From Waste to Energy image

From Waste to Energy.

Dilansir dari website PROKOPIM Kota Bandung, tepatnya pada 21 Februari 2005, terjadi ledakan dan longsor sampah di TPA di Leuwigajah, Cimahi, Jawa Barat yang menewaskan 157 korban jiwa. Kampung Cilimus dan Kampung Pojok yang berjarak satu kilometer dari TPA Leuwigajah, tersapu habis oleh longsoran sampah. Di TPA ini telah tertumpuk gundukan sampah setinggi 60 meter dengan panjang 200 meter. Karena hujan deras dan konsentrasi gas metana yang tinggi, terjadilah longsor dan ledakan. Berikut foto TPA Leuwigajah sebelum terjadinya ledakan.

TPA Leuwigajah sebelum tahun 2005 (Photo source: Humas Bandung)

  

Kenapa TPA Tiba-Tiba Bisa Meledak?

Penyebab utamanya? Yap, sampah organik. Melalui proses dekomposisi atau pembusukan, bakteri atau mikroorganisme mengurai sampah organik dan menghasilkan berbagai gas kimia. Gas yang dihasilkan di antaranya, 90-98% adalah metana dan karbon dioksida, dan sisanya 2-10% adalah nitrogen, oksigen, amonia, sulfida, hidrogen, dan lainnya. Pada suhu, kelembapan, hingga kadar air tertentu, jumlah gas ini dapat meningkat dan menimbulkan ledakan. 

 

To make things worse, metana adalah gas yang sangat mudah terbakar, di mana ledakan dapat terjadi apabila konsentrasi gas metana mencapai 5-15% dari total volume udara. Umumnya, produksi gas di TPA akan memuncak setelah 5-7 tahun. Namun, apabila dibiarkan TPA dapat terus menghasilkan gas selama lebih dari 50 tahun. Efek sampingnya?

 

Selain memperbesar kemungkinan terjadinya ledakan di TPA, Gas TPA sendiri dapat menyebar ke pemukiman hingga bangunan terdekat melalui udara dan tanah. Gas ini dapat memasuki saluran bawah tanah ataupun terbawa oleh angin menuju bangunan di sekitar TPA.  

 

Tentu hal ini sangat membahayakan. Tidak hanya berpotensi menimbulkan ledakan, gas ini juga sangat beracun. Dalam hal ini, penghirupnya dapat mengalami batuk, iritasi mata, hidung, tenggorokan, sakit kepala, mual, sulit tidur, nyeri dada, asma, kesulitan bernapas, hingga tidak sadarkan diri!

 

The Inventions For Solution

Kalau dipikirkan dengan seksama, TPA bisa dimanfaatkan sebagai sumber energi. Berkat perkembangan teknologi, sampah yang sudah terbuang dan tertumpuk di TPA dapat dikelola kembali menjadi suatu hal yang lebih bermanfaat.

 

Waste to Energy (WtE) merupakan proses mengubah bahan kimia yang dihasilkan sampah organik menjadi energi seperti listrik, panas, atau uap dengan menggunakan teknologi tertentu. Umumnya, sampah memiliki nilai kalor yang rendah, sehingga mengolahnya secara manual, seperti membakar sampah hanya dengan api tanpa menggunakan teknologi, tidak akan menghasilkan energi yang memadai. 

 

“Nilai kalor adalah jumlah energi yang dilepaskan ketika suatu bahan bakar dibakar secara sempurna”

 

Oleh karena itu, penggunaan teknologi sangat penting dalam keberhasilan pengelolaan sampah menjadi energi yang memadai. Berikut beberapa teknologi yang telah dikembangkan:

  1. Gasifikasi

Penelitian menemukan, gasifikasi tidak efisien untuk menghasilkan energi alternatif. Hal ini disebabkan karena metode ini dapat menghasilkan emisi sebagaimana pembakaran pada umumnya. Selain itu, metode ini juga membutuhkan banyak energi dan harus dibersihkan secara rutin.

 

Photo source: Waste to Energy International

 

  1. Gasifikasi Busur Plasma

Gasifikasi busur plasma hanya digunakan untuk mengolah limbah berbahaya dan radioaktif saja. Kekurangannya ialah membutuhkan biaya yang besar dan menghabiskan banyak energi. 

 



Photo source: Waste to Energy International

 

  1. Pirolisis

Pirolisis berasal dari Jerman dan telah banyak digunakan di berbagai negara di dunia. Metode ini memiliki banyak kelebihan, seperti tidak menghasilkan polutan, tetapi menghasilkan gas sintesis dan nilai kalor yang tinggi. Secara ekologis, pirolisis menjadi metode dengan teknologi yang paling bersih. Bahkan, pirolisis telah dipasarkan di seluruh dunia, termasuk Eropa.

Photo source: Waste to Energy International



Beberapa negara yang sudah menerapkan WtE, di antaranya:

 

1. China memiliki 28 pabrik insinerasi Circulating Fluidized Bed (CFB) yang dibangun tahun 2012. Pabrik ini dapat menangani 800 ton sampah perhari, di mana menjadi fasilitas WtE terbesar di dunia.

2. Abu Dhabi dan Sharjah mengeluarkan dana sebesar 8,2 miliar USD untuk pembangunan pabrik pengolah limbah dengan metode gasifikasi dan pirolisis.

3. Italia membangun insinerator yang dapat mengelola 650.000 ton sampah per tahun.

4. Swedia dan Denmark menggunakan teknologi pembangkit Combined Heat and Power (CHP) yang menghasilkan 100kW energi.

5. Jerman memiliki pabrik Refuse Derived Fuel (RDF), bahkan Jerman mengimpor sampah negara tetangga.

6. Inggris tepatnya di Manchester, terdapat pabrik gasifikasi Energos yang mengolah Municipal Solid Waste (MSW) atau limbah padat kota, limbah industri, dan limbah komersial dengan kapasitas mencapai 78.000 ton/tahun.

