MONOKULTUR, METODE BERTANI YANG HARUS DIHENTIKAN?


MONOKULTUR, METODE BERTANI YANG HARUS DIHENTIKAN? image

 

MENGULIK TENTANG MONOKULTUR 

Monokultur adalah sebuah metode bertani yang menanam hanya satu jenis tanaman pada satu lahan pertanian yang sama selama bertahun-tahun. Istilah monokultur menekankan pada spesialisasi tanaman yang bertolak belakang dengan metode bertani zaman dulu atau saat ini dikenal dengan istilah polikultur, yaitu bertani dengan menanam dua atau lebih jenis tanaman yang berbeda di satu lahan yang sama. Konsep monokultur diterapkan dalam praktik industrial agriculture atau pertanian intensif, yaitu praktik pertanian dan peternakan yang dimaksimalkan melalui penggunaan bahan kimia pada tanaman dan hewan ternak agar menghasilkan keuntungan yang besar. 

 

Monokultur merupakan metode bertani yang diperdebatkan dalam industri pertanian. Populasi dunia yang terus meningkat membuat kebutuhan pangan juga semakin tinggi, sehingga banyak petani yang memilih untuk memakai metode monokultur sebagai solusi paling mudah dalam memenuhi kebutuhan pangan tersebut. Namun, ternyata terdapat pro dan kontra terkait metode monokultur yang harus diperhatikan lebih lanjut karena berhubungan dengan keberlangsungan hidup manusia. Apa saja, sih, pro dan kontra dari metode monokultur? Simak pembahasannya melalui poin-poin tentang kelebihan dan kekurangan monokultur di bawah ini, ya!

 

Ilustrasi lahan pertanian monokultur. (Image by Volker Glätsch from Pixabay)

 

KEUNTUNGAN DARI METODE MONOKULTUR

 

Ilustrasi panen lahan monokultur. (Image by Wolfgang Eckert from Pixabay)

 

  1. Meningkatkan produktivitas dan efisiensi

Dalam metode monokultur, para petani akan memilih jenis tanaman yang dapat tumbuh dengan subur sesuai dengan lokasi lahan berada agar dapat menyesuaikan dengan kondisi lingkungan sekitar. Hal tersebut dilakukan untuk membuat pemanfaatan kondisi tanah dan iklim di lingkungan terkait jadi lebih efisien. Seringkali jenis tanaman yang diunggulkan dalam penanaman dengan metode monokultur adalah tanaman yang bisa bertahan dan tetap tumbuh subur di suatu kondisi cuaca yang spesifik, seperti cuaca panas dan kering, berangin, atau dalam suhu yang lebih rendah. Beberapa contoh tanaman unggulan dalam metode monokultur adalah padi dan gandum. Padi bertahan di sawah yang merupakan lahan basah dengan suhu rendah, sedangkan gandum bertahan di lahan datar yang disinari oleh matahari.

 

  1. Spesialisasi tanaman 

Metode monokultur hanya menanam satu jenis tanaman di lahan yang sama untuk waktu yang lama, sehingga hal tersebut akan membuat petani berurusan dengan permasalahan yang kurang lebih serupa saat proses tanam hingga masa panen. Setelah melalui berbagai percobaan, petani akan menemukan cara yang tepat untuk menangani masalah tersebut sehingga kerugian panen dapat dicegah dan tanaman dapat tumbuh subur serta menghasilkan panen melimpah. Selain pendapatan meningkat, keuntungan spesialisasi tanaman ini juga akan menghemat pengeluaran petani karena perlengkapan pertanian yang digunakan tidak akan berbeda selama proses bertani.

