INDUSTRIAL AGRICULTURE, UNTUNG ATAU BUNTUNG?


INDUSTRIAL AGRICULTURE, UNTUNG ATAU BUNTUNG? image

INDUSTRIAL AGRICULTURE ITU APA, SIH?

Industrial agriculture, atau pertanian intensif merupakan produksi tanaman dan hewan, yang umumnya untuk konsumsi manusia, secara intensif dan besar-besaran dengan melibatkan penggunaan bahan kimia seperti pupuk sintetis dan antibiotik agar memaksimalkan proses produksi dan meminimalkan biaya produksi sehingga mendapatkan keuntungan yang besar.

Industrial agriculture juga melibatkan modifikasi genetik terhadap tanaman, penggunaan pestisida yang berlebihan, eksploitasi lahan, dan bahkan eksploitasi hewan. 

Ilustrasi industrial agriculture. (Sumber: fwi.co.uk

AGAR LEBIH PAHAM, SIMAK CIRI-CIRI INDUSTRIAL AGRICULTURE INI!

Dalam praktiknya, industrial agriculture ditandai dengan hal-hal berikut:

  • Spesialisasi jenis produk

Industrial agriculture hanya fokus pada produksi dan pengelolaan satu jenis tanaman atau hewan. Suatu lahan digunakan berkali-kali untuk menanam jenis tanaman yang sama bertahun-tahun tanpa memperhatikan dampak yang ditimbulkan terhadap kualitas tanah. Lalu, hewan ternak dipelihara di lahan yang kecil dengan pola makan tidak wajar dan seringkali tidak diberi akses keluar kandang. 

  • Penggunaan skala besar pestisida dan pupuk 

Untuk membuat hasil panen melimpah, praktik industrial agriculture menggunakan pestisida dan pupuk dalam skala besar. Degradasi tanah akibat menanam jenis tanaman yang sama di suatu lahan secara terus menerus juga meningkatkan kebutuhan penggunaan pupuk. Organisasi Pangan dan Pertanian PBB menyebutkan bahwa permintaan untuk tiga jenis pupuk paling umum yaitu kalium, fosfor, dan nitrogen, diperkirakan akan meningkat hingga 200.000 ton pada tahun ini.

  • Konsolidasi pertanian

Pada tahun 1950 hingga tahun 1997, ukuran lahan pertanian di Amerika diperluas hingga dua kali lipat, sedangkan jumlah lahannya dikurangi. Ini merupakan tanda peralihan, di mana lahan pertanian kecil dengan berbagai jenis tanaman kemudian berada di bawah kuasa perusahaan yang mengontrol sebagian besar lahan pertanian.

  • Melibatkan mesin untuk produksi

Spesialisasi yang sudah dibahas sebelumnya kemudian mengharuskan petani yang terlibat dalam industrial agriculture melakukan aktivitas yang sama terus menerus untuk waktu yang lama di bidang lahan pertanian yang luas. Itulah mengapa penggunaan mesin menjadi pilihan agar pekerjaan efisien.

PERKEMBANGAN INDUSTRIAL AGRICULTURE DARI DULU HINGGA KINI

Sebelum bahas lebih lanjut tentang industrial agriculture, kita bahas dulu secara singkat bagaimana perkembangannya dari abad-abad yang lalu hingga kenyataannya di masa kini, yuk! Jadi, industrial agriculture yang akan kita bahas lebih lanjut setelah ini adalah hasil dari kemajuan teknologi dan penjajahan selama berabad-abad di Amerika. Tiap abad memiliki cirinya masing-masing. Mari ulik satu per satu di bawah ini:

  • Abad ke-16

Di Amerika, abad ke-16 adalah saat perekonomian negara bergantung pada peternakan. Hal tersebut merupakan akibat dari pengaruh para penjajah yang memasuki Amerika dengan memperkenalkan hewan ternak untuk dikonsumsi. Meningkatnya kebutuhan membangun peternakan akhirnya ikut menambah tuntutan lahan yang luas.

  • Abad ke-17

Nah, di abad ini terjadi Revolusi Pertanian Inggris yang menghasilkan metode bertani baru bernama sistem rotasi tanaman. Sistem ini meningkatkan produktivitas pertanian sehingga dapat menambah jumlah pakan ternak.