7. Turki memiliki pembangkit energi dengan mengolah biomassa yang menghasilkan 300 KWth dan 50 KWe. Pembangkit ini menggunakan gasifikasi dan pirolisis.

8. Amerika Serikat memiliki pabrik utilitas WtE yang menerapkan sistem gasifikasi, yang mampu mengolah 200 pon sampah kering menjadi energi IST perjamnya. Pabrik ini bernama Novo Energy dan terletak di empat negara bagian. 

9. Jepang memiliki teknologi instalasi pengolahan termal paling modern dengan kapasitas mencapai 39 juta ton sampah per tahun.

10. Kanada memiliki pabrik berteknologi insinerasi tertua. Kini pabrik ini dikembangkan untuk menggunakan metode gasifikasi plasma dari Plasma Energy Group dan Nevitus Plasma Inc.

11.  Australia tepatnya di Kwinana, terdapat pabrik gasifikasi plasma yang dimiliki Phoenix Energy Australia Pty Ltd. 

12.  India memiliki 14 pabrik, tetapi hanya 4 pabrik yang beroperasi, yakni Jindal Ecopolis Management Company PVT Ltd, Organic Waste Recycling Systems PVT, Rochem and Shalivahana Green Energy Ltd.

 

Beberapa tahun mendatang, akan ada teknologi WtE terbaru yakni Hydrothermal Carbonisation (HTC), yang mampu mempercepat proses konversi panas bumi dari limbah basah dengan katalis asam pada tekanan tinggi dan panas tertentu. Selain itu, terdapat pula Dendro Liquid Energy (DLE) yang berasal dari Jerman, di mana hampir mampu menerapkan zero waste

 

How About Indonesia?

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sedang membangun Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) atau Pengolah Sampah jadi Energi Listrik (PSEL). Proyek ini dikerjakan sejak tahun 2019 dan diharapkan selesai tahun 2022. 

Photo Source: Website PLN

 

Proyek PLTSa tersebar di 12 kota di Indonesia. Di antaranya Palembang, Jakarta, Tangerang, Tangerang Selatan, Bekasi, Bandung, Solo, Semarang, Surabaya, Denpasar, Makassar, dan Manado. 

 

PLTSa menggunakan teknologi termal yang dipilih berdasarkan Best Available Technology Meet Actual Needs. Di mana sebagian besar alatnya dikembangkan di dalam negeri dengan kapasitas pengolahan sampah mencapai 100 ton/hari dan menghasilkan listrik 700 kWh.

 

Pada April 2021 lalu, Presiden Joko Widodo telah meresmikan PLTSa Surabaya, di mana sekaligus menjadi kota pertama yang akan mengoperasikan WtE. PLTSa ini berdaya 10 MW dengan kapasitas 1.500 ton/hari dengan nilai investasi berkisar 49,86 juta US Dollar.

 

Selanjutnya, PLTSa di Bekasi berdaya 9 MW yang bernilai investasi 120 juta US Dollar. Lalu, PLTSa Solo yang bedaya 10 MW, PLTSa Palembang 20 MW, dan PLTSa Denpasar 20 MW. Ketiga kota ini bernilai investasi 297,82 juta US Dollar dengan kapasitas 2.800 ton/hari. PLTSa Jakarta 38 MW bernilai 345,8 juta US Dollar, PLTSa Bandung 29 MW bernilai 245 juta US Dollar, lalu Makassar, Manado, dan Tangerang yang masing-masing berdaya 20 MW dan bernilai 120 juta US Dollar.

 

Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI) sempat mengkritisi pembangunan PLTSa karena dianggap meningkatkan risiko kerusakan lingkungan dan ekonomi. Sebab dengan adanya PLTSa, upaya pengurangan dan pemilahan sampah menjadi tidak maksimal serta biaya yang dikeluarkan cukup besar. Tindakan pencegahan timbunan sampah menjadi lengah, karena anggapan semua sampah dapat dikelola oleh PLTSa.

 

Nyatanya, Bali sudah pernah mencoba proyek WtE tapi gagal. Sejak 2007, Pemerintah Bali telah menjalin kerja sama dengan PT. Navigat Organic Energy Indonesia (NOEI) untuk menangani pengelolaan sampah. Di mana, Badan Pengelola Kebersihan Wilayah Sarbagita sempat menjamin semua sampah akan terkelola pada tahun 2012. Akan tetapi, hingga kini sampah masih menggunung dan PLTSa belum terlaksana di TPA Suwung, padahal proyek ini ditargetkan sudah dapat beroperasi di tahun 2020. 

 

Sebab ketidakberhasilan investor dalam mengolah sampah menjadi listrik, maka kontrak diakhiri. Hal ini menjadi salah satu bukti bahwa teknologi yang dimiliki Indonesia dinilai belum mampu untuk menerapkan from waste to energy. Tidak sampai di situ, bahkan banyak aktivis lingkungan yang meragukan kesiapan Indonesia dalam mengembangkan PLTSa.

 

Source:

Avada Environmental; Prescouter; Waste to Energy International; Energy Saving Trust; Mongabay; Department of Health New York State; Direktorat Inventarisasi Gas Rumah Kaca dan Monitoring Pelaporan dan Verifikasi Direktorat Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan; Protokol dan Komunikasi Pimpinan Sekretariat Kota Bandung

 

This article is written by E.J. Syamsy

How is Veganism saving the world? image

How is Veganism saving the world?.