 

  1. Mengembangkan teknologi untuk pertanian 

Monokultur menjadi metode bertani pertama yang menerapkan penggunaan mesin untuk bertani, yang mana mempengaruhi para petani di banyak negara maju setelah itu. Para agraris akan memanfaatkan dana yang mereka punya untuk mengembangkan teknologi baru dalam bidang pertanian agar penerapan monokultur lebih maksimal dan efisien. Beberapa teknologi baru yang digunakan sebagai solusi untuk para petani saat menerapkan monokultur adalah drone, sensor tanah, satelit pengumpul data, serta alat untuk membajak lahan seperti traktor. Teknologi yang digunakan dalam pertanian kemudian semakin berkembang setelah traktor pertama digunakan untuk membajak lahan. Jenis tanaman seperti kapas saja saat ini dapat dipanen menggunakan alat yang akan mengangkut hampir seluruh serat kapas di lahan untuk kemudian dibentuk menjadi satu buntalan kapas secara langsung di tempat. 

 

  1. Memaksimalkan hasil panen

Tingginya angka kebutuhan pangan menuntut petani untuk menghasilkan panen yang melimpah dalam kurun waktu yang singkat. Monokultur dirasa dapat menjadi solusi untuk hal tersebut, terutama bagi jenis tanaman biji-bijian atau serealia seperti gandum, padi, dan jagung, yang lebih mudah dikelola dan akan tumbuh lebih subur jika ditanam dengan metode monokultur daripada digabungkan dengan jenis tanaman lainnya di satu lahan. Namun, agar kondisi tersebut tercapai, petani harus menerapkan metode rotasi tanaman di lahan tersebut, misalnya dua tahun digunakan untuk monokultur jagung lalu satu tahun untuk monokultur kedelai. Pola rotasi dapat berbeda menyesuaikan dengan kebutuhan petani dan kondisi lahannya. Alasan penerapan rotasi tanaman sangat sederhana, yaitu karena rotasi tanaman memungkinkan tanah untuk pemulihan serta mengacaukan siklus hama agar tidak menguasai tanaman.

 

  1. Lebih mudah untuk dikelola

Spesialisasi tanaman kemudian akan memudahkan petani untuk menguasai ilmu dan tata cara mengelola jenis tanaman yang ditanam. Dalam monokultur, petani tidak memerlukan perlengkapan bertani yang berbeda untuk setiap jenis tanaman seperti dalam metode polikultur. Sebagai gantinya, petani dapat fokus untuk meningkatkan kualitas tanaman dengan membeli mesin khusus yang dapat membantu kerja mereka lebih efisien dan lebih menghasilkan.

 

  1. Pendapatan lebih tinggi

Konsep monokultur disukai oleh para petani karena bisa menghasilkan tanpa memerlukan banyak pengeluaran. Jenis tanaman yang sama selama bertahun-tahun tidak memerlukan peralatan bertani yang berbeda, sehingga petani tidak harus membeli peralatan lain dan dapat menghemat pengeluaran untuk dialihkan ke keperluan lain. Jika harus melakukan rotasi tanaman, petani dapat mengakalinya dengan menanam dua jenis tanaman yang bisa dikelola dengan peralatan yang sama, seperti jagung dan kedelai, sehingga proses bertani jadi lebih ekonomis. 

Selain itu, setiap negara memiliki spesialisasi hasil tani yang berbeda dan terbatas pada jenis tanaman tertentu, menyesuaikan dengan kondisi iklim dan tanah setempat. Itulah mengapa petani akan memilih monokultur sebagai metode andalan dalam mencari keuntungan, karena mereka dapat memusatkan pertanian pada jenis tanaman yang paling diminati agar kemudian mendapatkan penghasilan yang tinggi.

 

KEKURANGAN DARI METODE MONOKULTUR

 

Ilustrasi penurunan kualitas tanah. (Image by PublicDomainPictures from Pixabay)

 

  1. Gangguan hama yang berlebihan

Tanaman yang tumbuh melimpah dan menumpuk di satu tempat yang sama, apalagi selama bertahun-tahun, merupakan cara mengundang hama paling cepat. Mereka akan produktif dan tumbuh berkali-kali lipat di lahan pertanian monokultur. Mengapa? Itu karena lahan pertanian monokultur hanya memiliki satu jenis tanaman sehingga sangat terbatas dalam aspek keanekaragaman hayati. Padahal adanya keanekaragaman hayati menjadi pelindung alami lahan pertanian dari serangan hama, lho. 

