Dirtiest River in the World image

Dirtiest River in the World.

Can you guess the dirtiest river in the world?

Kalau jawabanmu Sungai Gangga, jawabanmu benar! 



  1. Sungai Gangga di India

 

Sungai Gangga atau Ganges River yang terletak di India merupakan sungai tercemar di dunia. Sungai ini adalah sungai ketiga terbesar di dunia, dan digunakan sebagai tempat pembuangan sampah 2 miliar orang! Sampah-sampah tidak hanya mengapung, tapi banyak yang tercampur aduk.

 

Tercampur aduk?

 

Ya. Sungai ini menerima 4.8 miliar liter, setara dengan 1.3 miliar galon sampah air kotoran tiap harinya. Selain itu, sungai Gangga dianggap sakral oleh penganut agama Hindu, sehingga mayat manusia dibakar dan ditenggelamkan di sungai ini.

 

Sempat viral di bulan Juni, banyak jasad manusia kembali terbawa ke pesisir sungai. Ternyata, jasad-jasad berbalut kain berwarna safron ini merupakan korban Covid-19. 

 

Pemerintah mengakui, banyak keluarga membiarkan jenazah terapung di sungai suci itu lantaran tidak mampu membayar ongkos pemakaman atau kremasi. Sebagian memakamkan jasad anggota keluarga di dalam lubang dangkal di bantaran sungai.

Image source: DW.com





  1. Sungai Citarum di Jawa Barat

 

Yep! It’s in our home country.

Bahkan, beberapa source seperti Clean Waste Organisation menganggap Sungai Citarum lebih kotor dibandingkan Sungai Gangga di India. Pada tahun 2008, Sungai Citarum dinobatkan sebagai sungai terkotor oleh World Bank. Not something to be proud of!

 

Pada tahun 2008, permukaan air sungai ini bahkan tidak nampak karena banyaknya sampah plastik yang mengapung. Tidak hanya sampah plastik rumah tangga, terdapat banyak limbah kimia, peternakan, dan limbah pabrik. Untungnya, karena sempat viral, pemerintah akhirnya mengambil aksi untuk memperbaiki keadaan ini. 

 

Presiden Joko Widodo yakni “Citarum Harum”. Pada intinya keseluruhan program tersebut dilakukan dengan tujuan memulihkan dan mengembalikan ekosistem DAS Citarum agar kondisinya dapat menjadi baik, namun sering kali program yang digencarkan mengalami kendala dalam pelaksanaan.

Image source: IDN Times



  1. Yellow River

Terletak di China, sungai ini adalah rumah bagi limbah industri yang sangat pesat beserta limbah dari kegiatan batu bara. 

 

Air dari sungai Kuning ini sangat beracun karena tercampur aduk dengan limbah kimia. Bahkan, air tersebut terlalu beracun untuk pertanian! Regardless, masyarakat masih bergantung pada sungai untuk air minum. Akibatnya, water-borne diseases  merajalela. Mulai dari malaria, keracunan merkuri & arsenik, kanker, hingga cacat lahir. Baru akhir-akhir ini Pemerintah China akhirnya melakukan upaya untuk mencegah masyarakat meminum air dari sungai ini.

 

Image source: South China Post



Source: 

Northrop Grumman; Konservasi DAS Universitas Gadjah Mada; Detik News; Open Environmental Sciences Academic Journal



This article is written by Cindy T

 

The Great Garbage Patch image

The Great Garbage Patch.

How grossed out are you when you see the below picture?

Photo source: Liputan6.com / Nefri Inge



Ini adalah foto Sungai Musi di Palembang.

Dari sebuah berita yang diliput oleh tim Liputan6, sang narasumber berkata bahwa petugas kebersihan sering mengambil sampah di pangkal sungai, namun tetap tidak ada perbedaannya dari hari ke hari.

Tapi, tahukah kamu kalau sungai ini masih tidak ada apa-apanya di banding dengan The Great Garbage Patch? 

 

What Is It?

The Garbage Patch adalah kumpulan sampah plastik yang mengapung di permukaan laut. Garbage Patch bukan hanya satu lokasi saja. Sejauh ini, sudah diidentifikasi 5 lokasi garbage patch yang akan kita bahas lagi dibawah.

 

What are the obstacles to clean the great Pacific garbage patch?

Salah satu garbage patch yang sudah diidentifikasi, The Great Pacific Garbage Patch. Source: Latin American Post

 

Menurut United Nations Environmental Programme, pada tiap satu mil persegi lautan terdapat 46.000 plastik. Diperkirakan luas garbage patch berkisar 700.000-15.000.000 kilometer persegi. Padahal, riset menunjukkan bahwa sekira 70% sampah laut pada akhirnya tenggelam. 

 

Sampah ini terperangkap karena pusaran arus laut yang dipengaruhi oleh rotasi bumi dan angin atau disebut gyres.  Selain itu, garbage patch semakin berkembang karena jumlah sampah manusia yang terus meningkat. Diperkirakan terdapat sekitar 100 juta ton plastik yang dihasilkan per tahunnya, di mana 10% diantaranya terbawa ke laut. 

 

Source: https://marinedebris.noaa.gov/

 

Faktanya, plastik tidak dapat terurai sempurna, tetapi menjadi potongan kecil dengan polimer atau susunan kimia yang tidak berubah. Potongan kecil inilah yang disebut mikroplastik.

Sebutan patch sedikit menyesatkan pemahaman masyarakat di mana garbage patch dianggap sebagai pulau sampah. Padahal sampah plastik yang terkumpul terdiri dari berbagai ukuran, dari jaring ikan besar hingga mikroplastik. Sehingga, memungkinkan bagi kapal untuk berlayar melewati garbage patch. Penelitian menemukan 46% dari patch terdiri dari jaring ikan.