With veganism on the rise, it seems likely that veganism is slowing down climate change as well. How exactly?

#1 Less Greenhouse Carbon Emission

A widely publicised report published by the Worldwatch Institute indicates that 51 per cent of worldwide greenhouse-gas emissions can be attributed to animal agriculture, specifically to cattle, buffalo, sheep, goats, camels and pigs which are raised and killed for food. 

Do you know that these animals produce methane?

Methane is generally generated through enteric fermentation and manure storage.To make things worse, methane gas has an effect on global warming 28 times higher than carbon dioxide.

#2 Less Water Footprint

According to National Geographic, 70 percent of the planet is covered by water, but only 2.5 percent of it is fresh. This means a very small percentage of the world’s water is drinkable.

While many of us have the luxury of not having to worry about where our water comes from, billions of people aren’t as fortunate. In fact, an estimated three in 10 people worldwide—2.1 billion—lack access to safe drinking water.

Veganism is considered eco-friendly because vegan food production consumes less water than meat. 

In fact, according to an article by TakePart,  about one-third of the world’s water consumption is for producing animal products.

Per ton of product, animal products generally have a larger water footprint than crop products. The same is true when we look at the water footprint per calorie. The average water footprint per calorie for beef is twenty times larger than for cereals and starchy roots.

#3 Less Land Use

The conversion of land for beef production and animal feed is a leading cause of deforestation in many tropical regions, including in the Amazon, where a recent spike in forest fires and clearing has been linked to cattle ranching.





How big of an impact can it make?

#1 Less Gas Emission

The chart below shows how much greenhouse gases could be stemmed if the world were to adopt various different diets.

 

Greenhouse gas savings potential from the global adoption of various diets. Error bars show the spread of results from different studies. Data without error bars are from one study only. Adapted from IPCC (2018). Chart by Carbon Brief using Highcharts.

  • Vegan: a completely plant-based diet.

  • Vegetarian: a diet of grains, vegetables, fruits, sugars, oils, eggs and dairy and around one serving of meat or seafood per month.

  • Flexitarian: a diet in which 75% of meat and dairy is replaced by cereals and pulses. (This includes at least 500g of fruit and vegetables and at least 100g of plant-based protein per day – and no more than one portion of red meat a week.)

  • Healthy diet: a diet based on global dietary guidelines, which involves eating less meat and more fruit and vegetables.

  • Fair and frugal: a diet assuming food is shared equally across the world with each person consuming 2800 calories a day. (This involves a relatively low level of animal products.)

  • Pescetarian: a vegetarian diet that includes seafood.

  • Climate carnivore: a diet where 75% of red meat is replaced with other meat.

  • Mediterranean: a diet of vegetables, fruits, grains, sugars, oils, eggs, dairy, seafood and moderate amounts of poultry, pork, lamb and beef.

 

#2 Less Land Use

Research suggests that if everyone shifted to a plant-based diet we would reduce global land use for agriculture by 75%. This large reduction of agricultural land use would be possible thanks to a reduction in land used for grazing and a smaller need for land to grow crops. 

 

Moreover, if we would shift towards a more plant-based diet we don’t only need less agricultural land overall, we actually need less cropland. It doesn’t make sense? If we substitute beans, peas, tofu and cereals for meat and dairy, surely we would need more cropland to grow them?

 

Simple. Crops require less space to grow!

 

Let’s use a simple (but inaccurate) example for simplicity and illustration purposes.

 

A cow requires 100 square meters of land and can feed up to 20 people at once. 

Broccoli requires 5 square meters of land and can feed up to 10 people at once.

 

If there are 20 people who need to eat, how much land would we need if we go either carnivore vs vegan?

 

That’s 100 square meters if we eat beef or 10 square meters if we eat broccoli.



This means that everyone can help halt climate change just by eating great-tasting plant-based foods. 

 

In fact, a study published in New Scientist magazine shows that each person can reduce the amount of greenhouse gases that his or her diet contributes to climate change by up to 60 per cent—just by going vegan.



Sources:

Our World in Data Organization; Carbon Brief Organization; Down to Earth Organization; Water Footprint Organization

 

This article is written by Cindy T.

 

How To Identify Sustainable Brand? image

How To Identify Sustainable Brand?.

1. A lot of specific, well-organized, and clear information 

Our favorite brand websites are like an anthill. At the tippy-top, you only see a tag line and short promise of sustainability. But click on the “Sustainability” link, and you find an organized but ever-branching world of information. The first level down might briefly describe their approach to materials, labor, emissions and extended producer responsibility (a.k.a. what you do with their product when it’s worn out or no longer fits). Click any of those, and it will take you further down into more details on their factories, certifications, exact fiber mix with percentages, and exactly where to send your old items for repair or donation.

2. Straightforward Information

 Instead, it’s more about whether their sustainability page obfuscates or elucidates. On a good website, all the answers to our questions are just a few clicks away. On a greenwashing website, we’re left with our head spinning, and with more questions than answers.

3.  Third-party certifications

 Don’t just tell us you’re sustainable and ethical. Show us proof!. For example: How much of the cotton is organic? Are the products themselves certified by Oeko-Tex, or just the material in the products? Is your brand certified, or only the factory you source from? We don’t expect tiny brands to be fully certified, but if you claim to be sourcing sustainably and ethically, you should have at least one certificate of authenticity to back your claims up.

4.  Where they are and where they want to go

No brand is perfect. So the brands we trust most have measured their negative impact in detail — toxins, emissions, water usage, waste — on the environment and set goals for where they want to go, and by what date they hope to achieve it. That helps keep them honest and motivate the company and employees to do better.

