Tindakan Kecil yang Berdampak Besar di Rumah Tangga


Tindakan Kecil yang Berdampak Besar di Rumah Tangga image

Ada berapa tong sampah di rumahmu? Satu di setiap ruangan? 
Tahukah kamu masker sekali pakaimu seharusnya dibuang secara terpisah?

 

Waste Segregation

Waste Segregation adalah kegiatan memilah sampah berdasarkan jenisnya. Sistem pemilahan sampah pun berbeda-beda tiap negara, provinsi, daerah bahkan berdasarkan tempatnya. Misalnya, pembagian sampah rumah sakit akan berbeda dengan pembagian sampah di sebuah pabrik plastik. Pemilahan sampah dianggap penting karena menjadi kunci pengelolaan sampah yang efektif dan meminimalisir limbah. 

 

Di struktur yang paling sederhana, limbah terbagi menjadi dua. Pertama, sampah basah atau organik, yang bisa dikomposkan. Kedua, sampah kering atau anorganik, yakni sampah lainnya yang tidak akan ‘membusuk’. 

 

Selain mempermudah dan mempercepat proses daur ulang, proses pemilahan sampah  ini juga dapat mengurangi polusi dan pencemaran, menjaga lingkungan, menghemat energi, bahkan menciptakan lapangan pekerjaan, dan menambah penghasilan. Saat ini, banyak ditemukan perusahaan yang berfokus pada bidang ini dengan tujuan investasi jangka panjang. Menurut Journal of Waste Management, pendapatan yang dihasilkan dari pengelolaan sampah mencapai 60 juta dollar pada tahun 2018. 

 

Aturan Pemilahan

Waste Segregation berbeda-beda di setiap tempatnya, sebab jenis sampah yang dihasilkan tidaklah sama. Contohnya, World Health Organization (WHO) sempat merekomendasikan tempat sampah untuk rumah sakit dapat dibedakan menjadi:

  1. Limbah yang menginfeksi, tempat sampah berwarna kuning.

  2. Limbah kimia dan farmasi, tempat sampah berwarna coklat.

  3. Limbah umum, tempat sampah berwarna hitam.

 

Sistem pemilahan ini tentu tidak dapat diterapkan di kantor, sekolah, maupun restoran, karena tempat tersebut tidak menghasilkan sampah farmasi, dsb. Namun, secara garis besar, untuk sampah rumah tangga atau publik, dapat dibedakan menjadi:

  1. Limbah Berbahaya

Obat kadaluarsa, kosmetik bekas, bahan pembersih, insektisida dan wadahnya, pisau cukur, dan lainnya

  1. Limbah Biomedis

Pembalut wanita, popok sekali pakai, perban, dan benda lainnya yang terkontaminasi darah atau cairan tubuh lainnya

 

  1. Limbah Elektronik

Baterai, suku cadang komputer, kabel, lampu, mainan elektronik, jam tangan, kipas angin, dan alat elektronik lainnya

  1. Limbah Kering

Botol minuman, kaleng bekas, kertas, koran, toples, baju bekas, dan benda lainnya yang dapat didaur ulang

  1. Limbah Basah

Sampah dapur, sisa potongan dan kulit buah dan sayuran, ampas kopi dan teh, kulit telur, tulang ayam dan duri ikan, serta makanan sisa

  1. Garden Waste

Daun, ranting pohon, dan rerumputan dapat kita kelola menjadi kompos.

 

Progress Indonesia dalam Pemilahan Sampah

Di Indonesia, sistem pemilahan sampah ini tergolong sangat rendah. Hal ini bisa dilihat dari minimnya jumlah public rubbish bin yang memiliki 2 atau lebih macam, terutama wilayah non DKI Jakarta. Kebanyakan, sampah dibuang di dalam 1 tong besar, tanpa disortir. 

 

Worse, limbah rumah tangga sangat jarang dipisah, baik organik dan anorganik. Semuanya dibuang menjadi 1 kantong, dimana mindset semua orang adalah “yang penting sampahnya sudah tidak di rumah saya lagi”. Hal ini tentunya berdampak sangat buruk. Tahukah kamu botol plastik yang bisa didaur ulang saja harus dalam keadaan bersih, terpisah dengan tutup botolnya, tanpa kertas, branding plastic, atau stiker? Sekarang bayangkan Anda di sebuah TPA dan harus mendaur ulang plastik. Sangat sulit bukan?

 

Whoever says plastic recyling is easy is lying.

Memang, proses daur ulang itu rumit. Plastik saja bisa dibagi menjadi 7 macam yang proses daur ulangnya berbeda. Maka dari itu, ayo kita mulai pisah limbah rumah tangga. Tidak perlu yang muluk-muluk loh, earthlings. Kita bisa mulai dengan pisahkan limbah organik dan anorganik (sampah kering). Apabila mau melakukan pemilahan yang lebih mendetail, bisa mulai memilah sampah kering menjadi limbah elektronik, limbah kaca/beling, kertas/buku, dan plastik (kemasan mie, botol). Lalu limbah yang sudah dipisahkan ini dimasukan ke sebuah kardus yang terpisah. Perlu diingat sebisa mungkin sampah dalam keadaan “bersih”- tidak terkontaminasi sampah organik ya. Misalnya, botol selai sudah harus dicuci sebelum di daur ulang karena masih ada bahan organik di dalamnya.

