Dirtiest River in the World image

Dirtiest River in the World.

Can you guess the dirtiest river in the world?

Kalau jawabanmu Sungai Gangga, jawabanmu benar! 



  1. Sungai Gangga di India

 

Sungai Gangga atau Ganges River yang terletak di India merupakan sungai tercemar di dunia. Sungai ini adalah sungai ketiga terbesar di dunia, dan digunakan sebagai tempat pembuangan sampah 2 miliar orang! Sampah-sampah tidak hanya mengapung, tapi banyak yang tercampur aduk.

 

Tercampur aduk?

 

Ya. Sungai ini menerima 4.8 miliar liter, setara dengan 1.3 miliar galon sampah air kotoran tiap harinya. Selain itu, sungai Gangga dianggap sakral oleh penganut agama Hindu, sehingga mayat manusia dibakar dan ditenggelamkan di sungai ini.

 

Sempat viral di bulan Juni, banyak jasad manusia kembali terbawa ke pesisir sungai. Ternyata, jasad-jasad berbalut kain berwarna safron ini merupakan korban Covid-19. 

 

Pemerintah mengakui, banyak keluarga membiarkan jenazah terapung di sungai suci itu lantaran tidak mampu membayar ongkos pemakaman atau kremasi. Sebagian memakamkan jasad anggota keluarga di dalam lubang dangkal di bantaran sungai.

Image source: DW.com





  1. Sungai Citarum di Jawa Barat

 

Yep! It’s in our home country.

Bahkan, beberapa source seperti Clean Waste Organisation menganggap Sungai Citarum lebih kotor dibandingkan Sungai Gangga di India. Pada tahun 2008, Sungai Citarum dinobatkan sebagai sungai terkotor oleh World Bank. Not something to be proud of!

 

Pada tahun 2008, permukaan air sungai ini bahkan tidak nampak karena banyaknya sampah plastik yang mengapung. Tidak hanya sampah plastik rumah tangga, terdapat banyak limbah kimia, peternakan, dan limbah pabrik. Untungnya, karena sempat viral, pemerintah akhirnya mengambil aksi untuk memperbaiki keadaan ini. 

 

Presiden Joko Widodo yakni “Citarum Harum”. Pada intinya keseluruhan program tersebut dilakukan dengan tujuan memulihkan dan mengembalikan ekosistem DAS Citarum agar kondisinya dapat menjadi baik, namun sering kali program yang digencarkan mengalami kendala dalam pelaksanaan.

Image source: IDN Times



  1. Yellow River

Terletak di China, sungai ini adalah rumah bagi limbah industri yang sangat pesat beserta limbah dari kegiatan batu bara. 

 

Air dari sungai Kuning ini sangat beracun karena tercampur aduk dengan limbah kimia. Bahkan, air tersebut terlalu beracun untuk pertanian! Regardless, masyarakat masih bergantung pada sungai untuk air minum. Akibatnya, water-borne diseases  merajalela. Mulai dari malaria, keracunan merkuri & arsenik, kanker, hingga cacat lahir. Baru akhir-akhir ini Pemerintah China akhirnya melakukan upaya untuk mencegah masyarakat meminum air dari sungai ini.

 

Image source: South China Post



Source: 

Northrop Grumman; Konservasi DAS Universitas Gadjah Mada; Detik News; Open Environmental Sciences Academic Journal



This article is written by Cindy T

 

The Great Garbage Patch image

The Great Garbage Patch.

How grossed out are you when you see the below picture?

Photo source: Liputan6.com / Nefri Inge



Ini adalah foto Sungai Musi di Palembang.

Dari sebuah berita yang diliput oleh tim Liputan6, sang narasumber berkata bahwa petugas kebersihan sering mengambil sampah di pangkal sungai, namun tetap tidak ada perbedaannya dari hari ke hari.

Tapi, tahukah kamu kalau sungai ini masih tidak ada apa-apanya di banding dengan The Great Garbage Patch? 

 

What Is It?