 

Sebuah kasus tragis dari dampak negatif monokultur karena serangan hama terjadi di Irlandia pada tahun 1845 dan 1852, di mana saat itu mereka kehilangan 75 persen hasil panen kentang karena terinfeksi oleh hama jamur jenis Phytophthora infestans. Akibatnya, hampir satu juta orang mati kelaparan dan sisanya banyak yang terpaksa harus meninggalkan rumah untuk melindungi keluarga mereka dari kelaparan yang berlangsung selama 7 tahun tersebut. Sungguh sebuah pelajaran ya, Earthlings.

 

  1. Menciptakan resistensi pestisida

Serangan hama kemudian mengharuskan petani untuk menggunakan pestisida dalam jumlah besar agar dapat melindungi tanaman. Namun, selalu ada hama yang dapat bertahan walau pestisida sudah banyak diberikan. Hama yang bertahan ini kemudian akan mengembangkan resistensi pada pestisida, lalu diturunkan ke anak-anak mereka. Generasi baru hama tersebut kemudian akan menjadi lebih kuat bertahan melawan pestisida sehingga para petani menjadi lebih sering memberikan pestisida dengan terus menambah dosisnya. Cara tersebut mungkin ampuh, untuk sementara. Dalam jangka panjang, strategi tersebut sudah tidak efisien lagi dan berujung berbahaya karena jumlah pestisida yang terus terakumulasi pada lahan dan tanaman itu sendiri.

 

  1. Penurunan kualitas tanah

Sebuah studi pada tahun 2017 yang didukung oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa menyatakan bahwa sepertiga tanah yang ada di bumi kita mengalami penurunan kualitas akibat penerapan metode pertanian modern yang tidak bertanggung jawab, yang mana monokultur menjadi urutan teratas dari daftar metode pertanian yang dimaksud. 

 


Ilustrasi monokultur spesialisasi tanaman kapas. (Image by Joseph Marin from Pixabay)

 

Spesialisasi jenis tanaman menjadi penyebab dari penurunan kualitas tanah dalam metode monokultur. Suatu tanaman dalam sebuah ekosistem membutuhkan nutrisi untuk tumbuh. Jika satu spesies tanaman memerlukan komposisi nutrisi tertentu, maka tanaman lainnya akan memanfaatkan sisa nutrisi yang ada. Itulah mengapa lahan yang ditanami lebih dari satu jenis tanaman—polikultur—akan menciptakan ekosistem yang sehat, karena berbagai jenis tanaman saling menyeimbangi antara satu dengan lainnya; saat hidup tanaman akan menyerap nutrisi agar dapat tumbuh subur, sedangkan saat mati tanaman akan terurai dan mengembalikan nutrisi ke tanah. Namun, spesialisasi tanaman dalam monokultur akan menghabiskan nutrisi tanah. Satu jenis tanaman dalam monokultur memiliki kebutuhan nutrisi spesifik, sehingga ketika tanah ditanami dengan metode monokultur selama bertahun-tahun, tanaman tersebut juga akan menyerap nutrisi di dalam tanah terus menerus lalu berhenti ketika tanaman tersebut dipanen. Siklus tersebut terus berulang dan tinggal menunggu waktu sampai tanah kehilangan nutrisinya dan menjadi lahan kering yang tidak subur pada akhirnya. 

 

Tapi, bukannya petani dapat menggunakan pupuk sintetis untuk mengatasi masalah tersebut? Tidak semudah itu, Earthlings! Monokultur mengacaukan keseimbangan ekosistem sehingga berdampak pada kehidupan organisme tanah. Cacing, laba-laba, dan organisme tanah lainnya sangat penting bagi kesehatan tanah. Sayangnya, mereka hanya berkembang biak dengan baik di lahan yang kaya akan keanekaragaman hayati, yang mana jauh dari definisi monokultur. Jumlah organisme tersebut kemudian berkurang drastis, sehingga peran krusial mereka dalam membangun kesehatan tanah, seperti memecah zat organik dan membasmi parasit, tidak dapat dijalankan dengan baik.