  • Abad ke-18

Pada abad ini terjadi Revolusi Industri yang menciptakan selective breeding atau pembiakan selektif, yaitu metode untuk menambah ukuran hewan menjadi lebih besar  serta meningkatkan produktivitasnya.

  • Abad ke-20

Sebuah obat bernama prontosil dipasarkan di Inggris untuk digunakan pada hewan dan berlangsung dari tahun 1938. Perkembangan antibiotik di Amerika kemudian semakin meningkat dengan terjalinnya hubungan antara perusahaan farmasi dan perusahaan makanan. Kemudian, terciptalah sulfaquinoxaline sebagai antibiotik pertama yang disetujui untuk dimasukkan dalam pakan unggas. Pada awal tahun 1950-an, penggunaan antibiotik tersebut meluas hingga ke Eropa, namun lebih terkontrol karena tidak dijual terpisah dan hanya bisa dibeli dalam bentuk campuran pakan-antibiotik.

Lalu, di tahun 1970-an, praktik industrial agriculture mulai didukung secara terbuka oleh Sekretaris Pertanian pada saat itu, yakni Earl Butz. Kebijakannya membuat para petani meningkatkan produksi karena harga yang naik di pasaran. Namun, hal itu tak berlangsung lama. Di tahun 1980an, produksi berlebihan membuat harga turun drastis sehingga ribuan petani bangkrut dan berakhir diakuisisi oleh perusahaan pertanian besar.

  • Abad ke-21; masa kini

Saat ini, sebagian besar makanan diproduksi oleh perusahaan besar yang menerapkan praktik industrial agriculture sebagai usaha untuk meningkatkan produksi dengan resiko yang signifikan bagi lingkungan, manusia, serta hewan.

JADI, INDUSTRIAL AGRICULTURE INI SEBENARNYA UNTUNG ATAU BUNTUNG? 

Ilustrasi monokultur jagung. (Sumber: dailykos.com

Sampai sini, kira-kira sudah bisa menyimpulkan belum apakah industrial agriculture ini menguntungkan atau malah merugikan? Sepertinya masih bingung, bukan? Jadi, praktik industrial agriculture ternyata mempunyai konsekuensi yang memberikan dampak buruk pada lingkungan, kesehatan manusia, dan juga kesejahteraan hewan. Wah, terdengar seram, ya? Kok sampai sebegitunya? Cari jawabannya di bawah ini!

  • CAFO: Concentrated Animal Feeding Operation

Ilustrasi hewan ternak di fasilitas CAFO. (Sumber: foodanimalconcernstrust.org

Spesialisasi jenis produk berupa hewan ternak bisa kita sebut dengan CAFO. Fasilitas CAFO mementingkan hasil produksi dan keuntungan ekonomi daripada kesejahteraan hewan ternak. Hewan yang dipelihara dalam fasilitas CAFO kemungkinan besar terkait dengan animal cruelty. Dipelihara dalam jumlah yang sangat banyak, mereka dikurung selama lebih dari 45 hari per tahun dan bukannya dibiarkan merumput atau makan di luar kandang, hewan-hewan tersebut mendapatkan makanannya di dalam kandang.

Sebagai gambaran, sebuah CAFO yang sangat besar biasanya memelihara paling sedikit 1.000 sapi potong, 700 sapi perah, 2.500 babi ukuran besar, atau 82.000 ayam petelur, di satu lahan—terlepas dari ukuran lahan yang memadai atau tidak. Membayangkannya saja sudah membuat kita merasa sesak, bagaimana dengan hewan-hewan tersebut, ya? 

Kemudian, praktik ini memperlakukan hewan semena-mena. Contohnya, ayam-ayam petelur yang dikurung dalam kandang tidak bisa berdiri atau bahkan sekedar berbalik saking sempitnya ruang di kandang, yang otomatis membuat mereka membuang kotoran di tempatnya masing-masing sehingga mereka menderita borok kaki dan luka bakar. Lalu, kondisi tersebut menyebabkan stres yang membuat mereka saling mematuk dan mencabut bulu satu sama lain, sehingga paruhnya dipotong saat ayam masih kecil agar perilaku itu tidak terulang. Miris, ya! 