The Garbage Patch adalah kumpulan sampah plastik yang mengapung di permukaan laut. Garbage Patch bukan hanya satu lokasi saja. Sejauh ini, sudah diidentifikasi 5 lokasi garbage patch yang akan kita bahas lagi dibawah.

 

What are the obstacles to clean the great Pacific garbage patch?

Salah satu garbage patch yang sudah diidentifikasi, The Great Pacific Garbage Patch. Source: Latin American Post

 

Menurut United Nations Environmental Programme, pada tiap satu mil persegi lautan terdapat 46.000 plastik. Diperkirakan luas garbage patch berkisar 700.000-15.000.000 kilometer persegi. Padahal, riset menunjukkan bahwa sekira 70% sampah laut pada akhirnya tenggelam. 

 

Sampah ini terperangkap karena pusaran arus laut yang dipengaruhi oleh rotasi bumi dan angin atau disebut gyres.  Selain itu, garbage patch semakin berkembang karena jumlah sampah manusia yang terus meningkat. Diperkirakan terdapat sekitar 100 juta ton plastik yang dihasilkan per tahunnya, di mana 10% diantaranya terbawa ke laut. 

 

Source: https://marinedebris.noaa.gov/

 

Faktanya, plastik tidak dapat terurai sempurna, tetapi menjadi potongan kecil dengan polimer atau susunan kimia yang tidak berubah. Potongan kecil inilah yang disebut mikroplastik.

Sebutan patch sedikit menyesatkan pemahaman masyarakat di mana garbage patch dianggap sebagai pulau sampah. Padahal sampah plastik yang terkumpul terdiri dari berbagai ukuran, dari jaring ikan besar hingga mikroplastik. Sehingga, memungkinkan bagi kapal untuk berlayar melewati garbage patch. Penelitian menemukan 46% dari patch terdiri dari jaring ikan.




Ocean Trash Map

Diperkirakan sekitar 80% sampah ini berasal dari sungai dan daratan, yang mana sebagian besarnya berasal dari Amerika Utara dan Asia. Sedangkan 20% lainnya berasal dari kapal kargo besar, kapal pesiar, serta anjungan minyak lepas pantai yang membuang puing ke laut.

 

Dibawah ini merupakan peta yang menunjukan darimana sampah laut berasal. Apakah kamu bisa melihat Indonesia?

 

Peta ini menunjukan dari mana sampah laut berasal. Source: The Weather Channel | Alfred-Wegener-Institut/AWI-Litterbase

 

Nope! Negara Indonesia hampir tertutup di peta ini karena kita adalah negara kedua terbesar penyumbang limbah plastik! 

 

Pada tahun 2010 saja, 8,8 juta metrik ton sampah plastik yang tidak dikelola dibuang oleh negara China. Dari estimasi peneliti, kurang lebih 3,53 juta metrik ton dari sampah plsatik tersebut berakhir di lautan. 

 

Indonesia sendiri membuang 3,2 juta metrik ton sampah plastik tanpa pengelolaan apapun,dan  diperkirakan 1,29 juta metrik ton menjadi sampah plastik laut.

 

Menurut laporan yang dibuat oleh Wall Street Journal, total limbah plastik dari kedua negara ini merepresentasikan sepertiga dari total seluruh limbah plastik yang ada di perairan global!







Identified Patches

Sayangnya, The Great Garbage Patch ini bukan hanya terletak di satu lokasi, tapi di berbagai lokasi. Berikut adalah garbage patch yang sudah dapat diidentifikasi.

 

 

The Great Pacific Garbage Patch

The Great Pacific Garbage Patch terletak di bagian tengah utara Samudera Pasifik. S Sampah yang terkumpul berasal dari Lingkar Pasifik, yakni Asia, Amerika Utara, dan Amerika Selatan. Patch ini terbilang paling terkenal dibanding yang lain, sebab ukurannya yang sangat besar. Tahun 2018, luas Great Pacific Garbage Patch mencapai 1,6 juta kilometer persegi, di mana 94% nya terdiri dari mikroplastik. Sekira 80.000 ton plastik atau setara 500 jet jumbo mengapung di Great Pacific Garbage Patch.