Ocean Trash Map

Diperkirakan sekitar 80% sampah ini berasal dari sungai dan daratan, yang mana sebagian besarnya berasal dari Amerika Utara dan Asia. Sedangkan 20% lainnya berasal dari kapal kargo besar, kapal pesiar, serta anjungan minyak lepas pantai yang membuang puing ke laut.

 

Dibawah ini merupakan peta yang menunjukan darimana sampah laut berasal. Apakah kamu bisa melihat Indonesia?

 

Peta ini menunjukan dari mana sampah laut berasal. Source: The Weather Channel | Alfred-Wegener-Institut/AWI-Litterbase

 

Nope! Negara Indonesia hampir tertutup di peta ini karena kita adalah negara kedua terbesar penyumbang limbah plastik! 

 

Pada tahun 2010 saja, 8,8 juta metrik ton sampah plastik yang tidak dikelola dibuang oleh negara China. Dari estimasi peneliti, kurang lebih 3,53 juta metrik ton dari sampah plsatik tersebut berakhir di lautan. 

 

Indonesia sendiri membuang 3,2 juta metrik ton sampah plastik tanpa pengelolaan apapun,dan  diperkirakan 1,29 juta metrik ton menjadi sampah plastik laut.

 

Menurut laporan yang dibuat oleh Wall Street Journal, total limbah plastik dari kedua negara ini merepresentasikan sepertiga dari total seluruh limbah plastik yang ada di perairan global!







Identified Patches

Sayangnya, The Great Garbage Patch ini bukan hanya terletak di satu lokasi, tapi di berbagai lokasi. Berikut adalah garbage patch yang sudah dapat diidentifikasi.

 

 

The Great Pacific Garbage Patch

The Great Pacific Garbage Patch terletak di bagian tengah utara Samudera Pasifik. S Sampah yang terkumpul berasal dari Lingkar Pasifik, yakni Asia, Amerika Utara, dan Amerika Selatan. Patch ini terbilang paling terkenal dibanding yang lain, sebab ukurannya yang sangat besar. Tahun 2018, luas Great Pacific Garbage Patch mencapai 1,6 juta kilometer persegi, di mana 94% nya terdiri dari mikroplastik. Sekira 80.000 ton plastik atau setara 500 jet jumbo mengapung di Great Pacific Garbage Patch.



The South Pacific Garbage Patch

Terletak di South Pacific Gyre yang terbentang dari perairan timur Australia hingga Amerika Selatan, patch ini ditemukan tahun 2007, di mana belum terdeteksi oleh satelit karena sebagian besarnya tersusun oleh plastik seukuran beras.

 

The North Atlantic Garbage Patch

Terletak di Atlantik Utara, patch ini ditemukan tahun 1972. Berdasarkan penelitian Asosiasi Pendidikan Laut, diperkirakan patch ini berukuran ratusan kilometer dengan konsentrasi lebih dari 200.000 partikel per kilometer persegi.

 

The South Atlantic Garbage Patch

Terletak ratusan mil dari lepas pantai Amerika Utara,  South Atlantic Garbage Patch juga sebagian besarnya terdiri dari mikroplastik, yakni sekira 200.000 partikel per kilometer persegi.

 

The Indian Ocean Garbage Patch

The Indian Ocean Garbage Patch ​​terletak di pusat Samudera Hindia. Patch ini ditemukan tahun 2010 dan tersusun oleh plastik yang terurai menjadi mikroplastik. Diperkirakan konsentrasi mikroplastik sekira 10.000 partikel per kilometer persegi.

 

The Effects

1. Terbunuhnya burung dan hewan laut

Banyaknya plastik di laut seringkali membuat hewan laut ataupun burung terbunuh, karena menganggap plastik sebagai makanannya. Seperti penyu yang melihat kantung plastik sebagai ubur-ubur. Bahkan, diperkirakan bahwa jumlah plastik di garbage patch, 180 kali lebih banyak dibanding dengan makanan dan hewan di laut.

Source: Francis Perez

2. Tertangkapnya ikan tanpa nelayan atau pemancingan hantu

Keberadaan sampah plastik di laut, khususnya jaring ikan yang terbuang, mengakibatkan beberapa hewan laut terjerat, meskipun tidak ada nelayan. Akibatnya, risiko kematian hewan laut pun meningkat.

3. Ikan yang mengandung plastik

Plastik yang terurai menjadi mikroplastik seringkali tertelan oleh hewan laut, karena ukurannya yang kecil dan tercampur oleh air laut. Akibatnya, terdapat mikroplastik pada sebagian besar hewan laut yang membahayakan apabila dikonsumsi manusia.

4. Plastik menghasilkan racun

Plastik yang terurai menjadi mikroplastik melepaskan bahan kimia beracun seperti BPA atau bisphenol A dan PCB atau turunan dari polistirena, yang tentu saja mengancam kehidupan hewan laut. Peneliti menemukan bahwa 84% sampel yang diambil dari garbage patch mengandung bahan kimia beracun, yakni Persistent Bio-accumulative Toxic (PBT).

Source: The Ocean Clean Up

5. Mencegah masuknya sinar matahari

Plankton, alga, dan ganggang yang ada di laut tidak dapat berfotosintesis karena tidak mendapat sinar matahari yang cukup. Akibatnya, terjadi gangguan pada rantai makanan di laut.