  • Monokultur 

Ilustrasi monokultur. (Sumber: eos.com

Monokultur adalah penanaman satu jenis tumbuhan di satu lahan yang sama selama bertahun-tahun. Singkatnya, monokultur adalah CAFO versi tumbuhan. Praktik monokultur sangat buruk untuk kesehatan tanah karena dapat menghabiskan nutrisi di dalam tanah hingga kemudian membuat para petani memberikan pupuk sintetis dalam jumlah besar—yang mana juga dapat memperburuk kesehatan tanah dalam jangka panjang. Kemudian, monokultur membuat tanah rentan terhadap erosi karena tanah menjadi gundul di luar musim tanam. Selain itu, praktik monokultur menanam tumbuhan yang sama secara berulang akan mengundang hama untuk menunggu tumbuhan tersebut kembali tumbuh di titik yang sama.

  • GMO: Genetically Modified Organism

Ilustrasi buah organik dan buah hasil GMO. (Sumber: homeremedies.org

Akrab kita kenal sebagai rekayasa genetika, industrial agriculture menggunakan GMO dengan memasukkan gen ke dalam hewan atau tumbuhan untuk mencapai tujuan tertentu. Gen yang digunakan tidak  harus dari tanaman, bisa dari jamur, bakteri, atau hewan. Umumnya, GMO digunakan pada jagung atau kedelai untuk membuat mereka tahan paparan herbisida—bahan kimia untuk memberantas gulma. Namun, strategi ini rupanya membuat gulma tahan terhadap herbisida sehingga mendorong petani memberikan dosis lebih banyak, yang mana berdampak buruk pada lingkungan, terutama pada kualitas tanah. 

  • Resiko racun pestisida

Ilustrasi penggunaan pestisida. (Sumber: panna.org

Nah, poin sebelumnya berhubungan dengan poin ini, di mana para petani yang menggunakan pestisida, bahkan dalam jumlah yang banyak, beresiko terkena masalah kesehatan seperti ruam, iritasi, sakit kepala, koma, bahkan sampai menyebabkan kematian. Resiko kesehatan ini terjadi akibat mereka terpapar oleh pestisida dalam kurun waktu yang tidak sebentar dengan frekuensi yang cukup sering.  

 

  • Resistensi antibiotik

Ilustrasi penyebaran bakteri dari resistensi antibiotik. (Sumber: fairfarmsnow.org

Hewan ternak dalam praktik industrial agriculture diberikan antibiotik dalam jumlah besar, yang lama kelamaan membuat bakteri yang ada di lahan ternak menjadi berkembang dan tahan terhadap antibiotik. Dampak ini tidak hanya buruk bagi hewan, namun juga pada manusia yang mengonsumsi daging hewan ternak tersebut—karena jenis antibiotik yang dipakai dalam praktik industrial agriculture juga digunakan untuk mengobati penyakit pada manusia—sehingga menurunkan kemampuan manusia untuk melawan penyakit.

Nah, lima poin di atas menunjukkan bahwa praktik industrial agriculture ini ternyata cenderung merugikan, dengan kata lain lebih banyak buntungnya daripada untungnya! Mulai dari lingkungan, hewan dan tumbuhan, hingga manusia, semuanya terdampak oleh praktik industrial agriculture ini. Lalu, seberapa parah sih, dampaknya ke lingkungan? Lanjut bahas di bawah ini, ya!

BAGAIMANA INDUSTRIAL AGRICULTURE MERUGIKAN BAGI LINGKUNGAN?

Ilustrasi deforestasi. (Sumber: consciousdimension.wordpress.com

Industrial agriculture berdampak cukup serius bagi kelestarian lingkungan. Selain yang sudah dibahas pada lima poin di atas, kita ulik satu per satu sisanya melalui tiga aspek lingkungan berikut ini, yuk!

  • Polusi air

Melihat jumlah hewan yang dikelola dalam CAFO, tidak mengejutkan bahwa pada akhirnya akan muncul limbah kotoran dan urin hewan dalam jumlah yang sangat besar. Limbah kotoran ini seringkali hanya ditangani dengan menyebarkannya ke seluruh bagian lahan sebagai pupuk. Namun, jumlah yang berlebihan tersebut membuat petani memberikan terlalu banyak sehingga tidak sebanding dengan kebutuhan nutrisi pada tanah, yang akhirnya membuat tanah gagal menyerap seluruh nutrisi dalam limbah dan akhirnya sisa nutrisi rembes hingga ke air tanah bahkan ke saluran air yang kemudian bermuara ke laut. 