The South Pacific Garbage Patch

Terletak di South Pacific Gyre yang terbentang dari perairan timur Australia hingga Amerika Selatan, patch ini ditemukan tahun 2007, di mana belum terdeteksi oleh satelit karena sebagian besarnya tersusun oleh plastik seukuran beras.

 

The North Atlantic Garbage Patch

Terletak di Atlantik Utara, patch ini ditemukan tahun 1972. Berdasarkan penelitian Asosiasi Pendidikan Laut, diperkirakan patch ini berukuran ratusan kilometer dengan konsentrasi lebih dari 200.000 partikel per kilometer persegi.

 

The South Atlantic Garbage Patch

Terletak ratusan mil dari lepas pantai Amerika Utara,  South Atlantic Garbage Patch juga sebagian besarnya terdiri dari mikroplastik, yakni sekira 200.000 partikel per kilometer persegi.

 

The Indian Ocean Garbage Patch

The Indian Ocean Garbage Patch ​​terletak di pusat Samudera Hindia. Patch ini ditemukan tahun 2010 dan tersusun oleh plastik yang terurai menjadi mikroplastik. Diperkirakan konsentrasi mikroplastik sekira 10.000 partikel per kilometer persegi.

 

The Effects

1. Terbunuhnya burung dan hewan laut

Banyaknya plastik di laut seringkali membuat hewan laut ataupun burung terbunuh, karena menganggap plastik sebagai makanannya. Seperti penyu yang melihat kantung plastik sebagai ubur-ubur. Bahkan, diperkirakan bahwa jumlah plastik di garbage patch, 180 kali lebih banyak dibanding dengan makanan dan hewan di laut.

Source: Francis Perez

2. Tertangkapnya ikan tanpa nelayan atau pemancingan hantu

Keberadaan sampah plastik di laut, khususnya jaring ikan yang terbuang, mengakibatkan beberapa hewan laut terjerat, meskipun tidak ada nelayan. Akibatnya, risiko kematian hewan laut pun meningkat.

3. Ikan yang mengandung plastik

Plastik yang terurai menjadi mikroplastik seringkali tertelan oleh hewan laut, karena ukurannya yang kecil dan tercampur oleh air laut. Akibatnya, terdapat mikroplastik pada sebagian besar hewan laut yang membahayakan apabila dikonsumsi manusia.

4. Plastik menghasilkan racun

Plastik yang terurai menjadi mikroplastik melepaskan bahan kimia beracun seperti BPA atau bisphenol A dan PCB atau turunan dari polistirena, yang tentu saja mengancam kehidupan hewan laut. Peneliti menemukan bahwa 84% sampel yang diambil dari garbage patch mengandung bahan kimia beracun, yakni Persistent Bio-accumulative Toxic (PBT).

Source: The Ocean Clean Up

5. Mencegah masuknya sinar matahari

Plankton, alga, dan ganggang yang ada di laut tidak dapat berfotosintesis karena tidak mendapat sinar matahari yang cukup. Akibatnya, terjadi gangguan pada rantai makanan di laut.

6. Membahayakan navigasi dan merusak kapal

Seringkali sampah plastik di laut tidak terdeteksi atau terlihat oleh awak kapal. Sehingga, kapal bisa saja menabrak sampah tersebut. Akibatnya, sampah dapat terjerat pada baling-baling kapal hingga menyumbat saluran.

 

What Can We Do?

    • Memilah sampah organik dengan sampah anorganik untuk mempermudah proses daur ulang

    • Mengurangi penggunaan plastik sekali pakai

    • Mendukung organisasi yang bekerja untuk memberantas plastik laut

    • Menjadi relawan dalam upaya pembersihan laut di wilayah pesisir

    • Memberikan donasi pada NGO terkait

    • Memberitahu pihak berwenang setiap kali Anda mengetahui atau menyaksikan pelanggaran terkait pengelolaan sampah plastik

    • Berkontribusi untuk menyebarkan kesadaran akan masalah dan di antara orang-orang di sekitar Anda.





