MENGAPA LAHAN KERING RENTAN TERJADI DESERTIFICATION? image

MENGAPA LAHAN KERING RENTAN TERJADI DESERTIFICATION?.

DESERTIFICATION, KENAPA BISA TERJADI YA?

Desertification, merupakan degradasi permanen tanah di lahan kering, terjadi akibat dari meningkatnya suhu global serta berkembangnya populasi manusia. 

Terlepas variasi dari pengertian desertification, istilah desertification ini umumnya mengacu pada degradasi yang disebabkan oleh faktor seperti variasi iklim dan aktivitas manusia di lahan kering, semi-kering, dan kering sub-lembab, atau dikenal sebagai drylands—lahan dengan curah hujan rendah dan/atau tidak tetap.

Dalam desertification, degradasi lahan cenderung terjadi karena sejumlah faktor, seperti urbanisasi, pertambangan, pertanian, dan peternakan, yang mana aktivitas tersebut mendorong adanya eksploitasi lahan yang mengarah pada erosi tanah dan ketidakmampuan lahan untuk menahan air dan menumbuhkan tanaman. 

Ilustrasi desertification. (Sumber: pexels.com/@freeimages9 )

Ada cukup banyak penyebab desertification, kita bahas satu-satu yuk!

  1. Overgrazing

Istilah overgrazing merujuk pada eksploitasi lahan sebagai pakan ternak, yang mana menyebabkan tumbuhan sulit untuk tumbuh kembali di lahan tersebut karena eksploitasi lahan menyakiti bioma yang ada. 

  1. Penggundulan hutan

Kebutuhan pohon yang semakin tinggi mendorong terjadinya eksploitasi sumber daya hutan, yang mana hal ini juga menjadi penyebab dari desertification mengingat hutan merupakan pusat ekosistem yang krusial untuk kelestarian alam.

  1. Praktik bertani yang tidak berkelanjutan

Kurangnya edukasi para petani mengenai pemanfaatan lahan untuk bertani secara berkelanjutan mengarah pada penggunaan lahan yang tidak ramah lingkungan, di mana suatu lahan dikuras habis nutrisi tanahnya sebelum pindah ke lahan lain. 

  1. Penggunaan berlebihan pupuk dan pestisida

Pupuk dan pestisida yang digunakan secara berlebihan demi memaksimalkan hasil tani secara singkat akan berujung pada polusi tanah. Ke depannya, tanah yang sebelumnya subur setelah menerima terlalu banyak pupuk dan pestisida akan berubah menjadi kering, sehingga tidak bisa digunakan sebagai lahan bertani lagi karena tanahnya sudah terlalu rusak.

  1. Urbanisasi 

Urbanisasi, adalah proses memusatkan sejumlah populasi secara permanen di suatu daerah agar dapat berkembang menjadi sebuah kota. Urbanisasi menjadi pendorong desertification karena kegiatan ini mengubah lahan hijau menjadi lahan hunian modern, yang mana melibatkan penebangan hutan, eksploitasi sumber daya hutan, merusak tanah melalui bahan kimia, dan sebagainya. 

  1. Climate change

Perubahan iklim atau climate change merupakan salah satu penyebab utama terjadinya desertification di suatu area. Naiknya temperatur iklim mendorong terjadinya kekeringan lebih banyak daripada biasanya, sehingga bukan tidak mungkin suatu daerah menjadi gersang seperti gurun dan tidak layak huni lagi ke depannya.

  1. Eksploitasi tambang

Sudah menjadi rahasia umum kalau kegiatan tambang erat kaitannya dengan eksploitasi, bukan? Kebutuhan bahan tambang seperti minyak, gas, dan mineral yang semakin tinggi membuat industri tambang harus mengeruk habis-habisan sumber daya yang tidak dapat diperbaharui tersebut. Selain bioma di dalam tanah terancam mati, tanah juga akan rusak dan menjadi kering, yang mana tidak dapat disuburkan kembali dan mendorong terjadinya desertification.



