From Waste to Energy


From Waste to Energy image

Dilansir dari website PROKOPIM Kota Bandung, tepatnya pada 21 Februari 2005, terjadi ledakan dan longsor sampah di TPA di Leuwigajah, Cimahi, Jawa Barat yang menewaskan 157 korban jiwa. Kampung Cilimus dan Kampung Pojok yang berjarak satu kilometer dari TPA Leuwigajah, tersapu habis oleh longsoran sampah. Di TPA ini telah tertumpuk gundukan sampah setinggi 60 meter dengan panjang 200 meter. Karena hujan deras dan konsentrasi gas metana yang tinggi, terjadilah longsor dan ledakan. Berikut foto TPA Leuwigajah sebelum terjadinya ledakan.

TPA Leuwigajah sebelum tahun 2005 (Photo source: Humas Bandung)

  

Kenapa TPA Tiba-Tiba Bisa Meledak?

Penyebab utamanya? Yap, sampah organik. Melalui proses dekomposisi atau pembusukan, bakteri atau mikroorganisme mengurai sampah organik dan menghasilkan berbagai gas kimia. Gas yang dihasilkan di antaranya, 90-98% adalah metana dan karbon dioksida, dan sisanya 2-10% adalah nitrogen, oksigen, amonia, sulfida, hidrogen, dan lainnya. Pada suhu, kelembapan, hingga kadar air tertentu, jumlah gas ini dapat meningkat dan menimbulkan ledakan. 

 

To make things worse, metana adalah gas yang sangat mudah terbakar, di mana ledakan dapat terjadi apabila konsentrasi gas metana mencapai 5-15% dari total volume udara. Umumnya, produksi gas di TPA akan memuncak setelah 5-7 tahun. Namun, apabila dibiarkan TPA dapat terus menghasilkan gas selama lebih dari 50 tahun. Efek sampingnya?

 

Selain memperbesar kemungkinan terjadinya ledakan di TPA, Gas TPA sendiri dapat menyebar ke pemukiman hingga bangunan terdekat melalui udara dan tanah. Gas ini dapat memasuki saluran bawah tanah ataupun terbawa oleh angin menuju bangunan di sekitar TPA.  

 

Tentu hal ini sangat membahayakan. Tidak hanya berpotensi menimbulkan ledakan, gas ini juga sangat beracun. Dalam hal ini, penghirupnya dapat mengalami batuk, iritasi mata, hidung, tenggorokan, sakit kepala, mual, sulit tidur, nyeri dada, asma, kesulitan bernapas, hingga tidak sadarkan diri!

 

The Inventions For Solution

Kalau dipikirkan dengan seksama, TPA bisa dimanfaatkan sebagai sumber energi. Berkat perkembangan teknologi, sampah yang sudah terbuang dan tertumpuk di TPA dapat dikelola kembali menjadi suatu hal yang lebih bermanfaat.

 

Waste to Energy (WtE) merupakan proses mengubah bahan kimia yang dihasilkan sampah organik menjadi energi seperti listrik, panas, atau uap dengan menggunakan teknologi tertentu. Umumnya, sampah memiliki nilai kalor yang rendah, sehingga mengolahnya secara manual, seperti membakar sampah hanya dengan api tanpa menggunakan teknologi, tidak akan menghasilkan energi yang memadai. 

 

“Nilai kalor adalah jumlah energi yang dilepaskan ketika suatu bahan bakar dibakar secara sempurna”

 

Oleh karena itu, penggunaan teknologi sangat penting dalam keberhasilan pengelolaan sampah menjadi energi yang memadai. Berikut beberapa teknologi yang telah dikembangkan:

  1. Gasifikasi

Penelitian menemukan, gasifikasi tidak efisien untuk menghasilkan energi alternatif. Hal ini disebabkan karena metode ini dapat menghasilkan emisi sebagaimana pembakaran pada umumnya. Selain itu, metode ini juga membutuhkan banyak energi dan harus dibersihkan secara rutin.

 

Photo source: Waste to Energy International

 

  1. Gasifikasi Busur Plasma

Gasifikasi busur plasma hanya digunakan untuk mengolah limbah berbahaya dan radioaktif saja. Kekurangannya ialah membutuhkan biaya yang besar dan menghabiskan banyak energi. 

 



Photo source: Waste to Energy International

 

  1. Pirolisis

Pirolisis berasal dari Jerman dan telah banyak digunakan di berbagai negara di dunia. Metode ini memiliki banyak kelebihan, seperti tidak menghasilkan polutan, tetapi menghasilkan gas sintesis dan nilai kalor yang tinggi. Secara ekologis, pirolisis menjadi metode dengan teknologi yang paling bersih. Bahkan, pirolisis telah dipasarkan di seluruh dunia, termasuk Eropa.

Photo source: Waste to Energy International



Beberapa negara yang sudah menerapkan WtE, di antaranya:

 

1. China memiliki 28 pabrik insinerasi Circulating Fluidized Bed (CFB) yang dibangun tahun 2012. Pabrik ini dapat menangani 800 ton sampah perhari, di mana menjadi fasilitas WtE terbesar di dunia.

2. Abu Dhabi dan Sharjah mengeluarkan dana sebesar 8,2 miliar USD untuk pembangunan pabrik pengolah limbah dengan metode gasifikasi dan pirolisis.

3. Italia membangun insinerator yang dapat mengelola 650.000 ton sampah per tahun.

4. Swedia dan Denmark menggunakan teknologi pembangkit Combined Heat and Power (CHP) yang menghasilkan 100kW energi.

5. Jerman memiliki pabrik Refuse Derived Fuel (RDF), bahkan Jerman mengimpor sampah negara tetangga.

6. Inggris tepatnya di Manchester, terdapat pabrik gasifikasi Energos yang mengolah Municipal Solid Waste (MSW) atau limbah padat kota, limbah industri, dan limbah komersial dengan kapasitas mencapai 78.000 ton/tahun.