6. Membahayakan navigasi dan merusak kapal

Seringkali sampah plastik di laut tidak terdeteksi atau terlihat oleh awak kapal. Sehingga, kapal bisa saja menabrak sampah tersebut. Akibatnya, sampah dapat terjerat pada baling-baling kapal hingga menyumbat saluran.

 

What Can We Do?

    • Memilah sampah organik dengan sampah anorganik untuk mempermudah proses daur ulang

    • Mengurangi penggunaan plastik sekali pakai

    • Mendukung organisasi yang bekerja untuk memberantas plastik laut

    • Menjadi relawan dalam upaya pembersihan laut di wilayah pesisir

    • Memberikan donasi pada NGO terkait

    • Memberitahu pihak berwenang setiap kali Anda mengetahui atau menyaksikan pelanggaran terkait pengelolaan sampah plastik

    • Berkontribusi untuk menyebarkan kesadaran akan masalah dan di antara orang-orang di sekitar Anda.





Source:

National Geographic; The Ocean Clean Up; National Marine Sanctuary Foundation; World; Wide Foundation (WWF); Marine Debris Program National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA); Liputan6; The Weather Channel; Ranker

This article is written by E.J. Syamsy & Cindy T.

 

Why We Need to Recycle image

Why We Need to Recycle.

As The Barbie Girl Song Lyrics, 

“Life in Plastic, It’s Fantastic”, - But is it, Really?!

A bit of a background info…

  • Sejak 1950-an, sekira 8,3 miliar ton plastik telah diproduksi di seluruh dunia Namun, hingga saat ini tersisa 6,3 miliar ton sampah plastik di bumi, yang menandakan hanya 9% yang telah didaur ulang.

  • Plastik dianggap illegal di beberapa negara. Tahun 2017, Kenya mengeluarkan undang-undang tentang pelarangan kantong plastik. Warga Kenya yang ditemukan memproduksi, menjual, bahkan menggunakan kantong plastik, akan dipenjara selama 4 tahun atau didenda sebesar $ 40.000 (£ 31.000).

  • 60-90% sampah di laut mengandung plastik. Tercatat, sekira 8 juta ton plastik ditemukan di lautan per tahunnya. Padahal, plastik sangat berdampak buruk terhadap ekosistem laut karena tidak dapat daur ulang secara alami.

  • 90% sampah plastik di laut berasal dari 10 sungai. Menurut World Economic Forum, ditemukan 10 sungai di Asia dan Afrika yang membawa plastik ke laut. Hal ini disebabkan karena tingginya populasi dan pengelolaan sampah yang buruk. Sungai tersebut di antaranya; 8 sungai di Asia, yakni Yangtze, Indus, Yellow, Hai He, Gangga, Mutiara, Amur, dan Mekong; serta 2 sungai di Afrika, yakni Sungai Nil dan Niger.

  • Tahun 2050 diperkirakan jumlah plastik di lautan akan melebihi banyaknya ikan. Kini, rasio perbandingan plastik dengan plankton sekira 1:2. Di mana saat ini, massa sampah plastik di laut sekira 150 juta ton, yakni seperlima dari jumlah total ikan yang ada.

  • Lebih dari 50% penyu laut menelan plastik. Ditemukan sekira ratusan ribu penyu laut, paus, hingga 1 juta burung laut mati pertahunnya, akibat menelan ataupun terjerat sampah dan tercemarnya air laut. Hal ini kerap terjadi karena hewan laut tidak bisa membedakan sampah dengan makanan. Sebab plastik terpecah menjadi potongan kecil, yang selanjutnya dikonsumsi ikan dan hewan laut lainnya.

  • Jumlah mikroplastik di laut lebih banyak dibanding jumlah bintang di Bima Sakti. Terdapat 100-400 miliar bintang di Galaksi Bima Sakti. Sedangkan, terdapat 51 triliun mikroplastik di laut dunia.

  • Rata-rata manusia mengkonsumsi 70.000 mikroplastik per tahunnya. Mikroplastik terkandung di dalam makanan laut, karena hewan laut yang mengonsumsinya. Sehingga, manusia juga mengkonsumsi mikroplastik. Mikroplastik ini sendiri dapat mengakibatkan penyakit-penyakit berbahaya di jangka panjang, khussusnya dalam sistem pencernaan kita.

  • Rata-rata kantong plastik hanya digunakan selama 12 menit. Mirisnya, meski hanya digunakan sekitar 12 menit saja, tapi butuh ribuan tahun untuk sebuah kantong plastik terurai.

  • Butuh 450 tahun untuk popok bayi agar terurai. Popok bayi mengandung polietilena atau termoplastik, yakni bahan yang sama dengan kantong plastik.

  • Lebih dari 20.000 botol terjual per detiknya .Sebagian besar sampah plastik adalah botol minuman. Tahun 2016, terjual 480 miliar botol plastik, yang menandakan lebih dari 1 juta botol terjual dalam semenit.

  • 2 juta kantong plastik digunakan per menitnya. Tercatat 500 miliar-1 triliun kantong plastik digunakan di seluruh dunia per tahunnya. 

Let’s Start Recycling Plastic!

Recycle atau daur ulang adalah sistem pengelolaan sampah khususnya plastik agar dapat digunakan kembali. Keberhasilan daur ulang bergantung pada kontribusi semua orang. Dari produsen, konsumen, hingga pengelola sampah dan pemerintah. Apabila semua pihak dapat bekerja sama, maka daur ulang akan terlaksana secara efektif. Namun, terdapat beberapa hal tentang daur ulang yang jarang diketahui, di antaranya:


1. Tidak semua plastik bisa didaur ulang

Terdapat beberapa jenis bahan plastik yang tidak dapat didaur ulang, di mana hal ini terlihat dari simbol dan kode pada kemasan plastik tersebut. Yakni kode daur ulang berupa angka dan huruf tertentu. Menurut Kode Identifikasi Resin (RIC), plastik diklasifikasikan menjadi 7 kategori. 