Source:

National Geographic; The Ocean Clean Up; National Marine Sanctuary Foundation; World; Wide Foundation (WWF); Marine Debris Program National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA); Liputan6; The Weather Channel; Ranker

This article is written by E.J. Syamsy & Cindy T.

 

Why is the Greet Barrier Reef not Listed "In Danger"? image

Why is the Greet Barrier Reef not Listed "In Danger"?.

After much anticipation, the World Heritage Committee on Friday decided against listing the Great Barrier Reef as “in danger”.

The decision ignored the recommendation of the International Union for Conservation of Nature (IUCN) and the UNESCO World Heritage Centre — a recommendation based on analyses by Australian scientific experts of the reef’s declining condition.

In many ways, the outcome from the committee was expected. The Australian government fought very hard against this decision, including lobbying all the committee members, as it has done in previous years.

There was consensus among most of the 21 committee members to not apply the in-danger listing at this time. Instead, Australia has been requested to host a joint UNESCO/IUCN monitoring mission to the reef and provide an updated report by February, 2022.

This decision has only postponed the inevitable. It does not change the irrefutable evidence that dangerous impacts are already occurring on the Great Barrier Reef. Some, such as coral bleaching and death from marine heatwaves, will continue to accelerate.

The reef currently meets the criteria for in-danger listing. That’s unlikely to improve within the next 12 months.

Political distractions

Last month, the World Heritage Committee released its draft decision to list the reef as in-danger, noting the values for which the reef was internationally recognised had declined due to a wide range of factors. This includes water pollution and coral bleaching.

The draft decision had expressed concerns that Australia’s progress:

has been largely insufficient in meeting key targets of the Reef 2050 Plan [and the] deterioration of the ecological processes underpinning the [Reef has] been more rapid and widespread than was previously evident.

A photo depicting two threats to the Great Barrier Reef: coal ships anchored near Abbot Point and a flood plume from the Burdekin River (February 2019); such plumes can carry pollutants and debris to the Great Barrier Reef. Matt Curnock

In response, the government claimed it was “blindsided”, and said the UNESCO Secretariat hadn’t followed due process in recommending the decision. It also suggested there had been undue interference from China in making the draft recommendation.

These were political distractions from the real issues. During last night’s debate, one committee member strongly refuted the claims about interference from China and expressed concerns the dialogue had become unnecessarily politicised.

Following the draft decision, the intense campaign to reverse the decision began, with environment minister Sussan Ley undertaking a whirlwind visit to numerous countries to meet with ambassadors.

The government even hosted international ambassadors from 13 countries and the EU, taking them on a snorkelling trip. And it reported an increase in coral cover over the past two years as good news, ignoring the fact the assessment had cautioned the recovery was driven by weedy coral species most vulnerable to future climate impacts.

This wasn’t the first time Australia has undertaken significant levels of diplomatic lobbying of World Heritage Committee members to gain support for its position.

In 1999, Australia also strongly opposed the recommended in-danger listing of Kakadu National Park, following the Jabiluka mine proposal. This led to an extraordinary meeting of the committee being convened in Paris, specifically to discuss this matter.

More focus on climate change

During its current meeting, the World Heritage Committee approved the draft UNESCO Climate Action Policy, which will guide the protection and conservation of World Heritage sites.

This policy will be ratified at the UN General Assembly later this year, but the fact it’s still a draft was one of several excuses the Australian government made as to why the reef should not be “singled out”.

The reef is one of the most iconic marine protected areas on the planet. Given Australia continues to have one of the highest per capita emission rates in the world, and has more capacity to address climate change than most other countries, it makes sense for the spotlight to be on Australia’s actions.

Marine heatwaves and water pollution are major threats to the Great Barrier Reef. Photo: Sam Power.

Not surprisingly, climate change was the central issue during the committee’s debate last night. UNESCO is now more focused on climate change than ever before, recognising the “window of opportunity to act” is now.