  1. Pengelolaan air yang tidak berkelanjutan

Last but not least, desertification juga disebabkan oleh pemanfaatan air di lahan kering yang tidak efektif dan efisien. Lahan kering atau drylands memiliki siklus pengelolaan airnya sendiri yang mampu membuat tumbuhan di lahan tersebut hidup dan bertahan sampai musim hujan berikutnya. Namun, desertification dapat terjadi saat kita merubah siklus tersebut melalui pengambilan air secara berlebihan dari sungai atau air tanah untuk mengairi tanaman dengan harapan tumbuhan yang kita tanam—untuk bertani atau pakan ternak, tumbuh lebih subur sepanjang tahun.

Eits, sebelum lanjut scrolling, kamu sudah tahu belum, ancaman desertification juga menghampiri Indonesia? Sedih ya, mendengarnya. Desertification ini terjadi di Nusa Tenggara Timur, khususnya di Kabupaten Sabu Raijua dan Sumba Timur. Dua daerah dengan curah hujan rendah tersebut mengalami kemarau yang cukup panjang. Selain itu, eksploitasi air tanah serta pembukaan lahan tambang jadi faktor lain yang mendorong terjadinya desertification di daerah itu. 

That’s why, kamu harus tahu seberapa jauh desertification merusak lingkungan kita. Simak lebih lanjut di bawah ini, ya!

LALU, APA DAMPAK DESERTIFICATION BAGI LINGKUNGAN?

Ilustrasi desertification di lahan tambang. (pexels.com/@farlight

Setelah membahas mengenai penyebab desertification, rupanya semua poin yang disebutkan sudah tidak asing lagi karena terjadi di sekitar kita, betul? Maka dari itu, kita patut waspada terhadap bahaya yang ditimbulkan jika terjadi desertification. 

Simak poin-poin di bawah ini untuk paham bahaya dari desertification bagi lingkungan.

  • Tanah menjadi tidak subur 

Tanah lapisan atas sangat penting untuk pertumbuhan tanaman karena mengandung sebagian besar kandungan organik dan nutrisi penting. Namun, desertification membuat lapisan atas tanah tersapu dari permukaan lebih cepat karena tidak ada vegetasi yang akan melindunginya dan kandungan organik juga hilang. Tanah jadi kering dan mengeras sehingga saat hujan turun, air sulit untuk menembus ke bawah permukaan tanah. Pada akhirnya, lahan tidak bisa ditanami tumbuhan dan hanya tersisa tumpukan tanah kering.

  • Rentan terjadi bencana alam 

Desertification mengurangi ketahanan alami ekosistem suatu lahan sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya bencana alam dan efek tidak terduga dari perubahan iklim di suatu area. Banjir bandang, tanah longsor, dan badai debu menjadi lebih parah di area desertification. Ini karena tidak ada tanaman yang dapat menjaga kestabilan tanah dan menahan aliran air hujan, sehingga bencana seperti banjir dan tanah longsor akan terjadi lebih cepat di lahan desertification.

Banjir yang terjadi bukan hanya akan menyebabkan kerusakan, namun membawa banyak polutan yang tidak diinginkan saat mengalir melalui daerah perkotaan, tempat pembuangan sampah, lahan pertanian tempat pupuk dan pestisida digunakan, serta banyak lagi. Selain banjir, badai debu dan/atau pasir juga jadi dampak buruk utama dari desertification bagi alam. Partikel yang tertiup angin dapat menempuh jarak yang jauh dan menyebabkan masalah kesehatan bagi orang-orang bahkan sampai ke daerah perkotaan. 

  • Pencemaran sumber air minum

Tumbuhan, khususnya pohon, memegang peranan penting untuk membersihkan air, di mana mereka berperan sebagai penyaring air alami yang menahan polutan seperti logam berat dan residu pestisida. Namun, lahan yang gersang karena terjadi desertification tidak memiliki penyaring alami ini karena tidak ada tumbuhan yang dapat hidup di sana. Itulah mengapa banyak zat berbahaya yang dapat masuk ke dalam air di dalam tanah atau hanyut ke sungai atau danau.  