Penting sekali bagi kita untuk mensortir sampah, karena sebenarnya sampah di Indonesia kebanayakan merupakan sampah rumah tangga.

Berikut grafik sampah Indonesia berdasarkan jenis dan sumbernya tahun 2020.

Berdasarkan grafik tersebut, terlihat bahwa sampah rumah tangga dan sisa makanan memiliki persentase jumlah yang tertinggi. Hal ini menandakan bahwa keduanya merupakan sumber sampah terbesar di Indonesia. Namun, itu tidak akan menjadi masalah apabila kita mengikuti kebijakan pemerintah tentang sampah. Seperti memilah sampah basah dengan kering, serta sampah organik dengan anorganik. 

  1. Sampah organik atau basah: sampah dapur, sisa makanan, dedaunan kering, ranting pohon, dll.

  2. Sampah anorganik atau kering: botol minuman, kaleng bekas, kertas koran, toples makanan, ember bekas, dll.

 

Usaha Pemerintah Untuk Memperbaiki Pemilahan Sampah

Pengelolaan dan pemilahan sampah di Indonesia telah diatur dalam UU No. 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah. Lalu, demi mendukung kebijakan tersebut pemerintah mengusung dua program, yakni TPS-3R dan Bank Sampah.

 

TPS-3R merupakan singkatan dari Tempat Pembuangan Sampah dan Reduce, Reuse, dan Recycle. Melalui program ini, dilakukan daur ulang sampah anorganik dan pengolahan sampah organik menjadi kompos. Pemerintah menyediakan teknologi pencacah sampah dan pengayak kompos yang efektif. 

 

Bank Sampah merupakan upaya pengurangan sampah rumah tangga, sekaligus sumber penghasilan tambahan masyarakat. Dalam hal ini, warga dapat menabung plastik, kertas, kardus, dsb di bank sampah. Selanjutnya, warga menerima buku tabungan dan dapat mendapat uang senilai dengan sampah yang ditabung. 

 

Selain itu, untuk mendukung program pemilahan sampah, pemerintah juga telah menyediakan beberapa tempat sampah yang memisahkan sampah organik dan anorganik di tempat umum, seperti bandara, stasiun, dan taman kota. Hal ini dilakukan agar kita tetap memilah sampah dimanapun kita berada.

 

Tapi, Waste Segregation di Indonesia Belum Efektif, Penyebabnya? 

  1. Masyarakat Skeptis

Sebagian besar masyarakat masih skeptis terhadap pemilahan sampah. Mereka menganggap hal itu sia-sia, sebab pada akhirnya sampah akan tercampur kembali di truk sampah.

  1. Sarana Tidak Memadai

Keterbatasan sarana pengelolaan sampah membuat berbagai program pemerintah seperti TPS-3R tidak berjalan dengan lancar.

  1. Terbatasnya Tenaga Ahli

Minimnya tenaga profesional di bidang sampah membuat pengelolaan sampah belum maksimal dan tepat.

 

Padahal Waste Segregation banyak manfaatnya, seperti...

  1. Menjaga lingkungan dan mengurangi pencemaran 

Pengelolaan sampah yang tepat dapat mengurangi intensitas gas rumah kaca seperti metana, karbon monoksida, yang dihasilkan timbunan sampah maupun pembakaran sampah. Alhasil lingkungan akan terjaga dari pencemaran dan polusi.

  1. Kompos Tanpa Biaya

Mengumpulkan sampah organik yang berasal dari sisa potongan dan kulit buah sayuran serta sampah dedaunan dapat kita kelola menjadi kompos. Alhasil kita dapat menyuburkan tanaman tanpa biaya.

  1. Menghemat energi bumi

Menerapkan pemilahan sampah dan daur ulang dapat menyelamatkan bumi. Salah satunya ialah penebangan pohon yang menurun karena adanya daur ulang kertas. 

  1. Menciptakan lapangan pekerjaan dan menambah penghasilan

Kita dapat mulai memilah sampah, dengan mengumpulkan botol dan kaleng bekas hingga limbah elektronik lalu menjualnya untuk menambah penghasilan. 

Di Amerika Serikat, tercatat sekira 3,1 juta penduduknya mendapatkan pekerjaan dari kegiatan pengelolaan sampah.



Kesimpulannya, pemilahan sampah sangat penting untuk dilakukan, dan akan semakin menguntungkan apabila dilakukan semakin dini. Masyarakat umum, atau kita secara individu, adalah orang pertama yang membuat sampah tersebut. Daripada melemparkan tanggung jawab memilah sampah kepada orang lain, ayo kita mulai lakukan sendiri. Kalau tidak mau repot memilah sampah plastik, kaca, kertas dan lain sebagainya, setidaknya ayo kita mulai dengan cara memisahkan sampah organik dan anorganik.



Be a part of the solution, not a part of the pollution!

 

Source:

Em Solutions; SIPSN; National Geographic; Bengaluru

 

 This article is written by E.J. Syamsy


Related Post