GRAY WATER: BAGAIMANA CARA MENGELOLANYA?


GRAY WATER: BAGAIMANA CARA MENGELOLANYA? image

APA SAJA YANG DIMAKSUD DENGAN GRAY WATER?

Air abu-abu, yang merupakan arti harfiah dari gray water ternyata memang menggambarkan definisi dari gray water itu sendiri, lho. Gray water atau bisa kita sebut sebagai limbah cair merupakan air buangan hasil dari aktivitas manusia sehari-hari seperti aktivitas rumah tangga, industri, perkantoran, serta perdagangan. Air buangan tersebut umumnya berasal dari kamar mandi, dapur, dan juga mesin cuci. Namun, khusus untuk air buangan dari kamar mandi adalah air buangan yang belum terkontaminasi oleh limbah toilet, ya. Limbah toilet masuk dalam kategori black water yang mengandung bakteri pembawa penyakit, berbeda dengan gray water yang level kontaminasinya lebih rendah sehingga lebih mudah untuk dikelola daripada black water.

Ilustrasi mencuci piring. (Photo by Sarah Chai from Pexels

KOK GRAY WATER DIKELOLA? ITU KAN AIR KOTOR...

Jangan pandang sebelah mata gray water! Meskipun air buangan, gray water dapat membantu kita menghemat air untuk melestarikan alam, lho. Kok bisa? 

Aktivitas rumah tangga menghasilkan gray water sebanyak kurang lebih 50% hingga 80%, yang membuat gray water menjadi penghasil limbah air rumah tangga terbesar. Jumlah limbah air sebanyak itu jika dilepas langsung ke sungai, danau, atau laut, akan menyebabkan polusi yang berbahaya bukan hanya untuk ekosistem alam, namun juga bagi kesehatan kita sebagai manusia karena sumber air sehari-hari kita tercemar. Itulah mengapa gray water perlu dikelola dengan cara yang tepat agar bisa digunakan kembali untuk memenuhi kebutuhan air non-minum, seperti untuk irigasi lahan pertanian, menyiram bunga di kebun, pembilasan toilet, mencuci pakaian kotor, dan masih banyak lagi. 

Selain itu, kelangkaan air bersih dan kekeringan di banyak tempat juga jadi dorongan kuat agar kita mulai memanfaatkan gray water. Penggunaan kembali gray water bagi negara-negara yang kekurangan air seperti wilayah Afrika dan Timur Tengah adalah aksi penting yang sangat membantu dalam menambah cadangan air nasional. Itulah mengapa, penggunaan kembali gray water perlu direalisasikan secara menyeluruh karena itu merupakan langkah tepat untuk meningkatkan kesadaran kita akan kelestarian lingkungan, terutama kelestarian sumber air. Kita tidak dapat hidup tanpa air, bukan?

Ilustrasi Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL). (ANTARA FOTO/Novrian Arbi)

SEDERET MANFAAT PENGGUNAAN KEMBALI GRAY WATER

Umumnya, penggunaan kembali gray water yang sudah diolah dengan tepat akan membantu kita dalam hal-hal berikut ini: 

  • Gray water yang tidak dikelola akan berakhir di septic tank, selokan, bahkan sampai mencemari sumber air seperti danau, sungai, juga laut. Penggunaan kembali gray water akan mengurangi dan menghindari polusi tersebut, sehingga sumber air bersih kita terjaga.

  • Penggunaan kembali gray water akan membantu menghemat konsumsi air bersih. Gray water yang sudah dikelola dengan baik dapat digunakan sebagai pengganti air bersih untuk kehidupan sehari-hari. Pertama, untuk menyirami tanaman di kebun, seperti pohon buah, tanaman hias, sayuran, umbi-umbian, dan rumput. Mengutip dari Garden Myths, gray water mengandung bahan organik yang akan menghasilkan nutrisi baik bagi tanaman seperti nitrogen, belerang, kalsium, magnesium, besi, dll. Gray water mengandung fosfor dan kalium dari sabun yang membantu pertumbuhan tanaman. Kedua, gray water dapat digunakan untuk menyiram toilet, mencuci pakaian kotor, dan juga mencuci kendaraan. Coba bayangkan berapa banyak air bersih yang digunakan untuk hal-hal tersebut?