  • Punahnya keanekaragaman hayati

Dampak buruk desertification yang sudah disebutkan sebelumnya seperti kekeringan, banjir, serta perubahan suhu yang tiba-tiba dan berkepanjangan akan mempengaruhi kehidupan flora dan fauna secara signifikan. Perubahan ekosistem mengharuskan mereka untuk beradaptasi atau bermigrasi ke tempat yang lebih menguntungkan. Jika mereka gagal melakukannya, besar kemungkinan mereka akan punah. 

Kepunahan flora dan fauna merupakan alarm bahaya yang tidak boleh kita biarkan karena keberadaan mereka merupakan hal yang krusial bagi keseimbangan kehidupan di alam, termasuk bagi kita manusia.

JADI, BAGAIMANA CARA MENCEGAH DESERTIFICATION?

Ilustrasi menyiram bibit pohon. (Sumber: pexels.com/@thirdman) 

 

  • Edukasi tentang praktik pemanfaatan alam yang berkelanjutan

Paham bagaimana memanfaatkan sumber daya alam yang ramah lingkungan adalah hal paling mudah dan krusial yang bisa kita lakukan untuk turut andil dalam mencegah desertification. Contohnya, petani mengerti cara yang efektif dan efisien dalam mengelola lahan untuk bertani. Dampak dari paham tentang konsep dasar praktik berkelanjutan ini akan berlaku jangka panjang untuk kelestarian alam serta menyelamatkan lebih banyak lahan dari desertification.

  • Reforestation 

Reforestation atau penanaman hutan kembali di hutan yang gundul merupakan langkah pencegahan yang bisa dilakukan. Menanam pohon kembali di hutan yang gundul sangat penting untuk dilakukan mengingat pohon merupakan tempat menyimpan karbon dioksida alami yang dapat memperlambat pemanasan global sehingga membantu menjaga keseimbangan alam. Tidak hanya mencegah desertification, reforestation juga akan mencegah masalah lingkungan lainnya.

  • Membatasi kegiatan pertambangan

Eksploitasi sumber daya tambang harus dihindari karena bisa menyebabkan kerusakan pada area sekitar. Pemerintah perlu bekerja sama dengan masyarakat untuk mewujudkan pertambangan yang berkelanjutan agar dapat melindungi flora dan fauna di sekitar area tambang. Langkah ini diharapkan dapat mencegah dan mengurangi masalah desertification.

  • Implementasi kebijakan tentang penggunaan lahan

Kebijakan sebagai fondasi dari kehidupan masyarakat dalam suatu negara memegang peranan penting terutama untuk pemanfaatan sumber daya alam. Menerapkan kebijakan mengenai penggunaan lahan seperti contohnya pengelolaan lahan pertanian—seberapa sering dan seberapa banyak sebuah lahan dapat digunakan untuk aktivitas pertanian—akan membantu menghindari penggunaan lahan secara berlebihan yang dapat mengarah pada desertification.

Bagaimana, apakah kamu jadi lebih paham tentang desertification setelah membaca tulisan ini? Secara garis besar, dapat disimpulkan bahwa desertification adalah kerusakan alam yang harus kita hindari agar keseimbangan alam tetap terjaga. Kamu bisa ikut andil dalam mencegah desertification lewat hal-hal sederhana seperti tidak membuang sampah sembarangan dan membawa botol air minum sendiri, because simple acts of kindness for nature go a long way!

References: 

National Geographic: Desertification

Britannica: Desertification

Conserve Energy Future: Causes, Effects, Solutions of Desertification

Greentumble: Causes and Effects of Desertification

Mongabay: Desertifikasi



This article is written by Amalia Diva

 

What Makes California So Susceptible to Wildfires? image

What Makes California So Susceptible to Wildfires?.

With at least a dozen wildfires, some over 100,000 acres, burning in California right now, it's hard to keep track of exactly what's going on.

Megafires used to be rare, but they're becoming more and more common, especially in California, which has been hit repeatedly by extreme weather events, including heat waves, drought and dry lightning. These humongous fires were rare in California before 2003 — but 17 of the 20 largest fires in the state’s history have occurred since then, according to state data.

Fires in California 2021


There are four key ingredients to the disastrous wildfire seasons in the West, and climate change is a key culprit.