 

Masalah lainnya adalah erosi tanah, yang terjadi akibat lahan pertanian yang ditinggalkan selama berminggu-minggu tanpa tanaman penutup ketika selesai digunakan sehingga tidak adanya tutupan vegetasi alami akan membuat lapisan atas tanah mudah terbawa oleh angin dan air pada saat terjadi badai dan hujan. Erosi tanah dapat dicegah jika lahan memiliki berbagai jenis tanaman sehingga terdapat banyak jenis akar yang bisa menahan air, namun lagi-lagi hal tersebut bukan definisi dari monokultur. 

 

Pada akhirnya, sebanyak apapun pengaplikasian air dan pupuk sintetis tidak akan membantu karena tanah tidak mampu menyerap keduanya. Dampaknya, limpasan air dan pupuk di permukaan tanah mencemari lingkungan sekitar, sedangkan lahan pertanian menjadi semakin kehilangan kesuburannya.

 

  1. Penggunaan pupuk yang berlebihan 

Seperti yang telah dijelaskan dalam poin sebelumnya, spesialisasi tanaman membuat lahan pertanian kehabisan nutrisinya sehingga mengharuskan petani memberikan pupuk sintetis dalam dosis besar untuk meningkatkan kesuburan tanah. Semakin lama sebuah lahan digunakan untuk monokultur, akan semakin banyak pupuk sintetis yang digunakan karena tanah menjadi semakin lelah dan rusak. Cara tidak alami tersebut mengacaukan komposisi alami tanah sehingga akan menghancurkan ekosistem tanah.

 

Bayangkan saja sebuah lahan monokultur jagung di Amerika Serikat, yang luasnya setara dengan California, diberikan sebanyak 5,6 juta ton pupuk sintetis setiap tahunnya, angka yang tidak main-main bukan? Belum lagi kelebihan nutrisi dari pupuk sintetis tersebut yang akan mencemari lingkungan sekitar dan membahayakan penduduk serta makhluk hidup lainnya. Beresiko sekali, ya.

 

  1. Mencemari lingkungan dan berkontribusi pada perubahan iklim

Limpasan air dan pupuk dari pertanian monokultur yang mencemari air merupakan penyebab utama tumbuhnya alga secara masal sehingga membahayakan sumber air minum, membunuh spesies air yang sensitif, dan yang terburuknya membentuk zona mati dalam air, di mana organisme air tidak dapat bertahan hidup karena kadar oksigen yang rendah di area tersebut. Tidak hanya itu, limpasan tersebut juga bocor ke air tanah dan sumur, sehingga ikut mencemari sumber air minum penduduk sekitar dan membahayakan kesehatan mereka dalam jangka panjang.

 

Monokultur juga bertanggung jawab atas polusi udara dan meningkatnya emisi gas rumah kaca, Earthlings! Sebuah studi pada tahun 2016 membuktikan hal tersebut dengan menyatakan bahwa pertanian yang menggunakan banyak pupuk sintetis atau peternakan hewan yang terkonsentrasi menjadi polutan udara nomor satu di sebagian besar negara maju. Penyebabnya adalah tingginya emisi gas amonia—gas yang berasal dari aplikasi pupuk sintetis pada lahan monokultur—yang saat bercampur dengan gas dari aktivitas lain seperti transportasi dan produksi energi, seperti nitrogen oksida dan sulfat, akan membentuk partikel berbahaya yang dengan mudah masuk ke paru-paru dan aliran darah. 

 

Selain itu, penggunaan pupuk sintetis dalam dosis tinggi juga menghasilkan dua gas rumah kaca berbahaya yang bernama metana dan dinitrogen oksida, yang membuat praktik monokultur berkontribusi pada peningkatan perubahan iklim. Hal tersebut didukung oleh pernyataan dari Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) dari PBB yang menyebutkan bahwa pertanian merupakan penghasil gas rumah kaca terbesar selain karbon dioksida, yang sebagian besar penyebabnya adalah penyalahgunaan pupuk sintetis secara berlebihan pada kegiatan pertanian modern. 