5. Labor transparency

For small brands, sharing the name and location of their factory can mean a competitor steals that factory, or can put the artisans in danger of a burglary. But we would at least like to see pictures and know which region of which country they’re located in, what they’re paid relative to the minimum and living wage in the area, and what kind of inspections and certifications they operate under.

6. Accurate information and promises 

Even the best brands have shared misinformation in the past. But now that we’re all aware of the need for vigorous fact-checking, we don’t have the patience for pitches that tell us that fashion is the second most polluting industry. Or website copy that promises a product that is not possible. For example, one brand pitched bags that are made from leather that is the offcuts from a leather jacket factory, and later said the leather was vegetable-tanned. That’s not possible, as leather jackets can’t be made from stiff vegetable-tanned leather. That’s not a brand we will link to until they fix the copy and demonstrate more expertise and awareness.

7. Cultural awareness

We’ve received some truly offensive pitches before from brands who just don’t get it when it comes to white saviorism, cultural appropriation, and other hot-button topics in the sustainable and ethical fashion scene. Or, they don’t have any models of color in the lookbook they sent over. We might pass on these pitches completely, or if we think the issue is easily fixable and not representative of deeper issues, tell them that we simply can’t share their message until they do some updates.

 

This article is summarised by Cindy T from a part of a blog published byEcoCult.com which is originally written by Alden Wicker.

 

Is Your Glitter Makeup Bad for the Planet? image

Is Your Glitter Makeup Bad for the Planet?.

Saat pembatasan mulai dilonggarkan di seluruh dunia, rutinitas make-up kembali lagi. Dari bare-face hingga minimum make-up karena work-from-home, kaum wanita mulai berdandan seperti awal semua.

Bahkan, apabila pembatasan mulai dilonggarkan secara terus menerus, kita juga bisa berpergian ke tempat publik seperti acara pesta dan acara formal lainnya. And our go to make-up look? Sangat mungkin peluangnya untuk Anda melewatkan make-up glitter.

Inilah sebabnya mengapa sangat penting untuk Anda mengetahui bahwa glitter sebenarnya adalah salah satu perusak lingkungan -  bahkan lebih merusak dibandingkan produk makeup lainnya.

Tahun lalu, para ilmuwan di Inggris menyerukan larangan total penggunaan glitter setelah menemukan hubungan langsung antara bahan gemerlap dan polusi laut. Dr Dannielle Green, dosen senior biologi di Universitas Anglia Ruskin, mengatakan kepada BBC News:

"Glitter adalah jenis mikroplastik, dapat memiliki efek yang sama seperti mikroplastik lainnya dan tidak boleh dilepaskan dalam jumlah besar ke lingkungan."

Kerusakan yang dimaksud Dr Green mirip dengan mikroplastik yang terkandung dalam pakaian sintetis: ketika dicuci, partikel kecil plastik dilepaskan ke saluran air.

Glitter bereaksi dengan cara yang sama ketika membersihkan wajah Anda setelah keluar malam yang mempesona.

Mengapa mikroplastik menjadi berita buruk?

Ada beberapa alasan yang mengkhawatirkan.

Jika Anda menyukai hewan dan/atau vegan, Anda harus menyadari bahwa mikroplastik sangat membahayakan kehidupan laut.

Partikel-partikel ini dapat dicerna oleh semua bentuk kehidupan laut – termasuk organisme sekecil zooplankton – menghalangi saluran pencernaan hewan dan menipu mereka agar berpikir bahwa mereka tidak perlu makan, yang menyebabkan kelaparan.

Bahan kimia beracun juga terkadang menempel pada permukaan plastik dan ketika hewan laut menelannya, mereka terkena racun.

Nicholas Mallos, direktur senior program Laut Bebas Sampah Ocean Conservancy, mengatakan kepada Bustle bahwa

"penelitian menunjukkan bahwa plastik dapat memengaruhi reproduksi dan perilaku makan pada ikan dan mengangkut bahan kimia beracun, di antara efek lainnya ..."

Bukan hanya mempengaruhi ikan, mikroplsatik juga mempengaruhi manusia. Ketika ikan akhirnya memakan partikel tersebut, mereka ikut terkonsumsi saat manusia memakan makanan laut.

Walau dampaknya masih diteliti – para ilmuwan sudah menemukan gejala-gelaa tertentu, yakni gangguan endokrin – yakni zat yang dapat mengganggu fungsi hormon.

Satu penelitian menemukan bahwa mereka dapat mengudara dan benar-benar turun hujan dari langit. Sementara hujan gemerlap terdengar seperti skenario dongeng, kenyataannya adalah mimpi buruk.

Untuk mengatasi masalah ini, banyak perusahaan menggunakan glitter yang terurai secara alami.

Upaya untuk meminimalkan polusi plastik yang diperjuangkan oleh merek kecil seperti Wild Glitter dan Eco Glitter Fun, telah menciptakan opsi glitter yang dapat terurai secara hayati.


Tetapi apakah upaya ini cukup?

Sebuah studi baru-baru ini menemukan bahwa glitter biodegradable dan glitter tradisional menyebabkan tingkat kerusakan lingkungan yang serupa.

Perusahaan dalam studi tersebut menggunakan glitter berbasis selulosa yang kemudian dilapisi dengan plastik, atau mika, mineral silikat. Para peneliti menemukan bahwa efek glitter yang lebih “ramah lingkungan” ini hampir identik dengan produk konvensional.

Namun, kita harus ingat bahwa glitter, meskipun berbahaya, mewakili kurang dari 1% dari semua mikroplastik yang mencemari planet kita.

