FAIR TRADE: LEBIH DARI SEKEDAR PERDAGANGAN ‘YANG’ ADIL


FAIR TRADE: LEBIH DARI SEKEDAR PERDAGANGAN ‘YANG’ ADIL image

PERNAH DENGAR TENTANG FAIR TRADE?

Fair trade atau perdagangan adil merupakan sistem perdagangan yang mewajibkan perusahaan membayar harga yang pantas untuk petani dan pekerja di negara berkembang, yang mana tidak boleh jatuh jauh di bawah harga pasar. Fair trade ada untuk mengatasi ketidakadilan perdagangan konvensional yang mendiskriminasi produsen dari negara-negara berpenghasilan rendah, sehingga fair trade memungkinkan para produsen untuk memperbaiki kehidupan mereka dengan memberikan kontrol penuh dalam kegiatan perdagangan.

 

Fair trade berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan atau sustainable development dengan menawarkan persyaratan perdagangan yang lebih baik serta menjamin hak-hak dari para produsen dan pekerja yang terpinggirkan. Bukan perdagangan biasa, visi fair trade adalah mengutamakan manusia dan planet di atas keuntungan, berjuang melawan kemiskinan, perubahan iklim, ketidaksetaraan dan ketidakadilan gender, serta sebagai bukti penerapan konsep ekonomi baru. 

 

Ilustrasi bertani. (Sumber: pexels.com/@quang-nguyen-vinh-222549) 

FAIR TRADE PUNYA STANDAR SERTIFIKASI, TUJUANNYA?

 

Ilustrasi produk sertifikasi fair trade. (Sumber: fruitnet.com)

 

Pada dasarnya standar fair trade mencakup beberapa hal di bawah ini:

 

  • Pekerja menerima upah minimum sesuai ketentuan fair trade

  • Kelestarian lingkungan ditegakkan

  • Kondisi kerja yang aman disediakan

  • Tidak ada pekerja paksa atau pekerja anak

  • Premi, atau Fairtrade Premium harus dibayarkan kepada produsen berdasarkan produk yang mereka buat

  • Premi selanjutnya masuk ke dana komunal atau dana umum, yang digunakan untuk proyek pembangunan produsen

  • Proses rangkaian pasokan transparan kepada konsumen

 

Jika standar fair trade sudah terpenuhi, maka produsen dan perusahaan yang terlibat akan mendapatkan sertifikasi dari organisasi atau badan sertifikasi fair trade, yang ditujukan sebagai jaminan bagi konsumen bahwa produk yang mereka beli telah memenuhi standar fair trade yang berlaku secara internasional. 

 

Lalu, untuk apa sih standar-standar tersebut dibuat? Selain agar para produsen dan pekerja dapat mengembangkan aspek keberlanjutan, kelestarian, sosial, dan ekonomi di organisasi mereka, tujuan utama dari standar fair trade adalah sebagai berikut:

  • Menjamin bahwa produsen menerima harga yang dapat menutup biaya rata-rata produksi berkelanjutan mereka

  • Memberikan Fairtrade Premium sebagai tambahan upah kepada produsen yang kemudian dapat diinvestasikan dalam proyek pembangunan sosial, ekonomi, dan lingkungan

  • Memungkinkan pemberian modal awal bagi produsen yang membutuhkan

  • Memfasilitasi kemitraan perdagangan jangka panjang dan memungkinkan produsen mendapatkan kontrol lebih besar dalam proses perdagangan

  • Menetapkan kriteria inti dan kriteria pengembangan yang jelas untuk memastikan kondisi produksi dan perdagangan dari semua produk bersertifikat Fairtrade adil secara sosial dan ekonomi serta bertanggung jawab terhadap lingkungan

 

FAIR TRADE SAMA-SAMA MENGUNTUNGKAN PRODUSEN & KONSUMEN, LHO!

 

Ilustrasi fair trade. (Photo by Madison Inouye from Pexels)

 

Nah, tidak hanya produsen saja yang diuntungkan dari adanya fair trade ini. Sebagai konsumen, fair trade juga sama menguntungkannya karena selain membantu petani mendapatkan kehidupan yang lebih baik, peran konsumen krusial untuk mendukung siklus fair trade memberikan dampak yang signifikan terhadap sektor sosial, ekonomi, dan lingkungan.