Nutrisi yang sampai ke laut kemudian memicu pertumbuhan berlebihan pada alga. Dalam pertumbuhan alga yang berbahaya, racun dapat dilepaskan ke laut sehingga mengancam keselamatan manusia, hewan, dan ekosistem secara keseluruhan. Saat alga akhirnya mati, bakteri aerobik mengurainya menggunakan oksigen, yang kemudian dapat membahayakan kehidupan laut. Tanpa oksigen, air tidak dapat mendukung kehidupan laut lainnya sehingga berpotensi menciptakan ‘zona mati’ pada laut.

Selain itu, cuaca ekstrim dapat membuat tumpukan limbah kotoran yang membentuk danau kecil—laguna—menyebabkan banjir yang mencemari lingkungan sekitar dengan limbah kotoran berbahaya. Hal itu terjadi pada saat Badai Florence di Amerika, September 2018 lalu di mana 110 laguna limbah kotoran babi bercampur dengan limbah lainnya dan mencemari Sungai Cape Fear—sumber air minum mayoritas penduduk di Carolina Utara—dengan 39 juta galon limbah. Duh, parah sekali, bukan?

  • Polusi udara dan emisi gas rumah kaca

Praktik industrial agriculture yang menghasilkan limbah kotoran hewan serta melibatkan penggunaan pupuk sintetis menciptakan amonia—gas transparan yang menjadi racun jika dalam dosis tinggi—yang jika bercampur dengan polutan dari pembakaran dapat menimbulkan aerosol, yaitu kumpulan partikel berbahaya yang tersuspensi di udara dan dapat merusak kesehatan manusia, khususnya sistem pernapasan karena partikel tersebut dapat menembus paru-paru dan memasuki sistem peredaran darah.  

Kemudian, limbah kotoran dari CAFO yang disebarkan di lahan sebagai pupuk bukan hanya akan mencemari air—seperti yang telah dijelaskan di poin sebelumnya—namun juga dapat menghasilkan gas berbahaya bernama hidrogen sulfida. Dalam dosis sedang, gas tersebut dapat menyebabkan sakit kepala, mual, iritasi mata, dan pusing, sedangkan dalam dosis tinggi, gas tersebut berpotensi mematikan. 

Selain itu, CAFO juga berkontribusi sekitar 18% dalam produksi gas rumah kaca secara keseluruhan. Lalu, meskipun karbon dioksida dianggap sebagai jenis emisi rumah kaca yang utama, ternyata limbah kotoran CAFO menghasilkan gas metana dan dinitrogen oksida yang kekuatannya 23 dan 300 kali lipat lebih tinggi daripada karbon dioksida. Ngeri sekali, ya?

Last but not least, praktik monokultur merupakan sumber produksi gas dinitrogen oksida, sama seperti CAFO. Penggunaan mesin dalam proses pengelolaan lahan monokultur juga mengeluarkan karbon dioksida akibat dari penggunaan bahan bakar fosil untuk pengoperasian mesin. Intinya, industrial agriculture punya andil besar dalam perubahan iklim yang kita rasakan sekarang, Earthlings!

  • Deforestasi—penebangan hutan

Kebutuhan lahan yang besar untuk mengelola CAFO dan menjalankan praktik monokultur membuat hutan—yang merupakan sumber kehidupan utama manusia—harus ditebangi. Tak terkecuali hutan hujan Amazon, yang pada Agustus 2019 hingga Juli 2020 lalu sudah dihancurkan seluas 4.281 mil persegi. Jadi, jangan heran jika deforestasi global yang disebabkan oleh praktik industrial agriculture mencapai angka 80%. Angka setinggi itu menggambarkan bahwa sebagian besar hutan kita sudah hilang, yang mana meningkatkan resiko erosi karena jumlah lahan kering semakin bertambah dan lahan hijau malah berkurang. Tak hanya erosi, ragam hayati yang hidup di hutan otomatis ikut kehilangan habitatnya sehingga semakin banyak flora dan fauna yang punah. Sedih, ya. 