Di saat polusi plastik berada pada titik tertinggi sepanjang masa, kita semua harus mempertimbangkan untuk melepaskan, atau setidaknya membatasi, kegemaran kita akan kilauan. 

Pretty as it is, it’s hardly a necessity.

This article is translated and modified by Cindy Tandiono from Eco Warrior Princess, originally written by Sascha Camilli.

Let’s Start Composting! image

Let’s Start Composting!.

Apa yang dimaksud dengan composting?

Composting atau mengompos adalah kegiatan mengolah kembali bahan organik melalui proses penguraian dengan bantuan mikroorganisme dan kelembapan tertentu menjadi pupuk kompos. Bahan organik ini dapat berupa sampah dapur ataupun sampah dedaunan  di halaman, sehingga dapat kita lakukan di rumah. Namun, terdapat berbagai macam komposter atau alat untuk mengompos, di antaranya:

  • Gerabah atau Pot

Gerabah atau pot dapat digunakan sebagai komposter karena terbuat dari tanah liat maka terdapat pori-pori di sisinya, sehingga sirkulasi udara dapat terjadi. Anda dapat menimbun tanah di gerabah, lalu buatlah beberapa lubang. Kuburlah sampah organik pada tiap lubang tersebut. Kompos siap dipanen ketika gerabah sudah penuh.

  • Takakura

Metode Tatakura merupakan temuan Koji Takakura, ahli kimia terapan di Himeji Institute of Technology, Jepang. Metode ini menggunakan keranjang cucian bekas yang memiliki lubang-lubang  dan kardus di lapisan dalamnya untuk medianya. Bahan organik yang digunakan di antaranya sampah hijau, sampah coklat, dan tanah dengan susunan dari terbawah ialah bantal sekam bawah, kompos jadi, bahan organik, bantal sekam atas, lalu tutup dengan kain hitam berpori dan tutup keranjang.

  • Kontainer

Drum plastik atau kontainer dapat digunakan sebagai komposter. Metode ini dapat dilakukan dengan cara melubangi bagian bawah kontainer agar sirkulasi udara dapat terjadi. Hal ini penting dilakukan karena plastik tidak berpori. Hal ini sangat mudah dilakukan sebab kontainer dapat diletakkan indoor atau di dalam ruangan.

  • Worm Bin

Metode ini memanfaatkan bantuan cacing untuk mengurai bahan organik yang ditimbun menjadi kompos. Anda dapat menggunakan kotak plastik dan tutupnya sebagai medianya. Sama halnya dengan metode kontainer, worm bin dapat dilakukan di dalam ruangan.

  • Biopori

Metode biopori memanfaatkan pipa paralon sebgaai medianya. Dalam hal ini, pipa berdiameter 10 cm dilubangi di setiap sisinya dan dimasukkan ke dalam tanah dengan posisi vertikal. Melalui pipa ini, Anda dapat meletakkan berbagai bahan organik di dalamnya untuk menjadi kompos.

Sebagian besar metode mengompos tidak membutuhkan biaya yang mahal bahkan gratis, terkecuali Anda ingin menambah EM4 untuk mempercepat pengomposan. Sebab Anda dapat menggunakan barang bekas di sekitar sebagai wadah atau media komposter. Sedangkan, untuk bahan mengomposnya sendiri pun berasal dari sampah organik. Namun, tidak semua sampah organik dapat dijadikan kompos, Anda perlu memilahnya sesuai dengan jenisnya. Berikut pembagian sampah organik:

  • Sampah coklat: daun dan rumput kering, serutan kayu, serbuk gergaji, sekam padi, jerami,  kulit jagung, tangkai sayuran, serta limbah kertas.

  • Sampah hijau: sisa potongan sayuran dan buah, daun dan rumput segar, teh dan kopi, kulit telur, serta pupuk kandang.

  • Lainnya yang tidak dapat dijadikan kompos: Tanaman gulma, kotoran anjing dan kucing, lemak atau minyak, daging, tulang ayam atau duri ikan, kulit udang, susu, keju, yogurt, dan produk susu lainnya. Sampah jenis ini tidak dapat menjadi kompos karena dapat mengundang lalat dan menyebabkan belatung, membawa penyakit, hingga mengandung hama.

The Advantages

  1. Mengurangi jumlah sampah, sehingga TPA tidak semakin penuh. Sebab sampah organik yang diolah menjadi kompos dan sampah anorganik dapat dibawa ke bank sampah untuk didaur ulang.

  2. Mencegah tanah longsor karena timbunan sampah, khususnya daerah TPA.

  3. Mengurangi gas metana yang dihasilkan dari timbunan sampah di TPA.

  4. Mengurangi karbon yang berasal dari kendaraan pengangkut sampah.

  5. Mengurangi biaya pengeluaran untuk mengangkut sampah.

  6. Dapat memberikan nutrisi bagi tanah dan makhluk di dalamnya.

  7. Kualitas tanah dan air dapat terjaga, sebab tidak digunakannya pupuk berbahan kimia.

  8. Dapat menyuburkan tanaman tanpa biaya yang mahal.

  9. Mengurangi efek gas rumah kaca serta mencegah pemanasan global hingga perubahan iklim.

  10. Sebagai kegiatan menyenangkan bagi keluarga.

Caranya?

  1. Siapkan komposter dan bahan kompos

Kumpulkan sampah organik, seperti sampah coklat, sampah hijau, tanah, hingga air cucian beras ataupun EM4. Tak lupa, siapkan komposter sebagai media mengompos, seperti keranjang berlubang dengan kardus didalamnya, gerabah atau pot tanah liat, kontainer dengan lubang di bawahnya.