 

Konsumen yang membeli produk fair trade akan diuntungkan dari hal-hal berikut ini:

  • Kualitas produk terjamin 

Sertifikasi fair trade mewajibkan para petani dan pekerja menerapkan praktik produksi yang ramah lingkungan. Maka dari itu, penggunaan bahan kimia berbahaya seperti pestisida dibatasi dan digantikan dengan pestisida organik, lalu penggunaan organisme hasil rekayasa genetika atau Genetically Modified Organism (GMO) dilarang sepenuhnya. Sumber daya produksi seperti air, tanah, energi, maupun limbah produksi, ditangani dengan pengelolaan yang tepat. Itulah mengapa produk fair trade tidak perlu diragukan lagi kualitasnya.

  • Standard Operating Procedure (SOP) yang terstruktur

Produsen yang ingin menerapkan standar fair trade harus memiliki struktur organisasi yang sesuai untuk menawarkan produk mereka ke pasaran. Mereka harus melalui proses pengambilan keputusan yang demokratis dan organisasi harus transparan dan inklusif. Petani dan pekerja harus mendapatkan jaminan atas keamanan dan hak sosial mereka. Fair trade mewajibkan para pekerja dan petani mendapatkan pelatihan, praktik ketenagakerjaan yang tidak diskriminatif, bebas dari pekerja anak dan kerja paksa, serta menjamin kondisi kesehatan dan keselamatan petani dan pekerja. Adanya SOP tersebut tentu memberikan rasa aman bagi konsumen.

  • Tidak ada perbedaan harga

Biasanya, pekerja dan petani mendapatkan upah yang sedikit karena terpotong oleh supply chain yang panjang. Perumpamaannya, sebuah produk non-fair trade seharga Rp 100.000 hanya akan menguntungkan pekerja dan petani sebanyak Rp 20.000 karena sisanya masuk ke perusahaan. Namun, supply chain fair trade yang terdistribusi langsung ke konsumen memungkinkan produk fair trade seharga Rp 100.000 sama-sama menguntungkan petani dan perusahaan dengan masing-masing menerima Rp 50.000. Pada akhirnya, konsumen tidak rugi apapun dan malah membantu petani & pekerja mendapatkan bayaran yang lebih adil.

  • Berkontribusi dalam membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat lokal

Tingginya permintaan produk fair trade membuat kebutuhan tenaga kerja meningkat sehingga konsumen berkontribusi dalam membuka ladang pemasukan bagi masyarakat setempat, terutama bagi ibu rumah tangga. Ini juga berkaitan dengan SOP fair trade yang mengutamakan proses produksi ramah lingkungan sehingga butuh banyak kerja sama antar komunitas lokal untuk menjadi penanggung jawab di tiap tahap proses produksi seperti misalnya penanaman, pemeliharaan, pengemasan, dan masih banyak lagi. 

  • Berinvestasi dalam pembangunan komunitas

Adanya standar fair trade mengharuskan konsumen yang membeli dari produsen harus menginvestasikan sejumlah kecil uangnya dalam komunitas lokal melalui Fairtrade Premium. Investasi tersebut nantinya akan dikembalikan untuk perkembangan komunitas, seperti misalnya pembangunan fasilitas kesehatan untuk masyarakat sekitar, pelatihan untuk praktik bertani ramah lingkungan, program pendidikan, dan masih banyak lagi. Implementasi hasil investasi untuk komunitas tersebut akan memperkuat pembangunan komunitas sehingga membantu produsen menghasilkan produk yang lebih berkualitas. Intinya, investasi yang konsumen lakukan juga akan menguntungkan mereka nantinya.