 

  1. Pemborosan air 

Lahan pertanian monokultur memiliki kemampuan yang lemah dalam menahan struktur tanah di sekitar tanaman karena sistem akar yang berasal dari satu spesies tanaman saja tidak cukup kuat untuk melakukan hal tersebut. Itulah mengapa lahan monokultur rentan terjadi erosi dan kehilangan kemampuan menyerap air, sehingga lapisan atas tanah menipis, yang kemudian menyebabkan ketidakseimbangan pada kapasitas tanah dalam mempertahankan kelembapannya. Hal tersebut membuat petani harus mengairi lahan monokultur lebih sering dan lebih banyak, yang membuat petani menggunakan air secara berlebihan. Sumber-sumber air di lingkungan sekitar, seperti danau dan sungai, akan ikut terkena dampak dari monokultur ini, selain dieksploitasi, ekosistem air juga dapat terganggu.

 

  1. Merusak ekosistem sekitar

Prinsip utama pada monokultur yang  membuatnya diminati adalah tidak ada keanekaragaman hayati pada lahan pertanian, sehingga membuat petani mudah mengelola lahan. Padahal, keanekaragaman hayati adalah kunci dari terciptanya ekosistem yang sehat, seperti serangga dan tanaman yang dapat bertindak sebagai pertahanan alami dari hama dan penyakit, sehingga membuat lahan pertanian menjadi subur. Dampak negatif dari dihilangkannya keanekaragaman hayati pada sebuah lahan adalah para petani harus menggantikan ekosistem alami lahan secara artifisial, dengan bahan-bahan kimia seperti pupuk sintetis, pestisida, dan lain sebagainya. 

 

Lalu, bagaimana nasib hewan dan tumbuhan yang disingkirkan tersebut? Mereka berpotensi punah karena kesulitan bertahan hidup akibat kehilangan habitatnya. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh German Nature and Biodiversity Union pada 2017 lalu, 15 persen dari total populasi burung telah menghilang dari daerah pedesaan hanya dalam kurun waktu 12 tahun. Kemudian, populasi serangga juga menurun sebesar 76 persen. Hal tersebut terjadi akibat penggunaan berlebihan insektisida pada lahan monokultur serta hilangnya ekosistem mereka sehingga burung dan serangga kehilangan tempat tinggalnya. Bukan hanya itu, mengingat burung merupakan pemakan serangga, rantai makanan ekosistem juga ikut rusak karena terkena dampak dari dihilangkannya keanekaragaman hayati pada lahan monokultur.

 

  1. Mengancam populasi hewan penyerbuk

Lebah dan jenis hewan penyerbuk lainnya seperti kupu-kupu, dan lain-lain, akan mengalami kesulitan akibat penggunaan bahan kimia berlebihan pada lahan monokultur yang dapat mengancam kesehatan mereka. Selain itu, terbatasnya jenis tanaman pada lahan monokultur akan membuat lebah menderita akibat tidak cukupnya pasokan bakteri baik dalam makanan mereka. Bakteri baik yang dimaksud bernama Bifidobacterium dan Lactobacillus, yang akan menguatkan sistem imun lebah. Kemudian, tanpa keragaman bakteri, makanan yang disimpan oleh lebah di dalam sarangnya jadi lebih cepat rusak sehingga mereka akan kekurangan makanan, lalu berakhir kehilangan kekebalan tubuhnya dan semakin rentan terhadap penyakit. 

 

  1. Mengandalkan bahan bakar fosil

Monokultur merupakan sistem pertanian modern yang menggunakan mesin dalam skala besar, mulai dari proses tanam, panen, sampai distribusi ke konsumen via darat maupun laut yang memakan jarak jauh. Aktivitas tersebut memerlukan energi yang seringkali berasal dari bahan bakar fosil, yang dipilih karena murah dan efisien. Tidak hanya itu saja, irigasi, pemompaan dan distribusi air, pengaplikasian pupuk sintetis dan pestisida, juga memerlukan energi dari bahan bakar fosil tersebut. Ketergantungan pada bahan bakar fosil ini akan menyebabkan polusi lingkungan dan perubahan iklim akibat emisi gas rumah kaca.