The types of plastic, the logos GreEnlight – Enlight Studies

  1. Polyethylene Terephthalate (PETE atau PET)
 PET Bottles - Source: Mould and Die World Magazine
Contohnya: botol minuman, toples selai, toples jeli, nampan plastik dsb. Jenis plastik ini tergolong ke plastik dengan nilai daur ulang tertinggi. Plastik ini  melepaskan bahan kimia pengganggu endokrin seperti asetaldehida, dan antimon beracun, serta hanya bisa digunakan sekali. 
  1. High-density Polyethylene (HDPE)
Austrian industry increases recyclate content in HDPE bottles to 60%. |  Waste Management World
Contohnya: botol sampo, botol oli, kotak susu, kotak yoghurt, dsb. Bahan aditif dan pelembut yang digunakan dalam plastik ini belum pernah diuji keamanannya.
  1. Polyvinyl Chloride (PVC atau V)
Polyvinyl Chloride (PVC) Plastic: Uses, Properties, Benefits & Toxicity
Contohnya: berbagai jenis pipa. Jenis plastik paling beracun dibanding yang lain. Penggunaan plastik ini dapat menimbulkan masalah reproduksi, diabetes, toksisitas organ, dan kanker.
  1. Low-density Polyethylene (LDPE)
Plastic Bag at Rs 125/kilogram(s) | Plastic Bags | ID: 12381407988
Contohnya: kantong plastik sekali pakai, cling wrap, dan kemasan plastik makanan. Secara kimia, jenis ini relatif tidak reaktif. Plastik ini terdegradasi dengan sangat lambat dan menjadi beban bagi lingkungan selama berabad-abad.
  1. Polypropylene (PP)
PP Plastic Articles by Perfect Plastics, pp plastic articles,Plastic  Injection Moulded Articles | ID - 3849328
Contohnya: kotak margarin, nampan makanan siap saji, peralatan medis dan laboratorium, dsb. Bahan aditif dan pelembut yang digunakan dalam plastik ini belum pernah diuji keamanannya.
  1. Polystyrene (PS)
Jangan Sampai Salah! Hanya 7 Jenis Plastik Ini yang Aman untuk Pangan | PT.  Mitra Kualitas Utama
Contohnya: sendok dan garpu plastik, gelas minuman, kaset CD, dsb. Plastik ini melarutkan penghambat api brominasi yang sangat beracun.
  1. Other Plastics (Other or O)
10 Rekomendasi Botol Susu Bayi dan Harganya
Polycarbonate (PC) adalah jenis yang paling umum dalam kategori ini. PC juga dikenal sebagai Lexan, Makrolon dan Macroclear. Jenis plastik sering digunakan untuk botol bayi, botol minum, galon air, bantalan karet dalam kotak makanan, tutup botol plastik tipis dan tutup odol. Padahal, PC mengandung bisphenol A (BPA), yang dapat mengakibatkan berbagai efek buruk terhadap sistem reproduksi kita. BPA telah menemukan bahwa PC dapat mengakibatkan kerusakan kromosom di ovarium wanita, penurunan jumlah sperma di pria, dan mempercepat proses pubertas secara tidak alami.


2. Plastik yang kotor tidak dapat didaur ulang

Ini adalah salah satu penyebab plastik daur ulang sangat rumit dan menyita waktu. Bahan plastik jenis apapun tidak akan dapat didaur ulang jika ada sisa makanan di dalamnya. Sebab, plastik harus dalam keadaan baik agar dapat didaur ulang. Sehingga penting bagi kita untuk mencuci kemasan makanan sebelum membuangnya, agar bisa didaur ulang. Bayangkan apabila kita bahkan tidak membedakan sampah plastik dengan sampah organik - proses daur ulang akan sangat menyita waktu.

Beberapa pabrik daur ulang yang telah mengumpulkan plastik, perlu untuk mencuci kembali plastik beberapa kali sebelum akhirnya dipotong, dipanaskan, dan diubah. Namun, plastik yang terlalu kotor akan dibuang ke tempat pembuangan akhir atau insinerator dan tidak dapat kembali pabrik daur ulang.

3. Daur ulang plastik menurunkan kualitasnya

Plastik tersusun oleh polimer atau rantai atom, di mana semakin panjang rantai polimer maka semakin tinggi kualitas plastik tersebut. Dalam hal ini, setiap kali plastik didaur ulang, rantai polimer akan semakin pendek. Sehingga kualitas plastik akan menurun. Maka dibutuhkan penambahan bahan tertentu agar kualitas plastik membaik dan dapat bersaing dengan barang plastik non daur ulang di pasar.

4. Kaca dan logam dapat didaur ulang berkali-kali

Faktanya, kaca dan logam dapat didaur ulang tanpa batas serta tanpa menurunkan kualitas ataupun kemurnian produknya. Sehingga tidak dibutuhkan tambahan bahan saat daur ulang kaca maupun logam. Namun, karena faktor biaya pengiriman dan keamanan yang mempertimbangkan risiko pecah, membuat banyak orang beralih menggunakan plastik. Untuk info lebih mengenai kaca dan plastik dalam tingkat sustainabilitynya, Anda bisa baca blog kami disini.

"When you refuse to reuse, it's our earth you abuse"

Source:

dw.com; amwaytoday.co.id; blog.nationalgeographic.org; slrecyclingltd.co.uk; actioncarting.com

This article is written by E.J. Syamsy

Hukuman Membuang Sampah Sembarangan di Indonesia, Jepang dan Singapura image

Hukuman Membuang Sampah Sembarangan di Indonesia, Jepang dan Singapura.