 

KETIARA, PERUSAHAAN KOPI FAIR TRADE YANG MEMBERDAYAKAN WANITA GAYO

 

Ilustrasi Ketiara Group sedang memilah biji kopi. (Sumber: ketiara.com)

 

Ketiara Group didirikan pada tahun 2009 oleh Ibu Rahmah dan pada awalnya terdiri dari 37 pedagang dan petani kopi. Lalu, setelah mendapatkan sertifikasi Fairtrade pada tahun 2011, Ketiara melakukan restrukturisasi penuh menjadi 100% organisasi petani kecil dengan total anggota sejauh ini mencapai lebih dari 1.979 petani. Pasar Ketiara sudah meluas secara internasional sampai ke Amerika Serikat, Eropa, Jepang, Australia, dan Asia. Jenis kopi yang dijual untuk pasar internasional adalah Arabica Green Bean Grade 1, sedangkan untuk pasar lokal Ketiara menjual kopi konvensional dan Luwak. Kopi-kopi tersebut 100% asli dari Gayo, Sumatera.  

 

Ilustrasi produk dari biji kopi Ketiara dengan logo fair trade. (Sumber: instagram.com/ketiaracoffee)

 

Setelah ditetapkan sebagai ketua dari Ketiara Group, Ibu Rahmah kemudian mendaftarkan Ketiara untuk sertifikasi Fair Trade agar para petani dapat menerima harga premium untuk kopi mereka. Atas bimbingan Ibu Rahmah pula para petani di Ketiara memilih untuk menginvestasikan premi tersebut agar mendapatkan layanan kesehatan, pendidikan, serta infrastruktur yang lebih baik demi masyarakat dan juga peningkatan jangka panjang untuk pertanian mereka di masa mendatang.

 

Di Ketiara, 40% dari keseluruhan petani kecil adalah wanita. Ini merupakan usaha Ibu Rahmah untuk memberdayakan para wanita di Gayo, yang merupakan daerah di mana para istri harus bertanya kepada suaminya untuk keputusan finansial. Ibu Rahmah berniat mengubah kondisi patriarki ini dengan mengajak para wanita Gayo sukses bersama sebagai petani kopi. Mengutip dari Fairtrade NAPP, Ibu Rahmah menceritakan tentang salah satu petani wanita di Ketiara bernama Sukarmi Ningsih yang merupakan contoh sukses pemberdayaan wanita Gayo sebagai petani kopi. 



Ilustrasi Ibu Sukarmi Ningsih. (Sumber: fairtradenapp.org)

 

Selain sebagai petani, Ibu Sukarmi merupakan pedagang kopi yang membeli dan memasarkan hasil panen lebih dari 80 keluarga petani kopi di Desa Jamur Uluh, Gayo, Aceh Tengah. Hubungan Ibu Sukarmi – sebagai pedagang – dengan 80 keluarga petani tidak terbatas pada hubungan komersial seperti transaksi ekonomi. Banyak petani yang tidak ingin langsung dibayar penuh, melainkan memilih menyimpannya kepada Ibu Sukarmi untuk dipakai ketika ada kebutuhan darurat. Ibu Sukarmi membantu para petani sampai terkadang harus mengeluarkan dana ekstra dalam urgensi seperti biaya sekolah, keluarga sakit, atau pernikahan. Hubungan Ibu Sukarmi dengan para petani kopi merupakan gambaran dari peran pedagang dalam siklus fair trade yang bukan terbatas pada transaksi jual beli semata, melainkan harus memegang peranan penting dalam bentuk mengelola relasi sosial dengan petani kopi sebagai produsen.

 

Kisah Ibu Rahmah dan Ibu Sukarmi sebagai petani kopi merupakan contoh nyata implementasi fair trade yang berdampak signifikan terutama bagi masyarakat setempat. Selain menjadikan kehidupan masyarakat Gayo jauh lebih baik, satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah ada peran wanita yang tekadnya besar di belakang semua itu. Semoga bisa menjadi inspirasi, ya!

 

This article is written by Amalia Diva

References:

  1. https://wfto.com/who-we-are#definition-of-fair-trade

  2. https://www.fairtrade.org.uk/what-is-fairtrade/

  3. https://www.fairtrade.net/standard/aims

  4. https://www.gallantintl.com/what-is-fair-trade-in-detail

  5. https://www.fairtradenapp.org/coffee-and-women-of-gayo-in-the-culture-of-patriarchy-by-ms-ibu-rahmah-ketiara-group/#comments

  6. https://rootcapital.org/meet-our-clients/stories/ketiara-advancing-womens-inclusion-in-indonesia/ 

  7. https://www.trvst.world/equality-diversity/choose-to-buy-fairtrade/ 


Related Post