  1. Timbunlah bahan kompos

Untuk mempermudah penguraian, potong sampah organik menjadi bentuk kecil-kecil. Campurkan tanah dengan sampah organik dan bahan kompos lainnya dengan tanah dengan perbandingan 1:1. 

  1. Masukkan campuran bahan kompos ke dalam komposter

Letakkan campuran sampah organik dengan tanah tadi ke adalam komposter. Pastikan komposter memiliki lubang atau pori agar sirkulasi dapat berjalan dengan baik. Anda dapat menambahkan kotoran ternak dan air gula atau air cucian beras agar campuran menjadi semakin lembap. Jangan lupa untuk menutup komposter.

  1. Aduklah campuran kompos seminggu sekali

Pastikan untuk mengaduk campuran kompos setidaknya sekali dalam semingggu. Pada minggu pertama dan kedua, mikroorganisme akan menguraikan campuran kompos tadi. Umumnya, campuran kompos akan memanas hingga 40 derajat celcius.

  1. Pupuk kompos siap digunakan

Apabila sudah berwarna kehitaman atau tidak berbau sampah maka pupuk kompos siap digunakan. Umumnya, pupuk kompos siap setelah 4-6 minggu. Sebelum menggunakannya, pastikan untuk mengayaknya terlebih dahulu, agar bagian kasar dan halus terpisah. Bentuk kompos yang halus dapat digunakan sebagai pupuk. Sedangkan bagian kasar dapat dimasukkan kembali ke dalam komposter untuk diurai ulang.

 

“Never plant without a bucket of compost at your side”

- Elsa Bakalar

 

Source: Sustaination, Zero Waste Indonesia, Waste 4 Change

 

Article written by E.J. Syamsy

Tindakan Kecil yang Berdampak Besar di Rumah Tangga image

Tindakan Kecil yang Berdampak Besar di Rumah Tangga.

Ada berapa tong sampah di rumahmu? Satu di setiap ruangan? 
Tahukah kamu masker sekali pakaimu seharusnya dibuang secara terpisah?

 

Waste Segregation

Waste Segregation adalah kegiatan memilah sampah berdasarkan jenisnya. Sistem pemilahan sampah pun berbeda-beda tiap negara, provinsi, daerah bahkan berdasarkan tempatnya. Misalnya, pembagian sampah rumah sakit akan berbeda dengan pembagian sampah di sebuah pabrik plastik. Pemilahan sampah dianggap penting karena menjadi kunci pengelolaan sampah yang efektif dan meminimalisir limbah. 

 

Di struktur yang paling sederhana, limbah terbagi menjadi dua. Pertama, sampah basah atau organik, yang bisa dikomposkan. Kedua, sampah kering atau anorganik, yakni sampah lainnya yang tidak akan ‘membusuk’. 

 

Selain mempermudah dan mempercepat proses daur ulang, proses pemilahan sampah  ini juga dapat mengurangi polusi dan pencemaran, menjaga lingkungan, menghemat energi, bahkan menciptakan lapangan pekerjaan, dan menambah penghasilan. Saat ini, banyak ditemukan perusahaan yang berfokus pada bidang ini dengan tujuan investasi jangka panjang. Menurut Journal of Waste Management, pendapatan yang dihasilkan dari pengelolaan sampah mencapai 60 juta dollar pada tahun 2018. 

 

Aturan Pemilahan

Waste Segregation berbeda-beda di setiap tempatnya, sebab jenis sampah yang dihasilkan tidaklah sama. Contohnya, World Health Organization (WHO) sempat merekomendasikan tempat sampah untuk rumah sakit dapat dibedakan menjadi:

  1. Limbah yang menginfeksi, tempat sampah berwarna kuning.

  2. Limbah kimia dan farmasi, tempat sampah berwarna coklat.

  3. Limbah umum, tempat sampah berwarna hitam.

 

Sistem pemilahan ini tentu tidak dapat diterapkan di kantor, sekolah, maupun restoran, karena tempat tersebut tidak menghasilkan sampah farmasi, dsb. Namun, secara garis besar, untuk sampah rumah tangga atau publik, dapat dibedakan menjadi:

  1. Limbah Berbahaya

Obat kadaluarsa, kosmetik bekas, bahan pembersih, insektisida dan wadahnya, pisau cukur, dan lainnya

  1. Limbah Biomedis

Pembalut wanita, popok sekali pakai, perban, dan benda lainnya yang terkontaminasi darah atau cairan tubuh lainnya

 

  1. Limbah Elektronik

Baterai, suku cadang komputer, kabel, lampu, mainan elektronik, jam tangan, kipas angin, dan alat elektronik lainnya

  1. Limbah Kering

Botol minuman, kaleng bekas, kertas, koran, toples, baju bekas, dan benda lainnya yang dapat didaur ulang

  1. Limbah Basah

Sampah dapur, sisa potongan dan kulit buah dan sayuran, ampas kopi dan teh, kulit telur, tulang ayam dan duri ikan, serta makanan sisa

  1. Garden Waste

Daun, ranting pohon, dan rerumputan dapat kita kelola menjadi kompos.

 

Progress Indonesia dalam Pemilahan Sampah

Di Indonesia, sistem pemilahan sampah ini tergolong sangat rendah. Hal ini bisa dilihat dari minimnya jumlah public rubbish bin yang memiliki 2 atau lebih macam, terutama wilayah non DKI Jakarta. Kebanyakan, sampah dibuang di dalam 1 tong besar, tanpa disortir. 

