The Great Garbage Patch


The Great Garbage Patch image

How grossed out are you when you see the below picture?

Photo source: Liputan6.com / Nefri Inge



Ini adalah foto Sungai Musi di Palembang.

Dari sebuah berita yang diliput oleh tim Liputan6, sang narasumber berkata bahwa petugas kebersihan sering mengambil sampah di pangkal sungai, namun tetap tidak ada perbedaannya dari hari ke hari.

Tapi, tahukah kamu kalau sungai ini masih tidak ada apa-apanya di banding dengan The Great Garbage Patch? 

 

What Is It?

The Garbage Patch adalah kumpulan sampah plastik yang mengapung di permukaan laut. Garbage Patch bukan hanya satu lokasi saja. Sejauh ini, sudah diidentifikasi 5 lokasi garbage patch yang akan kita bahas lagi dibawah.

 

What are the obstacles to clean the great Pacific garbage patch?

Salah satu garbage patch yang sudah diidentifikasi, The Great Pacific Garbage Patch. Source: Latin American Post

 

Menurut United Nations Environmental Programme, pada tiap satu mil persegi lautan terdapat 46.000 plastik. Diperkirakan luas garbage patch berkisar 700.000-15.000.000 kilometer persegi. Padahal, riset menunjukkan bahwa sekira 70% sampah laut pada akhirnya tenggelam. 

 

Sampah ini terperangkap karena pusaran arus laut yang dipengaruhi oleh rotasi bumi dan angin atau disebut gyres.  Selain itu, garbage patch semakin berkembang karena jumlah sampah manusia yang terus meningkat. Diperkirakan terdapat sekitar 100 juta ton plastik yang dihasilkan per tahunnya, di mana 10% diantaranya terbawa ke laut. 

 

Source: https://marinedebris.noaa.gov/

 

Faktanya, plastik tidak dapat terurai sempurna, tetapi menjadi potongan kecil dengan polimer atau susunan kimia yang tidak berubah. Potongan kecil inilah yang disebut mikroplastik.

Sebutan patch sedikit menyesatkan pemahaman masyarakat di mana garbage patch dianggap sebagai pulau sampah. Padahal sampah plastik yang terkumpul terdiri dari berbagai ukuran, dari jaring ikan besar hingga mikroplastik. Sehingga, memungkinkan bagi kapal untuk berlayar melewati garbage patch. Penelitian menemukan 46% dari patch terdiri dari jaring ikan.




Ocean Trash Map

Diperkirakan sekitar 80% sampah ini berasal dari sungai dan daratan, yang mana sebagian besarnya berasal dari Amerika Utara dan Asia. Sedangkan 20% lainnya berasal dari kapal kargo besar, kapal pesiar, serta anjungan minyak lepas pantai yang membuang puing ke laut.

 

Dibawah ini merupakan peta yang menunjukan darimana sampah laut berasal. Apakah kamu bisa melihat Indonesia?

 

Peta ini menunjukan dari mana sampah laut berasal. Source: The Weather Channel | Alfred-Wegener-Institut/AWI-Litterbase

 

Nope! Negara Indonesia hampir tertutup di peta ini karena kita adalah negara kedua terbesar penyumbang limbah plastik! 

 

Pada tahun 2010 saja, 8,8 juta metrik ton sampah plastik yang tidak dikelola dibuang oleh negara China. Dari estimasi peneliti, kurang lebih 3,53 juta metrik ton dari sampah plsatik tersebut berakhir di lautan. 

 

Indonesia sendiri membuang 3,2 juta metrik ton sampah plastik tanpa pengelolaan apapun,dan  diperkirakan 1,29 juta metrik ton menjadi sampah plastik laut.

 

Menurut laporan yang dibuat oleh Wall Street Journal, total limbah plastik dari kedua negara ini merepresentasikan sepertiga dari total seluruh limbah plastik yang ada di perairan global!







Identified Patches

Sayangnya, The Great Garbage Patch ini bukan hanya terletak di satu lokasi, tapi di berbagai lokasi. Berikut adalah garbage patch yang sudah dapat diidentifikasi.

 

 

The Great Pacific Garbage Patch

The Great Pacific Garbage Patch terletak di bagian tengah utara Samudera Pasifik. S Sampah yang terkumpul berasal dari Lingkar Pasifik, yakni Asia, Amerika Utara, dan Amerika Selatan. Patch ini terbilang paling terkenal dibanding yang lain, sebab ukurannya yang sangat besar. Tahun 2018, luas Great Pacific Garbage Patch mencapai 1,6 juta kilometer persegi, di mana 94% nya terdiri dari mikroplastik. Sekira 80.000 ton plastik atau setara 500 jet jumbo mengapung di Great Pacific Garbage Patch.