INDONESIA

Did You Know?

Salah satu penghasil sampah terbesar ialah rumah tangga. Indonesia memiliki total desa atau kelurahan sebanyak 84.316, di mana angka ini turut menunjukkan tingginya jumlah keluarga yang ada. Sehingga, semakin tinggi jumlah keluarga, semakin banyak pula sampah yang dihasilkan.

Tahun 2018, Hanya 15% masyarakat Indonesia yang membuang sampah di tempatnya. Sisanya, 65% membuang sampah ke lubang galian atau membakarnya, 12% membuang sampah di sungai atau laut, 1% membuang sampah di got atau selokan, dan 7% lainnya. Hal ini menandakan masih minimnya kesadaran masyarakat Indonesia terhadap pengelolaan sampah serta kurang tegasnya pemerintah dalam menegakkan aturan yang ada.

 

Aturan Pengelolaan Sampah

Pada dasarnya, hukuman buang sampah sembarangan yang berlaku berbeda tiap daerahnya. Hal ini dikarenakan pemerintah pusat memberikan wewenang kepada pemerintah daerah untuk menetapkan sanksi yang sesuai dengan situasi dan kondisi masyarakat di wilayahnya. Meski tujuannya sebenarnya baik, hal ini menimbulkan kebingungan ke masyarakat karena informasi yang tidak konsisten. Misalnya, di DKI Jakarta saja sanksi buang sampah sembarangan adalah IDR 500,000. Sedangkan, membuang sampah sembarangan di Surabaya dapat dikenakan denda hingga IDR 750,000.

 Sampah Berserakan Di Pinggir Jalan Raya Cijoho Warungkondang

Sampah berserakan di pinggir Jl. Raya Cijoho Warungkondang April 2018

Regulasi Pengelolaan Sampah Indonesia Berdasarkan UU

Berdasarkan UU No. 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah Pasal 29 ayat 1, setiap orang dilarang:

a. Memasukkan sampah ke dalam wilayah NKRI;

b. Mengimpor sampah;

c. Mencampur sampah dengan limbah berbahaya dan beracun;

d. Mengelola sampah yang menyebabkan pencemaran atau perusakan lingkungan;

e. Membuang sampah tidak pada tempat yang telah ditentukan dan disediakan;

f.  Melakukan penanganan sampah dengan pembuangan terbuka di tempat pemrosesan akhir;

g. Membakar sampah yang tidak sesuai dengan persyaratan teknis pengelolaan sampah.

 

Selanjutnya, pada UU No. 18 Tahun 2008 BAB XV khususnya Pasal 39 dan Pasal 40 turut menjelaskan tentang ketentuan pidana bagi pelanggar hukum pengelolaan sampah.  Di antaranya:

1. Setiap orang yang memasukkan atau mengimpor sampah rumah tangga ke wilayah NKRI akan dipenjara selama 3 - 9 tahun atau denda sebesar Rp. 100 juta - Rp. 3 miliar rupiah.

2. Setiap orang yang memasukkan atau mengimpor sampah spesifik ke wilayah NKRI akan dipenjara selama 4 - 12 tahun atau denda sebesar Rp. 200 juta - Rp. 5 miliar rupiah.

3. Pengelola sampah yang tidak mengikuti prosedur atau standar dan norma, yang mengakibatkan gangguan kesehatan masyarakat hingga pencemaran lingkungan, akan dipenjara selama 4 - 10 tahun atau denda sebesar Rp. 100 juta - Rp. 5 miliar rupiah.

 

  If you won’t live in any junkyard, don’t make the earth become one.







Singapura

Singapura merupakan salah satu negara yang disiplin terkait kebersihan, terlihat dari tidak adanya orang yang merokok atau membuang sampah sembarangan. Terdapat beberapa faktor pendukung terjaganya kebersihan di Singapura, di antaranya:

 

1. Larangan permen karet, hingga membuang sampah sembarangan

Seringkali ditemukan fasilitas umum yang dikotori bekas permen karet, Pemerintah Singapura pun mengeluarkan kebijakan pelarangan mengunyah permen karet. Hal ini dipertegas dengan adanya sensor pendeteksi permen karet di Bandar, Pelabuhan, maupun MRT.

Selain itu, Pemerintah Singapura juga memberlakukan denda 500 dollar, bagi mereka yang membuang sampah sembarangan dalam skala kecil. Seperti bungkus permen atau struk belanja. Sedangkan, pembuang sampah sembarangan dengan skala lebih besar, seperti bungkus makanan, akan dibawa ke pengadilan, lalu dihukum kerja sosial selama 12 jam. Di mana mereka akan diberikan seragam berwarna hijau menyala dan membersihkan tempat yang ramai pengunjung, agar mereka merasa malu dan jera.

Namun, dalam hal ini pemerintah turut berupaya untuk mencegah seseorang membuang sampah sembarangan dengan menyediakan tempat sampah yang mudah ditemukan di setiap jarak 1 km.

 

Singapore banning chewing gum, particularly in public places.




2. Penegakkan hukum yang konsisten dan pengawasan yang ketat

Tidak hanya sekadar hukum tertulis, tapi aturan yang ada ditegakkan secara konsisten dan tegas oleh Pemerintah Singapura. Selain itu, Singapura juga memasang CCTV di tiap sudut kota. Selain memudahkan dan meningkatkan keketatan pengawasan, penggunaan CCTV juga menghemat tenaga manusia.