 

Worse, limbah rumah tangga sangat jarang dipisah, baik organik dan anorganik. Semuanya dibuang menjadi 1 kantong, dimana mindset semua orang adalah “yang penting sampahnya sudah tidak di rumah saya lagi”. Hal ini tentunya berdampak sangat buruk. Tahukah kamu botol plastik yang bisa didaur ulang saja harus dalam keadaan bersih, terpisah dengan tutup botolnya, tanpa kertas, branding plastic, atau stiker? Sekarang bayangkan Anda di sebuah TPA dan harus mendaur ulang plastik. Sangat sulit bukan?

 

Whoever says plastic recyling is easy is lying.

Memang, proses daur ulang itu rumit. Plastik saja bisa dibagi menjadi 7 macam yang proses daur ulangnya berbeda. Maka dari itu, ayo kita mulai pisah limbah rumah tangga. Tidak perlu yang muluk-muluk loh, earthlings. Kita bisa mulai dengan pisahkan limbah organik dan anorganik (sampah kering). Apabila mau melakukan pemilahan yang lebih mendetail, bisa mulai memilah sampah kering menjadi limbah elektronik, limbah kaca/beling, kertas/buku, dan plastik (kemasan mie, botol). Lalu limbah yang sudah dipisahkan ini dimasukan ke sebuah kardus yang terpisah. Perlu diingat sebisa mungkin sampah dalam keadaan “bersih”- tidak terkontaminasi sampah organik ya. Misalnya, botol selai sudah harus dicuci sebelum di daur ulang karena masih ada bahan organik di dalamnya.

Penting sekali bagi kita untuk mensortir sampah, karena sebenarnya sampah di Indonesia kebanayakan merupakan sampah rumah tangga.

Berikut grafik sampah Indonesia berdasarkan jenis dan sumbernya tahun 2020.

Berdasarkan grafik tersebut, terlihat bahwa sampah rumah tangga dan sisa makanan memiliki persentase jumlah yang tertinggi. Hal ini menandakan bahwa keduanya merupakan sumber sampah terbesar di Indonesia. Namun, itu tidak akan menjadi masalah apabila kita mengikuti kebijakan pemerintah tentang sampah. Seperti memilah sampah basah dengan kering, serta sampah organik dengan anorganik. 

  1. Sampah organik atau basah: sampah dapur, sisa makanan, dedaunan kering, ranting pohon, dll.

  2. Sampah anorganik atau kering: botol minuman, kaleng bekas, kertas koran, toples makanan, ember bekas, dll.

 

Usaha Pemerintah Untuk Memperbaiki Pemilahan Sampah

Pengelolaan dan pemilahan sampah di Indonesia telah diatur dalam UU No. 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah. Lalu, demi mendukung kebijakan tersebut pemerintah mengusung dua program, yakni TPS-3R dan Bank Sampah.

 

TPS-3R merupakan singkatan dari Tempat Pembuangan Sampah dan Reduce, Reuse, dan Recycle. Melalui program ini, dilakukan daur ulang sampah anorganik dan pengolahan sampah organik menjadi kompos. Pemerintah menyediakan teknologi pencacah sampah dan pengayak kompos yang efektif. 

 

Bank Sampah merupakan upaya pengurangan sampah rumah tangga, sekaligus sumber penghasilan tambahan masyarakat. Dalam hal ini, warga dapat menabung plastik, kertas, kardus, dsb di bank sampah. Selanjutnya, warga menerima buku tabungan dan dapat mendapat uang senilai dengan sampah yang ditabung. 

 

Selain itu, untuk mendukung program pemilahan sampah, pemerintah juga telah menyediakan beberapa tempat sampah yang memisahkan sampah organik dan anorganik di tempat umum, seperti bandara, stasiun, dan taman kota. Hal ini dilakukan agar kita tetap memilah sampah dimanapun kita berada.

 

Tapi, Waste Segregation di Indonesia Belum Efektif, Penyebabnya? 

  1. Masyarakat Skeptis

Sebagian besar masyarakat masih skeptis terhadap pemilahan sampah. Mereka menganggap hal itu sia-sia, sebab pada akhirnya sampah akan tercampur kembali di truk sampah.

  1. Sarana Tidak Memadai

Keterbatasan sarana pengelolaan sampah membuat berbagai program pemerintah seperti TPS-3R tidak berjalan dengan lancar.

  1. Terbatasnya Tenaga Ahli

Minimnya tenaga profesional di bidang sampah membuat pengelolaan sampah belum maksimal dan tepat.

 

Padahal Waste Segregation banyak manfaatnya, seperti...

  1. Menjaga lingkungan dan mengurangi pencemaran 

Pengelolaan sampah yang tepat dapat mengurangi intensitas gas rumah kaca seperti metana, karbon monoksida, yang dihasilkan timbunan sampah maupun pembakaran sampah. Alhasil lingkungan akan terjaga dari pencemaran dan polusi.

  1. Kompos Tanpa Biaya

Mengumpulkan sampah organik yang berasal dari sisa potongan dan kulit buah sayuran serta sampah dedaunan dapat kita kelola menjadi kompos. Alhasil kita dapat menyuburkan tanaman tanpa biaya.

  1. Menghemat energi bumi

Menerapkan pemilahan sampah dan daur ulang dapat menyelamatkan bumi. Salah satunya ialah penebangan pohon yang menurun karena adanya daur ulang kertas. 

  1. Menciptakan lapangan pekerjaan dan menambah penghasilan

Kita dapat mulai memilah sampah, dengan mengumpulkan botol dan kaleng bekas hingga limbah elektronik lalu menjualnya untuk menambah penghasilan. 

Di Amerika Serikat, tercatat sekira 3,1 juta penduduknya mendapatkan pekerjaan dari kegiatan pengelolaan sampah.