The South Pacific Garbage Patch

Terletak di South Pacific Gyre yang terbentang dari perairan timur Australia hingga Amerika Selatan, patch ini ditemukan tahun 2007, di mana belum terdeteksi oleh satelit karena sebagian besarnya tersusun oleh plastik seukuran beras.

 

The North Atlantic Garbage Patch

Terletak di Atlantik Utara, patch ini ditemukan tahun 1972. Berdasarkan penelitian Asosiasi Pendidikan Laut, diperkirakan patch ini berukuran ratusan kilometer dengan konsentrasi lebih dari 200.000 partikel per kilometer persegi.

 

The South Atlantic Garbage Patch

Terletak ratusan mil dari lepas pantai Amerika Utara,  South Atlantic Garbage Patch juga sebagian besarnya terdiri dari mikroplastik, yakni sekira 200.000 partikel per kilometer persegi.

 

The Indian Ocean Garbage Patch

The Indian Ocean Garbage Patch ​​terletak di pusat Samudera Hindia. Patch ini ditemukan tahun 2010 dan tersusun oleh plastik yang terurai menjadi mikroplastik. Diperkirakan konsentrasi mikroplastik sekira 10.000 partikel per kilometer persegi.

 

The Effects

1. Terbunuhnya burung dan hewan laut

Banyaknya plastik di laut seringkali membuat hewan laut ataupun burung terbunuh, karena menganggap plastik sebagai makanannya. Seperti penyu yang melihat kantung plastik sebagai ubur-ubur. Bahkan, diperkirakan bahwa jumlah plastik di garbage patch, 180 kali lebih banyak dibanding dengan makanan dan hewan di laut.

Source: Francis Perez

2. Tertangkapnya ikan tanpa nelayan atau pemancingan hantu

Keberadaan sampah plastik di laut, khususnya jaring ikan yang terbuang, mengakibatkan beberapa hewan laut terjerat, meskipun tidak ada nelayan. Akibatnya, risiko kematian hewan laut pun meningkat.

3. Ikan yang mengandung plastik

Plastik yang terurai menjadi mikroplastik seringkali tertelan oleh hewan laut, karena ukurannya yang kecil dan tercampur oleh air laut. Akibatnya, terdapat mikroplastik pada sebagian besar hewan laut yang membahayakan apabila dikonsumsi manusia.

4. Plastik menghasilkan racun

Plastik yang terurai menjadi mikroplastik melepaskan bahan kimia beracun seperti BPA atau bisphenol A dan PCB atau turunan dari polistirena, yang tentu saja mengancam kehidupan hewan laut. Peneliti menemukan bahwa 84% sampel yang diambil dari garbage patch mengandung bahan kimia beracun, yakni Persistent Bio-accumulative Toxic (PBT).

Source: The Ocean Clean Up

5. Mencegah masuknya sinar matahari

Plankton, alga, dan ganggang yang ada di laut tidak dapat berfotosintesis karena tidak mendapat sinar matahari yang cukup. Akibatnya, terjadi gangguan pada rantai makanan di laut.

6. Membahayakan navigasi dan merusak kapal

Seringkali sampah plastik di laut tidak terdeteksi atau terlihat oleh awak kapal. Sehingga, kapal bisa saja menabrak sampah tersebut. Akibatnya, sampah dapat terjerat pada baling-baling kapal hingga menyumbat saluran.

 

What Can We Do?

    • Memilah sampah organik dengan sampah anorganik untuk mempermudah proses daur ulang

    • Mengurangi penggunaan plastik sekali pakai

    • Mendukung organisasi yang bekerja untuk memberantas plastik laut

    • Menjadi relawan dalam upaya pembersihan laut di wilayah pesisir

    • Memberikan donasi pada NGO terkait

    • Memberitahu pihak berwenang setiap kali Anda mengetahui atau menyaksikan pelanggaran terkait pengelolaan sampah plastik

    • Berkontribusi untuk menyebarkan kesadaran akan masalah dan di antara orang-orang di sekitar Anda.





Source:

National Geographic; The Ocean Clean Up; National Marine Sanctuary Foundation; World; Wide Foundation (WWF); Marine Debris Program National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA); Liputan6; The Weather Channel; Ranker

This article is written by E.J. Syamsy & Cindy T.

 


Related Post