“Fire, in some ways, is a very simple thing,” said Park Williams, a bioclimatologist at Columbia University’s Lamont-Doherty Earth Observatory. “As long as stuff is dry enough and there’s a spark, then that stuff will burn.”

California, like much of the West, gets most of its moisture in the fall and winter. Its vegetation then spends much of the summer slowly drying out because of a lack of rainfall and warmer temperatures. That vegetation then serves as kindling for fires.

But while California’s climate has always been fire prone, the link between climate change and bigger fires is inextricable. “This climate-change connection is straightforward: warmer temperatures dry out fuels. In areas with abundant and very dry fuels, all you need is a spark,” he said.

The Creek Fire in Madera County, Calif., in September.

Even if the conditions are right for a wildfire, you still need something or someone to ignite it. Sometimes the trigger is nature, like the unusual lightning strikes that set off the L.N.U. Lightning Complex fires in August, but more often than not humans are responsible, said Nina S. Oakley, a research scientist at the Center for Western Weather and Water Extremes at the Scripps Institution of Oceanography, University of California, San Diego.

Many deadly fires have been started by downed power lines. The 2018 Carr Fire, the state’s sixth-largest on record, started when a truck blew out its tire and its rim scraped the pavement, sending out sparks. And some are started through bad decisions, like the fire that was ignited by smoke-generating fireworks as part of a gender-reveal party east of Los Angeles.

Events like gender reveal parties can trigger a blaze, Dr. Oakley noted, but “you also have the human contribution to wildfire,” which includes the warming that has been caused by greenhouse gas emissions and the accompanying increased drying. Both contribute “to creating a situation favorable to wildfire,” she said.

“California has a lot of people and a really long dry season,” Dr. Williams said. “People are always creating possible sparks, and as the dry season wears on and stuff is drying out more and more, the chance that a spark comes off a person at the wrong time just goes up. And that’s putting aside arson.”

There’s another way people have contributed to wildfires: in their choices of where to live. People are increasingly moving into areas near forests, known as the urban-wildland interface, that are inclined to burn.

A wildfire approached Interstate 80 near Vacaville, Calif., in August.

It’s counterintuitive, but the United States’ history of suppressing wildfires has actually made present-day wildfires worse.

“For the last century we fought fire, and we did pretty well at it across all of the Western United States,” Dr. Williams said. “And every time we fought a fire successfully, that means that a bunch of stuff that would have burned didn’t burn. And so over the last hundred years we’ve had an accumulation of plants in a lot of areas.

“And so in a lot of California now when fires start, those fires are burning through places that have a lot more plants to burn than they would have if we had been allowing fires to burn for the last hundred years.”

In recent years, the United States Forest Service has been trying to rectify the previous practice through the use of prescribed or “controlled” burns.

Fire consumes a home as the Sugar Fire, part of the Beckwourth Complex Fire, tears through Doyle, California, on Saturday, July 10, 2021.

Each fall, strong gusts known as the Santa Ana winds bring dry air from the Great Basin area of the West into Southern California, said Fengpeng Sun, an assistant professor in the department of geosciences at the University of Missouri-Kansas City.

Dr. Sun is a co-author of a 2015 study that suggests that California has two distinct fire seasons. One, which runs from June through September and is driven by a combination of warmer and drier weather, is the Western fire season that most people think of. Those wildfires tend to be more inland, in higher-elevation forests.

But Dr. Sun and his co-authors also identified a second fire season that runs from October through April and is driven by the Santa Ana winds. Those fires tend to spread three times faster and burn closer to urban areas, and they were responsible for 80 percent of the economic losses over two decades beginning in 1990.

It’s not just that the Santa Ana winds dry out vegetation; they also move embers around, spreading fires.

Which brings us back to climate change.

Ultimately, determining the links between any individual fire and climate change takes time, and analysis from the evolving discipline of attribution science. But the effects of the greenhouse gases humans produce underlie everything that occurs in the atmosphere, and the tendency of climate change to make dry places more dry over time is a warning to the West of a fiery future.





This article is summarised from NY Times, originally written by By Kendra Pierre-Louis and John Schwartz.