  • Mengolah dan menggunakan kembali gray water akan meningkatkan efisiensi penggunaan air. Gray water yang tidak diolah kembali akan menyebabkan pemborosan air. Gray water seperti air bekas cucian baju bisa digunakan kembali untuk menyiram tanaman, misalnya. “Tapi, bukannya air bekas cucian baju mengandung mikroplastik yang berbahaya?” Nah, Garden Myths menyebutkan bahwa mikroplastik justru tidak disaring dengan baik di saluran pembuangan air dan akan berakhir di sungai dan laut, yang mana lebih berbahaya daripada saat dimanfaatkan kembali untuk mengairi tanaman. Mikroplastik hancur secara perlahan di tanah dan tidak akan terserap oleh tumbuhan.

  • Penggunaan kembali gray water akan mengurangi emisi gas rumah kaca. Kebutuhan air bersih yang berkurang karena penggunaan kembali gray water akan menghemat pemakaian energi saat memompa air ke dalam rumah. Itu berarti pemakaian listrik berkurang, sehingga dapat menghemat bahan bakar fosil dan membantu penurunan emisi gas rumah kaca.

  • Penggunaan kembali gray water untuk menyiram tanaman akan menurunkan jumlah pemakaian bahan kimia seperti pestisida karena gray water mengandung nutrisi yang dapat membantu pertumbuhan tanaman. Selain efisien, cara ini juga dapat menjaga kelestarian lingkungan.

JADI, GIMANA SIH CARA MENGOLAH GRAY WATER?

Perlu diketahui sebelumnya bahwa dalam proses pengelolaannya, gray water di Indonesia tidak dipisah untuk dikelola sendiri, namun digabungkan dengan black water―limbah dari toilet―yang kemudian dikenal sebagai air limbah domestik.

Di Indonesia, gray water memiliki sistem pengelolaan air limbah yang terbagi menjadi dua―berdasarkan Permen PUPR No.4 Tahun 2017―yaitu Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik Setempat (SPALD-S) dan Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik Terpusat (SPALD-T). Air limbah domestik yang sudah terkumpul melalui kedua sistem tersebut kemudian disalurkan ke Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dan Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT).

Di bawah ini adalah ilustrasi dari sistem pengelolaan gray water di Indonesia.

Pertama, kita bahas SPALD-S atau sistem pengelolaan air limbah setempat dulu, yuk! Jadi, SPALD-S merupakan sistem pengelolaan air limbah domestik yang dilakukan dengan mengumpulkan air limbah di lokasi sumber untuk kemudian dikelola di IPLT atau Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja. Ada dua jenis SPALD-S berdasarkan skala cakupannya, yaitu Skala Individual (1 unit rumah) dan Skala Komunal (2-10 rumah). 

Infografis tentang alur pengelolaan SPALD-S di bawah ini akan memudahkan kamu memahaminya.

Sumber: Nawais.org

Lalu, mari lanjut ke SPALD-T atau sistem pengelolaan air limbah terpusat. SPALD-T ini mengelola air limbah domestik secara kolektif ke IPAL atau Instalasi Pengolahan Air Limbah. Jenis SPALD-T berdasarkan skala cakupannya ada tiga, yaitu Skala Perkotaan, Skala Permukiman, dan Skala Kawasan Tertentu. Gray water yang dikelola dengan sistem terpusat ini memiliki proses yang lebih terkendali karena sarananya lebih lengkap, mulai dari pipa non tinja hingga bak penangkap lemak dan minyak dari saluran limbah dapur.

Simak lebih lanjut mengenai sistem pengelolaan air limbah terpusat atau SPALD-T lewat infografis di bawah ini, ya!

Sumber: Nawais.org




Earthlings, kalian sudah tahu belum kalau saat ini pemerintah sedang melaksanakan proyek peningkatan pelayanan air limbah domestik di empat kota besar Indonesia? Proyek tersebut bernama Metropolitan Sanitation Management Investment Project (MSMIP), yang mencakup kota Jambi, Makassar, Palembang, dan Pekanbaru. Empat kota tersebut nantinya akan disediakan sarana pengelolaan air limbah terpusat atau SPAL-T dan juga Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) domestik yang berlokasi di kawasan bisnis terpusat kota-kota tersebut. Harapannya, proyek ini dapat mengurangi pencemaran badan air yang disebabkan oleh pembuangan limbah air domestik secara langsung ke lingkungan. Wah, semoga berjalan lancar dan efektif, ya!

References:

https://greencoast.org/what-is-greywater/ 

https://www.universaleco.id/pengolahan-limbah-cair-sumber-pengertian 

https://www.ecomena.org/reuse-of-greywater/ 

https://www.gardenmyths.com/gray-water-safe-garden/ 

https://www.conserve-energy-future.com/ways-and-benefits-of-using-greywater.php 

http://sim.ciptakarya.pu.go.id/msmip/profil/tentang-kami


This article is written by Amalia Diva 


Related Post