Kesimpulannya, pemilahan sampah sangat penting untuk dilakukan, dan akan semakin menguntungkan apabila dilakukan semakin dini. Masyarakat umum, atau kita secara individu, adalah orang pertama yang membuat sampah tersebut. Daripada melemparkan tanggung jawab memilah sampah kepada orang lain, ayo kita mulai lakukan sendiri. Kalau tidak mau repot memilah sampah plastik, kaca, kertas dan lain sebagainya, setidaknya ayo kita mulai dengan cara memisahkan sampah organik dan anorganik.



Be a part of the solution, not a part of the pollution!

 

Source:

Em Solutions; SIPSN; National Geographic; Bengaluru

 

 This article is written by E.J. Syamsy

Jangan dibuang, ditanam kembali saja! image

Jangan dibuang, ditanam kembali saja!.

Let’s Start Regrowing Food At Home!

Tanpa disadari, sampah dapur yang selalu kita buang, ternyata masih bisa dimanfaatkan. Salah satunya ialah sisa potongan akar sayuran. Hanya dengan beberapa langkah sederhana saja, kita dapat menumbuhkannya kembali menjadi sayuran utuh. 

 

Apa Saja Yang Bisa Ditanam Kembali?

Daun bawang dan serai

  1. Letakkan potongan akar di dalam air dan di bawah sinar matahari. Pastikan akar tidak tenggelam seutuhnya dan gantilah air secara rutin setiap harinya.

  2. Setelah 3-5 hari, tanaman akan mulai tumbuh. Panenlah bagian daunnya, lalu biarkan akar di dalam air. Namun, jangan sampai akar tenggelam dan selalu ganti airnya.

Seledri, kubis, dan selada

  1. Letakkan potongan akar di dalam air. Namun, pastikan bagian atasnya tidak tenggelam.

  2. Semprotkan air beberapa kali tiap minggunya. Serta, gantilah air secara rutin dan letakkan di bawah sinar matahari. Setelah beberapa hari, daun akan muncul.

  3. Tanamlah akar yang sudah berdaun tadi, dengan posisi daun saja yang berada di atas tanah.

  4. Panenlah setelah sayur sudah tumbuh secara sempurna, yakni kurang lebih setelah 5 bulan.

Jahe

  1. Rendam potongan jahe di dalam air selama semalam.

  2. Tanam potongan jahe tadi di tanah yang lembab. Lalu siram secara rutin hingga tunas muncul.

  3. Jahe siap dipanen setelah setahun. Lalu ambil bagian jahe yang dibutuhkan saja.

Bawang merah

  1. Tanam akar bawang di tanah. Pastikan akar bawang terkubur secara keseluruhan dan tidak terlalu dalam di bawah tanah.

  2. Siram akar bawang secara rutin dan pastikan tanah selalu dalam keadaan lembab.

  3. Saat sudah muncul tunas bawang yang baru, pisahkan tunas dengan sisa bawang yang lama. Lalu tanam kembali tunas bawang yang berakar ke tanah.

  4. Potonglah daunnya secara rutin, agar bawang dapat membesar. 

  5. Bawang siap dipanen setelah 5 bulan. 

 

Don't Do This!

  1. Menyimpan sayur yang akan ditanam kembali di lemari pendingin terlalu lama, akan menurunkan kualitas akar, sehingga sayur tidak akan tumbuh dengan baik.

  2. Membeli sayur yang akan ditanam kembali dari toko bukan pasar. Umumnya, sayur di toko melalui produksi yang hanya memperhatikan kecepatan dan kuantitas. Sehingga apabila ditanam kembali, maka akan menghasilkan sayur yang cenderung kecil dan kualitasnya cukup buruk.

 

The Advantages

Terdapat banyak sekali manfaat menanam kembali sisa sayuran di rumah, di antaranya:

  1. Rasa sayur produksi rumah lebih enak dan segar

Karena proses penanamannya hingga panennya yang terjaga. Maka, tentu rasa dan gizinya menjadi sangat baik.

  1. Terhindar dari kontaminasi pestisida dan bahan kimia lainnya

Ketika menanam sayur sendiri, tentu kita akan menghindari penggunaan bahan kimia berbahaya. Sebaliknya, sayuran yang dibeli, seringkali terkontaminasi oleh pestisida.

  1. Menghemat uang untuk belanja. 

Kita tidak perlu lagi membeli sayuran, karena sudah memproduksinya sendiri di rumah.

  1. Sedikit sampah yang dihasilkan

Sampah dapur yang selalu dibuang, kini dapat menjadi bibit untuk ditumbuhkan lagi. Pun, sisa makanan lainnya seperti kulit buah, dapat dijadikan bahan pupuk kompos. Alhasil sampah rumahan dapat berkurang.

  1. Mengurangi emisi karbon dan limbah

Umumnya, makanan yang kita beli perlu menempuh perjalanan yang cukup jauh, agar sampai ke toko lalu ke tangan kita. Selain kesegaran dan rasa makanan yang berkurang, hal ini juga dapat meningkatkan emisi karbon dan limbah. Karena proses distribusi melibatkan transportasi yang menimbulkan polusi.

  1. Langkah awal “Go Green” dari rumah kita

Mulai menanam di rumah adalah salah satu tindakan yang bisa dilakukan untuk menjaga kebersihan udara, air, maupun tanah. Bertambahnya tanaman hijau hingga berkurangnya penggunaan bahan kimia, dapat mencegah pencemaran lingkungan.

 

Source:

thespruce.com

growagoodlife.com

trianglepest.com

mrsgreensworld.com

 

This article is written by E.J. Syamsy