The delegates broadly agreed climate change remains the most serious threat, not just to the Great Barrier Reef but also to many other iconic World Heritage properties. Venice, for example, also dodged a potential in-danger listing at this meeting.

Rather than making challenging decisions now, it’s clear the committee is simply kicking the can down the road.

Some committee members remarked during the meeting about the need to “maintain the credibility of the Convention” and acknowledged that the world is watching. The spotlight on the reef, and on Australia, will only intensify in coming years.

The government’s own report from 2019 shows many of the values for which the reef was inscribed on the World Heritage list in 1981 have declined in recent decades. Yet every delay weakens Australia’s claim it is doing all it can to protect the reef.

Later this year, the next major international climate summit will be held in Glasgow, Scotland, where even more attention will be placed on Australia’s inadequate actions.

An in-danger listing is not a punishment

It’s important to remember that throughout the meeting, UNESCO and the committee made it clear an in-danger listing is not a sanction or punishment. Rather, it’s a call to the international community that a World Heritage property is under threat, thereby triggering actions to protect it for future generations.

Now, more than ever, it is important to expand efforts to reduce the locally manageable impacts, such as poor water quality, while rapidly accelerating action on climate change.

These efforts must occur locally, nationally and globally. Reducing greenhouse gas emissions is critical to stop the worst of the impacts now unfolding, not just on the reef, but on all the world’s natural and cultural heritage.

This article is republished from The Conversation under a Creative Commons license. Authors: Jon C. Day, PSM, Adjunct Senior Research Fellow, ARC Centre of Excellence for Coral Reef Studies, James Cook UniversityScott F. Heron, Associate Professor, James Cook University, and Terry Hughes, Distinguished Professor, James Cook University.

Coral Bleaching image

Coral Bleaching.

What Is It?

Coral bleaching adalah kondisi memutihnya karang karena kehilangan zooxanthellae atau alga pemberi warna. Coral bleaching merupakan tahap awal dari kematian terumbu karang.

 

Image source: BBC

History of Coral Bleaching in Indonesia

Coral bleaching di Indonesia sudah dicermati sejak tahun 1982. Nyatanya, fenomena coral bleaching ini semakin banyak ditemukan dan keadaanya semakin memburuk.

  • Tahun 1982-1983, menjadi awal coral bleaching di Indonesia. Ditemukan kematian terumbu karang di beberapa kawasan, seperti Selat Sunda, Kep. Seribu, dan Karimun Jawa.
  • Tahun 1997-1998, terjadi peningkatan suhu laut global, sekira 2°C. Akibatnya dunia kehilangan 16% terumbu karangnya. Sedangkan di Indonesia, tepatnya di Sumatera Barat, Gili Matra, dan Lombok, 90% karangnya mati
  • Tahun 2009-2010, di Aceh mengalami kematian karang sekira 35%. Lalu di Pulau Weh, terjadi kematian karang sekira 60%. Selain itu,  Wakatobi juga mengalami coral bleaching sekira 65%
  • Tahun 2015-2016, suhu laut mencapai 30,5°C. Akibatnya, di Gili Mantra, NTB serta Kep. Natuna mengalami coral bleaching sekira 50%
  • Tahun 2017, tercatat bahwa Indonesia hanya memiliki 6,39% karang yang sangat baik, 23,40% yang baik, lalu 35,06% kategori cukup, dan 35,15% kategori kurang baik.

 

Image: Coral Bleaching in Bali

Source: Reef Bulders

What Caused It?

1. Sinar matahari dan suhu perairan

Salah satu penyebab meningkatnya suhu udara dan permukaan laut adalah paparan sinar matahari dan sinar UV yang berlebihan. Climate change dan global warming menjadi penyebab utama coral bleaching.

2. Polusi

Limbah yang mengandung bahan kimia yang terbuang di laut, dapat mempengaruhi tingkat pH atau keasaman air laut. Tingginya karbon dioksida dan pengasaman laut dapat memicu coral bleaching.