7. Turki memiliki pembangkit energi dengan mengolah biomassa yang menghasilkan 300 KWth dan 50 KWe. Pembangkit ini menggunakan gasifikasi dan pirolisis.

8. Amerika Serikat memiliki pabrik utilitas WtE yang menerapkan sistem gasifikasi, yang mampu mengolah 200 pon sampah kering menjadi energi IST perjamnya. Pabrik ini bernama Novo Energy dan terletak di empat negara bagian. 

9. Jepang memiliki teknologi instalasi pengolahan termal paling modern dengan kapasitas mencapai 39 juta ton sampah per tahun.

10. Kanada memiliki pabrik berteknologi insinerasi tertua. Kini pabrik ini dikembangkan untuk menggunakan metode gasifikasi plasma dari Plasma Energy Group dan Nevitus Plasma Inc.

11.  Australia tepatnya di Kwinana, terdapat pabrik gasifikasi plasma yang dimiliki Phoenix Energy Australia Pty Ltd. 

12.  India memiliki 14 pabrik, tetapi hanya 4 pabrik yang beroperasi, yakni Jindal Ecopolis Management Company PVT Ltd, Organic Waste Recycling Systems PVT, Rochem and Shalivahana Green Energy Ltd.

 

Beberapa tahun mendatang, akan ada teknologi WtE terbaru yakni Hydrothermal Carbonisation (HTC), yang mampu mempercepat proses konversi panas bumi dari limbah basah dengan katalis asam pada tekanan tinggi dan panas tertentu. Selain itu, terdapat pula Dendro Liquid Energy (DLE) yang berasal dari Jerman, di mana hampir mampu menerapkan zero waste

 

How About Indonesia?

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sedang membangun Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) atau Pengolah Sampah jadi Energi Listrik (PSEL). Proyek ini dikerjakan sejak tahun 2019 dan diharapkan selesai tahun 2022. 

Photo Source: Website PLN

 

Proyek PLTSa tersebar di 12 kota di Indonesia. Di antaranya Palembang, Jakarta, Tangerang, Tangerang Selatan, Bekasi, Bandung, Solo, Semarang, Surabaya, Denpasar, Makassar, dan Manado. 

 

PLTSa menggunakan teknologi termal yang dipilih berdasarkan Best Available Technology Meet Actual Needs. Di mana sebagian besar alatnya dikembangkan di dalam negeri dengan kapasitas pengolahan sampah mencapai 100 ton/hari dan menghasilkan listrik 700 kWh.

 

Pada April 2021 lalu, Presiden Joko Widodo telah meresmikan PLTSa Surabaya, di mana sekaligus menjadi kota pertama yang akan mengoperasikan WtE. PLTSa ini berdaya 10 MW dengan kapasitas 1.500 ton/hari dengan nilai investasi berkisar 49,86 juta US Dollar.

 

Selanjutnya, PLTSa di Bekasi berdaya 9 MW yang bernilai investasi 120 juta US Dollar. Lalu, PLTSa Solo yang bedaya 10 MW, PLTSa Palembang 20 MW, dan PLTSa Denpasar 20 MW. Ketiga kota ini bernilai investasi 297,82 juta US Dollar dengan kapasitas 2.800 ton/hari. PLTSa Jakarta 38 MW bernilai 345,8 juta US Dollar, PLTSa Bandung 29 MW bernilai 245 juta US Dollar, lalu Makassar, Manado, dan Tangerang yang masing-masing berdaya 20 MW dan bernilai 120 juta US Dollar.

 

Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI) sempat mengkritisi pembangunan PLTSa karena dianggap meningkatkan risiko kerusakan lingkungan dan ekonomi. Sebab dengan adanya PLTSa, upaya pengurangan dan pemilahan sampah menjadi tidak maksimal serta biaya yang dikeluarkan cukup besar. Tindakan pencegahan timbunan sampah menjadi lengah, karena anggapan semua sampah dapat dikelola oleh PLTSa.

 

Nyatanya, Bali sudah pernah mencoba proyek WtE tapi gagal. Sejak 2007, Pemerintah Bali telah menjalin kerja sama dengan PT. Navigat Organic Energy Indonesia (NOEI) untuk menangani pengelolaan sampah. Di mana, Badan Pengelola Kebersihan Wilayah Sarbagita sempat menjamin semua sampah akan terkelola pada tahun 2012. Akan tetapi, hingga kini sampah masih menggunung dan PLTSa belum terlaksana di TPA Suwung, padahal proyek ini ditargetkan sudah dapat beroperasi di tahun 2020. 

 

Sebab ketidakberhasilan investor dalam mengolah sampah menjadi listrik, maka kontrak diakhiri. Hal ini menjadi salah satu bukti bahwa teknologi yang dimiliki Indonesia dinilai belum mampu untuk menerapkan from waste to energy. Tidak sampai di situ, bahkan banyak aktivis lingkungan yang meragukan kesiapan Indonesia dalam mengembangkan PLTSa.

 

Source:

Avada Environmental; Prescouter; Waste to Energy International; Energy Saving Trust; Mongabay; Department of Health New York State; Direktorat Inventarisasi Gas Rumah Kaca dan Monitoring Pelaporan dan Verifikasi Direktorat Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan; Protokol dan Komunikasi Pimpinan Sekretariat Kota Bandung

 

This article is written by E.J. Syamsy


Related Post