Ilustrasi perbandingan deforestasi di hutan Amazon pada tahun 2000 vs 2012. (Sumber: indiatimes.com

Ditambah lagi, praktik industrial agriculture ini ternyata lebih berkontribusi pada berkurangnya jumlah hutan secara permanen dibandingkan dengan kebakaran hutan dan urbanisasi. Lalu, tahukah kamu bahwa di negara kita sendiri, Indonesia, juga kehilangan sekitar 600.000 hektar hutan setiap tahunnya karena praktik industrial agriculture ini! Kenyataan yang menampar, bukan?

DUH, SUDAH SEPARAH ITU MASIH BISA DISELAMATKAN GAK, YA?

Seperti kata pepatah, banyak jalan menuju Roma! Terdapat sederet alternatif untuk memproduksi hewan dan tumbuhan sebagai pangan tanpa mengorbankan lingkungan. Namun, perlu kamu ketahui bahwa sebenarnya praktik bertani dan beternak konvensional yang ramah lingkungan sudah ada sejak 12.000 tahun yang lalu, sedangkan industrial agriculture bahkan belum mencapai usia satu abad. Tapi, semakin merajalelanya industrial agriculture membuat praktik pertanian dan peternakan yang berkelanjutan jadi dianggap sebagai alternatif. Lucu juga, ya.

Kemudian, kamu paham pernyataan bahwa setiap hal punya dua sisi berlawanan, bukan? Nah, jika industrial agriculture adalah hal negatif yang harus kita hindari, kita juga punya sustainable agriculture, atau pertanian berkelanjutan, yang tentunya tidak perlu kita hindari dan malah harus kita terapkan. Dalam pertanian, konsep berkelanjutan harus dilihat dari tiga aspek, yaitu ekonomi, sosial, dan lingkungan. Pertanian berkelanjutan dari aspek ekonomi artinya sebuah pertanian harus menghasilkan keuntungan yang berkontribusi pada kekuatan ekonomi. Lalu, pertanian berkelanjutan dari aspek sosial artinya sebuah pertanian harus menegakkan keadilan dengan para pekerjanya serta memiliki hubungan saling menguntungkan dengan masyarakat sekitar. Sedangkan, pertanian berkelanjutan dari aspek lingkungan artinya pengelolaan terstruktur terhadap sumber daya alam yang menjadi fondasi dari praktik pertanian itu sendiri. Sayangnya, industrial agriculture tidak meliputi aspek sosial dan lingkungan, sehingga harus dihentikan jika ingin menyelamatkan lingkungan, Earthlings!

LAKUKAN PRAKTIK SUSTAINABLE AGRICULTURE INI

Ilustrasi biodynamic farming. (Sumber: smart-akis.com

Kita bisa mencapai sustainable agriculture dengan mengandalkan banyak metode, tidak hanya sekedar pertanian organik saja, seperti beberapa metode berikut ini:

  1. Menyatukan peternakan & pertanian (biodynamic farming). Metode ini efisien dan juga menguntungkan karena hewan ternak menjadi dekat dengan sumber makanan mereka dan tumbuhan mendapatkan pupuk alami dari kotoran ternak. 

  2. Menerapkan sistem kurungan dengan intensitas rendah, yang akan membantu meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan hewan ternak.

  3. Memberi waktu ternak untuk merumput, sehingga dapat mengurangi produksi gas rumah kaca serta mengalihkan hasil tani untuk kebutuhan lainnya, tidak selalu sebagai pakan ternak. Hewan ternak yang merumput juga membantu tanah menjadi lebih sehat.

  4. Meningkatkan pengelolaan limbah kotoran ternak, sehingga mengurangi potensi emisi gas berbahaya seperti hidrogen sulfida, serta potensi pencemaran air. 

  5. Rotasi tanaman, yaitu menanam berbagai macam tanaman di satu lahan—kebalikan dari monokultur. Rotasi tanaman akan membuat tanah menjadi lebih sehat dan memudahkan kontrol terhadap hama. 

  6. Praktik agroforestri, yaitu menggabungkan pertanian dan peternakan dengan pohon. Metode ini bisa dilakukan dengan menanam pohon di area pertanian dan peternakan, atau membangun pertanian dan peternakan di dalam lingkungan hutan. Agroforestri memberikan simbiosis mutualisme; pohon memberikan karbon bagi tanah, menjadikan tanah lebih sehat sehingga hasil panen meningkat dan ternak mendapat pakan berkualitas tinggi. 