 

3. Tingginya kesadaran masyarakat

Pemerintah telah menanamkan pemahaman pada masyarakat bahwa Singapura memiliki wilayah yang terbatas dan minimnya SDM. Pemerintah Singapura pun membentuk kebijakan-kebijakan agar tercipta lingkungan yang baik dan bersih meski dengan lahan yang sempit. Sehingga, masyarakat tak punya pilihan selain mengikuti regulasi pemerintah.

 

Jepang

Berbeda halnya dengan Singapura, kita akan jarang menemukan tempat sampah di Jepang. Meski begitu, kita pun tidak akan menemukan sampah yang berserakan di sepanjang jalan. Hal ini didukung oleh beberapa faktor, di antaranya:

 

1. Aturan pengelolaan sampah

Di Jepang, bagi individu yang membuang sampah secara sembarangan atau ilegal akan dikenakan hukuman 5 tahun penjara atau denda 10 juta yen atau setara 92.100 dollar. Sedangkan perusahaan mendapat denda 100 juta yen atau setara 921.000 dollar apabila membuang limbah industri secara ilegal.

 

Sejak tahun 1991, di Jepang telah disahkan Undang-Undang Law for Promotion of Utilization of Recycled Resources, yakni tentang daur ulang wadah atau kemasan makanan, dan lainnya. Di mana konsumen wajib untuk memilah sampah botol PET (Polyethylene Terephthalate), botol kaca, serta kaleng baja dan aluminium. Lalu, perusahaan terkait juga diwajibkan mengumpulkan dan memakai kembali wadah dari produknya. 

 

Guna menegakkan aturan yang berlaku, Pemerintah Jepang telah mensosialisasikan kebijakan pengelolaan sampah terhadap masyarakat. Di mana terdapat aturan yang mengharuskan masyarakat untuk membersihkan sampah kemasan hingga membungkus sampah sesuai dengan jenisnya. Selain itu, terdapat pula jadwal pembuangan sampah berdasarkan jenisnya, yang mana apabila jenis sampah tidak sesuai dengan harinya, maka sampah tidak akan diangkut.

 

2. Pengelompokkan dan jadwal pembuangan sampah yang jelas

a. Moeru Gomi, yaitu sampah yang dapat dibakar. Seperti, sampah dapur, sisa makanan, ranting pohon, daun, rumput, kembang api, sumpit, hingga puntung rokok. Jenis sampah ini dapat dibuang dua kali dalam seminggu. 

 

b. Moenai Gomi, yaitu sampah yang tidak dapat dibakar. Seperti, besi, kaca, karet, plastik, baterai, kawat, gabus, hingga keramik. Jenis sampah ini dapat dibuang seminggu sekali.

 

c. Shigen Gomi, yaitu sampah yang dapat didaur ulang secara langsung oleh perusahaan terkait. Seperti, pakaian, kertas bekas, botol PET, kaleng minuman, dan lainnya. Jenis sampah ini dapat dibuang seminggu sekali.

 

d. Okina Gomi, yaitu sampah yang berukuran besar, umumnya barang elektronik. Seperti, komputer, televisi, mesin cuci, kulkas, AC, mesin jahit, kipas angin, dan lainnya. Berbeda dengan jenis sampah lainnya, untuk membuangnya perlu untuk menghubungi kantor bagian pengumpulan sampah yang terdapat di buku panduan. Di mana, dikenakan biaya bergantung jenis barangnya. Contohnya, mesin cuci sebesar 2520 yen, dan seterusnya.

 
Jepang memiliki tong sampah publik yang mendetail, mendorong masyarakat untuk mensortir sampah mandiri dan mempermudah & mempercepat proses daur ulang bagi pihak terkait selanjutnya


Did You Know?

Tokyo sempat mengalami penurunan jumlah sampah secara signifikan per tahunnya. Hal ini terjadi karena upaya pemerintah dan masyarakat dalam mengelola sampah. Pemilahan sampah berdasarkan jenisnya, penjadwalan pembuangan sampah, hingga tegasnya hukuman bagi pelanggar aturan, adalah beberapa langkah yang secara konsisten diterapkan di Jepang.

 

Selain itu, kebijakan pengelolaan sampah di Jepang tidak sepenuhnya diatur oleh pemerintah pusat. Melainkan, pemerintah daerah turut dilibatkan karena dianggap sebagai pihak yang bersinggungan dengan masyarakat.

 

Apakah Hukum di Indonesia Sudah Tegas?

Sering ditemukan beberapa oknum tidak bertanggung jawab yang membuang sampah sembarangan. Namun, pemerintah pun masih saja belum tegas dalam menegakkan aturan membuang sampah. Selama ini, pemerintah menyelesaikan masalah ini dengan cara kekeluargaan, memberikan denda yang tidak seberapa, hingga tidak ada tindakan sama sekali.

 

Hal ini telah beberapa kali terjadi. Seperti kasus pembuang sampah sembarangan di Kalimalang, Bekasi, Jawa Barat pada Oktober 2020. Melalui video yang sempat viral di media sosial, terbukti pelaku membuang sampah sembarangan di depadan Jalan Raya Inspeksi Kalimalang. Setelah mengikuti proses hukum, pelaku dikenakan denda sebesar 2 juta rupiah. Tentu, angka ini masih terbilang kecil jika dibanding denda yang tertera pada UU No. 18 Tahun 2008 BAB XV khususnya Pasal 39 dan Pasal 40, serta denda yang diterapkan di Jepang dan Singapura. Sehingga, kecil kemungkinan memberi efek jera bagi pelaku maupun masyarakat lainnya.