3. Kadar garam yang tidak normal dan kekeruhan pada air laut

Salinitas atau kadar garam yang rendah serta air laut yang sangat keruh dapat membunuh terumbu karang.

4. Membuang sampah sembarangan

Timbunan plastik di air laut dapat mengganggu dan merusak terumbu karang sebagai ekosistem di laut.

 

Did You Know?

1. Terumbu karang merupakan ekosistem tertua di bumi. Terumbu karang membutuhkan 5.000-10.000 tahun untuk terbentuk.

2. Meskipun jumlah terumbu karang hanya 1% di permukaan bumi, tapi karang merupakan rumah bagi 25% makhluk hidup di laut.

3. Terumbung karang adalah penghalang alami yang dapat mencegah erosi laut.

4. Batu kapur karang berpori dapat membantu pencangkokan tulang bagi manusia.

5. Indonesia memiliki 2/3 jenis karang yang ada di dunia. Yakni, 569 jenis dari 82 marga dan 15 suku dari total 845 jenis karang di dunia. Pun, Indonesia juga memiliki 2.200 spesies ikan karang.

6. Wilayah perairan Papua, tepatnya Raja Ampat dan Halmahera, menjadi lokasi dengan kekayaan jenis paling tinggi di Indonesia.

7. Dalam UU Nomor 4 tahun 2011, Indonesia memiliki terumbu karang seluas 2,5 juta hektar. Di mana terhitung 18% dari luas total terumbu karang di dunia.

 

What Has The Government Done About It?

Pemerintah Indonesia telah melakukan survei dan pendataan beberapa kawasan terumbu karang di Indonesia. Hal ini merupakan bentuk upaya pemerintah dalam melakukan pengawasan dan pemeliharaan terumbu karang di Indonesia.

 

Selain itu, pemerintah juga mengembangkan 30 juta hektar perairan laut Indonesia sebagai kawasan konservasi laut. Seperti, Cagar Alam Laut, Suaka Margasatwa Laut, Taman Nasional Laut, serta Taman Wisata Alam Laut. Pemerintah juga aktif dalam melakukan kampanye penyelamatan terumbu karang serta transplantasi terumbu karang.

 

Presiden Jokowi sempat memberikan penghargaan Kalpataru kepada Kelompok Nelayan Samudera Bakti, di Banyuwangi Jawa Timur, karena turut andil dalam penyelamatan terumbu karang. Saat ini, para nelayan telah menanam ribuan transplantasi terumbu karang di dasar laut.

 

Image source: Dihi

What Can We Do About It?

1. Jangan menginjak ataupun menyentuh terumbu karang

Sebab terdapat beberapa karang yang beracun dan berbahaya.

2. Gunakan tabir surya/ sunscreen yang ramah lingkungan

Periksa kembali komposisi tabir surya kita, sebab beberapa kandungan tabir surya dapat memicu coral bleaching. Hindari penggunaan tabir surya berbahan oxybenzone, octinoxate, octocrylene, homosalate, 4-methylbenzylidene camphor, PABA, paraben, triclosan

3. Konsumsi sustainable seafood

Pelajari Kembali bagaimana cara mengolah dan memilih seafood yang menyehatkan, namun tetap ramah lingkungan.

4. Hemat dalam menggunakan air dan periksa kembali pembuangan air di rumah

Semakin sedikit air yang digunakan, maka sedikit pula limbah air yang terbuang ke laut. Selain itu, pastikan limbah yang mengandung bahan kimia, seperti air cucian baju tidak mengalir ke pembuangan yang mengarah ke laut.

5. Donation and Volunteering

Berdonasi dan menjadi sukarelawan di pantai dapat menjadi tindakan nyata kita dalam menjaga kelestarian pantai dan laut.

 

Let’s make coral colorful again. Save the coral, protect the reef.

 

Source:

Climatechange.lta.org

Pgsp.big.go.id

Mongabay.co.id

Phinemo.com



This article is written by E.J. Syamsy 

Interrelasi Fashion Terhadap Polusi dan Konsumsi Air image

Interrelasi Fashion Terhadap Polusi dan Konsumsi Air.