  7. Hidroponik dan aquaponik, yaitu metode menumbuhkan tanaman tanpa tanah, namun menggunakan air yang diberikan nutrisi khusus. Selain air, hidroponik menggunakan media tanam non tanah seperti kerikil, pasir kasar, atau sabut kelapa. Sedangkan, aquaponik adalah metode yang menggabungkan teknik hidroponik dengan hewan aquatik seperti ikan. Sistem aquaponik memanfaatkan kotoran dari ikan sebagai pupuk bagi tanaman hidroponik. 

  8. Urban agriculture, atau konsep pertanian perkotaan yang memanfaatkan lahan terbatas di lingkungan sekitar seperti rooftop dan halaman belakang rumah, untuk menanam berbagai jenis tumbuhan seperti sayur, bumbu dapur—bawang, cabai, dll, serta buah-buah seperti stroberi.  

  9. Permakultur, merupakan perencanaan dan pemeliharaan sistem produksi pertanian yang mengutamakan keberagaman, stabilitas, dan ketahanan dalam ekosistem alam sehingga dapat membentuk sistem yang efisien dengan prinsip kerja cerdas bukan kerja keras. Permakultur mencakup praktik seperti memanfaatkan limbah kotoran hewan sebagai pupuk, limbah dapur untuk pakan ternak, menanam tanaman tahunan seperti pohon buah untuk menghindari pengolahan tanah terlalu sering, membangun terasering dan sengkedan untuk konservasi air, dan masih banyak lagi.

Sembilan metode di atas baru segelintir dari sekian alternatif industrial agriculture yang bisa diterapkan oleh kelompok produsen atau pihak yang berwenang atas proses produksi. Lalu, sebagai individu kita bisa apa? Nah, kita bisa berkontribusi untuk menekan praktik industrial agriculture dengan menjalankan peran sebagai konsumen. Peran konsumen krusial karena tanpa konsumen, para produsen tidak akan bisa melanjutkan bisnisnya. 

Beberapa aksi di bawah ini bisa kita lakukan untuk bantu menekan praktik industrial agriculture:

  • Konsumsi lebih banyak makanan nabati atau plant-based.

  • Kurangi konsumsi daging merah, karena seperti yang sudah dibahas sebelumnya, CAFO berkontribusi pada emisi gas rumah kaca yang bahkan jenisnya lebih berbahaya daripada karbon dioksida.

  • Pun kalau ingin membeli daging merah, belilah di produsen yang tidak menggunakan antibiotik berlebihan pada ternaknya. 

  • Beralih ke buah dan sayuran organik! 

  • Buatlah plan meals atau perencanaan menu makanan sebelumnya, agar mengurangi sampah makanan—yang juga merupakan kontributor gas rumah kaca.

  • Belilah dari petani lokal yang menerapkan praktik sustainable agriculture. Ini juga membuat mereka merasa diapresiasi, lho!

  • Buat kebun kecil di rumahmu. Manfaatkan lahan kosong yang ada, atau gunakan metode hidroponik seperti pada poin sebelumnya—yang terpenting, jangan gunakan bahan kimia. Gencarkan gerakan ini dengan mengajak keluarga dan teman-temanmu!

  • Pelajari kebijakan terkait pertanian dan peternakan. Suarakan dukunganmu dengan mengajukan petisi ke pemerintah. Topik yang bisa kamu bahas diantaranya adalah praktik bertani yang ramah lingkungan, pelarangan pestisida kimia, penurunan dosis penggunaan antibiotik pada hewan ternak, dan masih banyak lagi.

References:

  1. NRDC | Industrial Agriculture 101 

  2. Sentient Media | Is Industrial Agriculture Really Making the World a Better Place? 

  3. FoodPrint | How Industrial Agriculture Affects Our Air 

  4. ArcGIS StoryMaps | Environmental Impacts of Industrial Agriculture

  5. Reducetarian | How Industrial Agriculture Is Driving Deforestation In The Amazon 

  6. Greentumble | 10 Sustainable Agriculture Methods and Farming Practices  

  7. Union of Concerned Scientists | What is Sustainable Agriculture? 

  8. NRDC | Industrial Agricultural Pollution 101 

This article is written by Amalia Diva


Related Post