 

Di Yogyakarta, sempat ditemukan pembuang sampah sembarangan di sungai sekitar Stadion Sultan Agung pada 15 Maret 2021. Pemerintah setempat memilih jalan kekeluargaan untuk menyelesaikan masalah ini. Pelaku diproses oleh Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bantul. Pada akhirnya, pelaku diedukasi, lalu meminta maaf, serta membuat surat pernyataan.

 

Selain masyarakat, bahkan oknum polisi hingga petugas pos ditemukan sempat membuang sampah sembarangan. Keduanya terbukti membuang sampah sembarangan lewat sebuah video yang viral di media sosial sekitar tahun 2018. Pemerintah yang semestinya memberikan contoh justru melakukan kesalahan yang sama. Hal ini menunjukkan bahwa penegakkan hukum di Indonesia masih jauh dari kata tegas. 

 

Apa Yang Harus Diperbaiki?

 

Apabila dibanding dengan negara maju lainnya, pengelolaan sampah di Indonesia dinilai masih belum baik. Meski edukasi tentang mengelola sampah sudah banyak dilakukan. Namun, fasilitas atau infrastruktur yang ada belum memadai serta aturan yang ditegakkan secara tegas.

 

Menurut, Bijaksana Junerosano, CEO dan Founder Waste4Change, aturan tentang pengelolaan sampah memang sudah ada, tapi belum disertai penegak hukum yang tegas. Faktanya, sebagian besar orang tidak membuang sampah sembarangan karena takut akan denda yang akan didapat. Sebagaimana yang sudah diterapkan di Jepang dan Singapura. Sehingga dibutuhkan adanya tindakan tegas dari pemerintah bagi pelanggar aturan.

 

Selain hukum yang belum tegas, di Indonesia, tong sampah masih sulit ditemukan di tempat-tempat rawan orang membuang sampah. Hal inilah yang membuat masyarakat sulit untuk membuang sampah pada tempatnya. Alhasil, mereka membuangnya sembarangan. 

 

Selain penyediaan tempat sampah yang mudah ditemukan, hal ini juga harus diiringi dengan adanya tempat sampah yang memilah sampah berdasarkan jenisnya. Seperti, sampah organik dan anorganik yang dipisahkan. Hal ini bertujuan untuk memudahkan pengelolaan sampah selanjutnya, yakni proses daur ulang. Sudah semestinya bagi pemerintah untuk mempertegas hukum serta melakukan pengadaan fasilitas pengelolaan sampah yang memadai. 

 

What Can We Do?

  1. Memilah dan membungkus sampah berdasarkan jenisnya sebelum membuangnya

  2. Membersihkan wadah kemasan makanan agar bisa didaur ulang

  3. Mengurangi konsumsi makanan berkemasan, beralih pada memasak sendiri

  4. Mengurangi penggunaan plastik ketika berbelanja, beralih membawa tas sendiri

  5. Taat pada perundang-undang tentang pengelolaan sampah. Seperti, tidak mengubur atau membakar sampah, tidak membuang sampah di sungai atau laut, dan lainnya.

Source:

kkp.go.id; lokadata.id; xinhuanet.com; jpss.jp; cnnindonesia.com

 

This article is written by E.J. Syamsy

10 Perusahaan Pencemar Plastik Terbesar di Dunia image

10 Perusahaan Pencemar Plastik Terbesar di Dunia.

Sebuah laporan oleh organisasi nirlaba Break Free From Plastic menempatkan Coca-Cola Company, PepsiCo, dan Nestlé sebagai pencemar plastik teratas dunia selama tiga tahun berturut-turut.

Organisasi ini melakukan 575 audit lapangan di 55 negara dan 6 benua. Dengan bantuan 14.734 sukarelawan pemulung, BFFP menemukan bahwa 63% sampah yang dikumpulkan masih bertanda dengan merek konsumen yang jelas. Hasil audit tersebut dapat dilihat dalam laporan Break Free From Plastic 2020 berjudul “BRANDED Vol III: Demanding Corporate Accountability for Plastic Pollution”.

Berdasarkan dari audit tersebut, pencemar teratas dunia pada tahun 2020 adalah: The Coca-Cola Company; PepsiCo; Nestlé; Unilever; Mondelez International; Mars, Inc.; Procter & Gamble; Philip Morris International; Colgate-Palmolive; dan Perfetti Van Melle.

“Tidak mengherankan melihat merek besar yang sama di podium sebagai pencemar plastik teratas dunia selama tiga tahun berturut-turut,” kata Abigail Aguilar, Koordinator Regional Kampanye Plastik, Greenpeace Asia Tenggara.

“Untuk menghentikan kekacauan ini dan memerangi perubahan iklim, perusahaan multinasional seperti Coca-Cola, PepsiCo, dan Nestlé harus mengakhiri kecanduan mereka terhadap kemasan plastik sekali pakai dan menjauh dari bahan bakar fosil”.

Menurut Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) 300 juta ton sampah plastik dihasilkan setiap tahun dan lima triliun kantong plastik sekali pakai digunakan di seluruh dunia. Plastik sekali pakai menyumbang sepertiga dari semua plastik yang diproduksi, dimana 98% dibuat dari bahan bakar fosil. Hanya sembilan persen plastik yang didaur ulang; sisanya dikirim ke tempat pembuangan sampah, insinerator atau dilantarkan di lingkungan alam. Tidak hanya itu, sekitar delapan juta ton plastik mengalir ke lautan setiap tahun.