FASHION & POLUSI AIR

Mayoritas pabrik tekstil di negara berkembang termasuk Indonesia, air limbah beracun dari pabrik tekstil dibuang langsung ke sungai tanpa pengolahan terlebih dahulu. Padahal, air limbah ini mengandung zat beracun seperti timbal, merkuri, dan arsenik. 

Tentunya hal ini sangat berbahaya bagi kehidupan akuatik dan kesehatan jutaan orang yang tinggal di tepi sungai. Tidak berhenti disitu, kontaminasi juga akan mencapai laut dan akhirnya menyebar ke seluruh dunia.

Sumber utama pencemaran air lainnya adalah penggunaan pupuk untuk produksi kapas, yang sangat mencemari air limpasan dan air penguapan.



APA YANG BISA KITA TERAPKAN?

  • Pilihlah kain alami dan organik

  • Apabila Anda membeli katun, pastikan lah brand tersebut dapat memastikan bahwa katun tersebut memiliki certifikat OEKOTEX.

FASHION & KONSUMSI AIR


Industri fashion adalah konsumen air terbesar.  Proses pewarnaan dan finishing untuk semua pakaian memerlukan aiir bersih dalam jumlah besar. Sebagai referensi, dibutuhkan hingga 200 ton air bersih per ton kain yang diwarnai.

Selain itu, tanaman kapas membutuhkan banyak air untuk tumbuh dibandingkan dengan tanaman lainnya seperti linen. Tahukah kamu bahwa untuk menghasilkan 1 kg kapas membutuhkan hingga 20.000 liter air?

Hal ini menimbulkan tekanan luar biasa pada sumber daya yang berharga ini. Konsekuensi ekologis yang diakibatkan antara lain penggurunan di Laut Aral, di mana air telah terkuras seluruhnya.


85 % kebutuhan air yang dibutuhkan oleh seluruh populasi masyarakat India bisa dipenuhi dengan air yang digunakan untuk mengelola katun di Amerika Serikat.
100 juta orang di India tidak memiliki akses air bersih."
— Stephen Leahy, The Guardian


APA YANG BISA KITA TERAPKAN?

  • Pilihlah kain dari tumbuhan lainnya seperti ramie, bamboo dan linen

  • Apabila membeli katun, usahakan membeli katun organik, dimana katun tersebut diolah menggunakan 60% air lebih sedikit dibandingkan katun umum


FASHION & SERAT MIKROPLASTIK

Setiap kali kita mencuci pakaian sintetis (poliester, nilon, dll), sekitar 1.900 mikrofiber dilepaskan ke air dan masuk ke lautan kita. Hal ini tidak berhenti disini. Para ilmuwan telah menemukan bahwa organisme air kecil menelan mikrofiber tersebut. Ini kemudian dimakan oleh ikan kecil yang kemudian dimakan oleh ikan yang lebih besar, memasukkan plastik ke dalam rantai makanan kita.

Beberapa peniliti bahkan menemukan bahwa setiap tahunnya, kita menkonsumsi 1 sendok teh plastik tiap tahunnya. Angka ini terdengar sedikit, namun jangan lupa bahwa plastik adalah zat kimia buatan, dimana kebanyakan plastik beracun dan bisa mengakibatkan banyak penyakit di dalam tubuh karena tidak bisa terurai.


APA YANG BISA KITA TERAPKAN?

  • Utamakan kualitas pakaian saat membeli. Pastikan pakaian tersebut bisa dipakai dalam waktu yang lama

  • Cuci pakaian hanya bila diperlukan saja. Saat mencuci, usahakan untuk menggunakan temperatur rendah (30C). Selain membuat pakaian tahan lama, temperatur rendah mengurangi perlepasan serat plastik mikro dari pakaian
  • Usahakan untuk tidak menggunakan mesin pengering



Untuk melihat apa yang EARTHLING STUDIO lakukan untuk bumi, sustainability practices, detail dan sertifikasi dan lain sebagainya silahkan klik disini.


This article is written by Cindy Tandiono