kontainer dapat diletakkan indoor atau di dalam ruangan.

  • Worm Bin

Metode ini memanfaatkan bantuan cacing untuk mengurai bahan organik yang ditimbun menjadi kompos. Anda dapat menggunakan kotak plastik dan tutupnya sebagai medianya. Sama halnya dengan metode kontainer, worm bin dapat dilakukan di dalam ruangan.

  • Biopori

Metode biopori memanfaatkan pipa paralon sebgaai medianya. Dalam hal ini, pipa berdiameter 10 cm dilubangi di setiap sisinya dan dimasukkan ke dalam tanah dengan posisi vertikal. Melalui pipa ini, Anda dapat meletakkan berbagai bahan organik di dalamnya untuk menjadi kompos.

Sebagian besar metode mengompos tidak membutuhkan biaya yang mahal bahkan gratis, terkecuali Anda ingin menambah EM4 untuk mempercepat pengomposan. Sebab Anda dapat menggunakan barang bekas di sekitar sebagai wadah atau media komposter. Sedangkan, untuk bahan mengomposnya sendiri pun berasal dari sampah organik. Namun, tidak semua sampah organik dapat dijadikan kompos, Anda perlu memilahnya sesuai dengan jenisnya. Berikut pembagian sampah organik:

  • Sampah coklat: daun dan rumput kering, serutan kayu, serbuk gergaji, sekam padi, jerami,  kulit jagung, tangkai sayuran, serta limbah kertas.

  • Sampah hijau: sisa potongan sayuran dan buah, daun dan rumput segar, teh dan kopi, kulit telur, serta pupuk kandang.

  • Lainnya yang tidak dapat dijadikan kompos: Tanaman gulma, kotoran anjing dan kucing, lemak atau minyak, daging, tulang ayam atau duri ikan, kulit udang, susu, keju, yogurt, dan produk susu lainnya. Sampah jenis ini tidak dapat menjadi kompos karena dapat mengundang lalat dan menyebabkan belatung, membawa penyakit, hingga mengandung hama.

The Advantages

  1. Mengurangi jumlah sampah, sehingga TPA tidak semakin penuh. Sebab sampah organik yang diolah menjadi kompos dan sampah anorganik dapat dibawa ke bank sampah untuk didaur ulang.

  2. Mencegah tanah longsor karena timbunan sampah, khususnya daerah TPA.

  3. Mengurangi gas metana yang dihasilkan dari timbunan sampah di TPA.

  4. Mengurangi karbon yang berasal dari kendaraan pengangkut sampah.

  5. Mengurangi biaya pengeluaran untuk mengangkut sampah.

  6. Dapat memberikan nutrisi bagi tanah dan makhluk di dalamnya.

  7. Kualitas tanah dan air dapat terjaga, sebab tidak digunakannya pupuk berbahan kimia.

  8. Dapat menyuburkan tanaman tanpa biaya yang mahal.

  9. Mengurangi efek gas rumah kaca serta mencegah pemanasan global hingga perubahan iklim.

  10. Sebagai kegiatan menyenangkan bagi keluarga.

Caranya?

  1. Siapkan komposter dan bahan kompos

Kumpulkan sampah organik, seperti sampah coklat, sampah hijau, tanah, hingga air cucian beras ataupun EM4. Tak lupa, siapkan komposter sebagai media mengompos, seperti keranjang berlubang dengan kardus didalamnya, gerabah atau pot tanah liat, kontainer dengan lubang di bawahnya.

  1. Timbunlah bahan kompos

Untuk mempermudah penguraian, potong sampah organik menjadi bentuk kecil-kecil. Campurkan tanah dengan sampah organik dan bahan kompos lainnya dengan tanah dengan perbandingan 1:1. 

  1. Masukkan campuran bahan kompos ke dalam komposter

Letakkan campuran sampah organik dengan tanah tadi ke adalam komposter. Pastikan komposter memiliki lubang atau pori agar sirkulasi dapat berjalan dengan baik. Anda dapat menambahkan kotoran ternak dan air gula atau air cucian beras agar campuran menjadi semakin lembap. Jangan lupa untuk menutup komposter.

  1. Aduklah campuran kompos seminggu sekali

Pastikan untuk mengaduk campuran kompos setidaknya sekali dalam semingggu. Pada minggu pertama dan kedua, mikroorganisme akan menguraikan campuran kompos tadi. Umumnya, campuran kompos akan memanas hingga 40 derajat celcius.

  1. Pupuk kompos siap digunakan

Apabila sudah berwarna kehitaman atau tidak berbau sampah maka pupuk kompos siap digunakan. Umumnya, pupuk kompos siap setelah 4-6 minggu. Sebelum menggunakannya, pastikan untuk mengayaknya terlebih dahulu, agar bagian kasar dan halus terpisah. Bentuk kompos yang halus dapat digunakan sebagai pupuk. Sedangkan bagian kasar dapat dimasukkan kembali ke dalam komposter untuk diurai ulang.

 

“Never plant without a bucket of compost at your side”

- Elsa Bakalar

 

Source: Sustaination, Zero Waste Indonesia, Waste 4 Change

 

Article written by E.J. Syamsy


Related Post