Untungnya, semakin banyak individu yang berkomitmen untuk mengurangi konsumsi plastik sekali pakai – diperkirakan 326 juta orang dari 177 negara mengambil peran dalam tantangan Bebas Plastik Juli tahun lalu misalnya – Break Free From Plastic mendekati krisis plastik global dengan pandangan 'pencegahan lebih baik daripada mengobati', dan meminta pertanggungjawaban perusahaan atas peran yang mereka mainkan dalam memproduksi plastik sekali pakai dan melanggengkan krisis polusi plastik.

Dengan mengumpulkan data tentang sampah plastik dan mempublikasikan temuannya, organisasi tersebut mmeminta pertanggung jawaban atas krisis plastik dan bagaimana menyelesaikannya.

“Audit merek memungkinkan kami untuk mengalihkan fokus kembali ke perusahaan yang bertanggung jawab untuk menciptakan masalah di tempat pertama, dan memberdayakan kami untuk menuntut mereka berhenti memproduksi plastik sekali pakai yang tidak perlu.” 

Organisasi tersebut mendesak agar bisnis ini bertanggung jawab penuh untuk mengeksternalisasi biaya produk plastik sekali pakai mereka ke seluruh masyarakat, seperti biaya pengumpulan limbah, perawatan dan kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh plastiknya dan mengadvokasi apa yang disebutnya "solusi yang tepat ” untuk masalah, seperti penggunaan kembali dan alternatif isi ulang kepada konsumen.

Apabila masalah plastik ini dibiarkan dan bisnis tetap berjalan seperti biasa, produksi plastik diperkirakan akan meningkat empat kali lipat pada tahun 2050.

Artikel ini di terjemahkan dari EWP, 2021.

Source: ecowarriorprincess.net

Interrelasi Fashion Terhadap Polusi dan Konsumsi Air image

Interrelasi Fashion Terhadap Polusi dan Konsumsi Air.

FASHION & POLUSI AIR

Mayoritas pabrik tekstil di negara berkembang termasuk Indonesia, air limbah beracun dari pabrik tekstil dibuang langsung ke sungai tanpa pengolahan terlebih dahulu. Padahal, air limbah ini mengandung zat beracun seperti timbal, merkuri, dan arsenik. 

Tentunya hal ini sangat berbahaya bagi kehidupan akuatik dan kesehatan jutaan orang yang tinggal di tepi sungai. Tidak berhenti disitu, kontaminasi juga akan mencapai laut dan akhirnya menyebar ke seluruh dunia.

Sumber utama pencemaran air lainnya adalah penggunaan pupuk untuk produksi kapas, yang sangat mencemari air limpasan dan air penguapan.



APA YANG BISA KITA TERAPKAN?

  • Pilihlah kain alami dan organik

  • Apabila Anda membeli katun, pastikan lah brand tersebut dapat memastikan bahwa katun tersebut memiliki certifikat OEKOTEX.

FASHION & KONSUMSI AIR


Industri fashion adalah konsumen air terbesar.  Proses pewarnaan dan finishing untuk semua pakaian memerlukan aiir bersih dalam jumlah besar. Sebagai referensi, dibutuhkan hingga 200 ton air bersih per ton kain yang diwarnai.

Selain itu, tanaman kapas membutuhkan banyak air untuk tumbuh dibandingkan dengan tanaman lainnya seperti linen. Tahukah kamu bahwa untuk menghasilkan 1 kg kapas membutuhkan hingga 20.000 liter air?

Hal ini menimbulkan tekanan luar biasa pada sumber daya yang berharga ini. Konsekuensi ekologis yang diakibatkan antara lain penggurunan di Laut Aral, di mana air telah terkuras seluruhnya.


85 % kebutuhan air yang dibutuhkan oleh seluruh populasi masyarakat India bisa dipenuhi dengan air yang digunakan untuk mengelola katun di Amerika Serikat.
100 juta orang di India tidak memiliki akses air bersih."
— Stephen Leahy, The Guardian


APA YANG BISA KITA TERAPKAN?

  • Pilihlah kain dari tumbuhan lainnya seperti ramie, bamboo dan linen

  • Apabila membeli katun, usahakan membeli katun organik, dimana katun tersebut diolah menggunakan 60% air lebih sedikit dibandingkan katun umum


FASHION & SERAT MIKROPLASTIK

Setiap kali kita mencuci pakaian sintetis (poliester, nilon, dll), sekitar 1.900 mikrofiber dilepaskan ke air dan masuk ke lautan kita. Hal ini tidak berhenti disini. Para ilmuwan telah menemukan bahwa organisme air kecil menelan mikrofiber tersebut. Ini kemudian dimakan oleh ikan kecil yang kemudian dimakan oleh ikan yang lebih besar, memasukkan plastik ke dalam rantai makanan kita.

Beberapa peniliti bahkan menemukan bahwa setiap tahunnya, kita menkonsumsi 1 sendok teh plastik tiap tahunnya. Angka ini terdengar sedikit, namun jangan lupa bahwa plastik adalah zat kimia buatan, dimana kebanyakan plastik beracun dan bisa mengakibatkan banyak penyakit di dalam tubuh karena tidak bisa terurai.


APA YANG BISA KITA TERAPKAN?

  • Utamakan kualitas pakaian saat membeli. Pastikan pakaian tersebut bisa dipakai dalam waktu yang lama

  • Cuci pakaian hanya bila diperlukan saja. Saat mencuci, usahakan untuk menggunakan temperatur rendah (30C). Selain membuat pakaian tahan lama, temperatur rendah mengurangi perlepasan serat plastik mikro dari pakaian
  • Usahakan untuk tidak menggunakan mesin pengering



Untuk melihat apa yang EARTHLING STUDIO lakukan untuk bumi, sustainability practices, detail dan sertifikasi dan lain sebagainya silahkan klik disini.


This article is written by Cindy Tandiono