 

LALU, ADA CARA UNTUK MENGATASINYA GAK, SIH?

 

Ilustrasi penggunaan pestisida yang wajar. (Image by Th G from Pixabay)

 

Melihat dampak negatifnya terhadap lingkungan, kita simpulkan bahwa monokultur ternyata cenderung lebih merugikan, bukan begitu Earthlings? Monokultur akan menjadi metode pertanian paling buruk bagi keberlanjutan lingkungan dan kehidupan manusia apabila dilakukan tanpa henti selama bertahun-tahun, yang bisa kita sebut dengan monocropping atau monokultur terus menerus. Lalu, bagaimana cara mengatasi dampak negatifnya? Ada banyak metode yang bisa dilakukan oleh para petani untuk mengurangi atau menghindari dampak negatif dari monokultur, beberapa yang paling umum diantaranya adalah sebagai berikut: 

 

  • Penerapan rotasi tanaman

Menanam jenis tanaman yang berbeda di sebuah lahan pertanian akan membantu menghindari dampak negatif utama dari monokultur pada tanah. Rotasi tanaman tahunan akan melindungi dan menjaga lahan karena dapat mengacaukan siklus hama sehingga membuat komposisi tanah menjadi seimbang. Para petani dapat menerapkan metode rotasi tanaman yang sesuai dengan kondisi lahan dan lingkungan sekitar, mengingat jenis rotasi tanaman yang beragam.

 

  • Penggunaan pestisida dan herbisida yang wajar

Pestisida dan herbisida sintetis yang digunakan secara berlebihan akan merusak ekosistem lingkungan sekitar yang membuat kualitas tanah dan hasil panen menurun. 

Dampak tersebut dapat dikurangi secara signifikan dengan pemakaian pestisida dan herbisida dalam batas wajar atau beralih ke pestisida dan herbisida organik. Cara tersebut akan semakin ampuh saat dikombinasikan dengan metode rotasi tanaman, yang berperan sebagai pelindung alami tanaman dari hama dan penyakit.

 

  • Pemakaian pupuk yang sesuai kebutuhan

Pengaplikasian pupuk sintetis dalam skala besar harus diubah mengingat bahayanya terhadap ekosistem. Perkembangan teknologi pertanian saat ini memungkinkan para petani untuk mengaplikasikan pupuk dengan cara yang lebih efektif, para petani tidak harus memberikan pupuk ke seluruh lahan dan cukup memberikannya pada area spesifik yang benar-benar membutuhkan saja. 

 

  • Memanfaatkan badan air 

Air adalah sumber daya alam yang krusial, sehingga menggunakan air secara berlebihan untuk kegiatan pertanian akan merugikan bagi lingkungan sekitar, terutama bagi masyarakat yang menggantungkan hidup mereka pada sumber air tersebut. Maka dari itu, membuka lahan pertanian yang dekat dengan badan air akan mengurangi penggunaan air tanah sehingga sumber air dapat digunakan dengan lebih efisien, terlebih jika diaplikasikan pada lahan pertanian dengan penerapan rotasi tanaman.

 

Walau monokultur dirasa lebih unggul dalam beberapa aspek, terutama pada zaman modern yang lebih menyukai proses serba cepat, konsekuensinya terhadap lingkungan dalam jangka panjang merupakan hal serius yang patut diperhatikan dan tidak boleh dilupakan semata-mata karena keunggulannya. Itulah mengapa para petani harus mulai beralih ke metode lain yang lebih ramah lingkungan, seperti polikultur, yang menerapkan rotasi tanaman pada lahan pertanian agar dapat memanfaatkan nutrisi tanah dengan lebih efisien. 

 

Jadi, bagaimana pendapatmu, Earthlings? Apakah menurutmu metode monokultur ini harus dihentikan?

 

References:

Earth Observing System | Monoculture Farming In Agriculture Industry 

Greentumble | Advantages and Disadvantages of Monoculture Farming 

 

This article is written by Amalia Diva. 

 

 


Related Post