MONOKULTUR, METODE BERTANI YANG HARUS DIHENTIKAN? image

MONOKULTUR, METODE BERTANI YANG HARUS DIHENTIKAN?.

 

MENGULIK TENTANG MONOKULTUR 

Monokultur adalah sebuah metode bertani yang menanam hanya satu jenis tanaman pada satu lahan pertanian yang sama selama bertahun-tahun. Istilah monokultur menekankan pada spesialisasi tanaman yang bertolak belakang dengan metode bertani zaman dulu atau saat ini dikenal dengan istilah polikultur, yaitu bertani dengan menanam dua atau lebih jenis tanaman yang berbeda di satu lahan yang sama. Konsep monokultur diterapkan dalam praktik industrial agriculture atau pertanian intensif, yaitu praktik pertanian dan peternakan yang dimaksimalkan melalui penggunaan bahan kimia pada tanaman dan hewan ternak agar menghasilkan keuntungan yang besar. 

 

Monokultur merupakan metode bertani yang diperdebatkan dalam industri pertanian. Populasi dunia yang terus meningkat membuat kebutuhan pangan juga semakin tinggi, sehingga banyak petani yang memilih untuk memakai metode monokultur sebagai solusi paling mudah dalam memenuhi kebutuhan pangan tersebut. Namun, ternyata terdapat pro dan kontra terkait metode monokultur yang harus diperhatikan lebih lanjut karena berhubungan dengan keberlangsungan hidup manusia. Apa saja, sih, pro dan kontra dari metode monokultur? Simak pembahasannya melalui poin-poin tentang kelebihan dan kekurangan monokultur di bawah ini, ya!

 

Ilustrasi lahan pertanian monokultur. (Image by Volker Glätsch from Pixabay)

 

KEUNTUNGAN DARI METODE MONOKULTUR

 

Ilustrasi panen lahan monokultur. (Image by Wolfgang Eckert from Pixabay)

 

  1. Meningkatkan produktivitas dan efisiensi

Dalam metode monokultur, para petani akan memilih jenis tanaman yang dapat tumbuh dengan subur sesuai dengan lokasi lahan berada agar dapat menyesuaikan dengan kondisi lingkungan sekitar. Hal tersebut dilakukan untuk membuat pemanfaatan kondisi tanah dan iklim di lingkungan terkait jadi lebih efisien. Seringkali jenis tanaman yang diunggulkan dalam penanaman dengan metode monokultur adalah tanaman yang bisa bertahan dan tetap tumbuh subur di suatu kondisi cuaca yang spesifik, seperti cuaca panas dan kering, berangin, atau dalam suhu yang lebih rendah. Beberapa contoh tanaman unggulan dalam metode monokultur adalah padi dan gandum. Padi bertahan di sawah yang merupakan lahan basah dengan suhu rendah, sedangkan gandum bertahan di lahan datar yang disinari oleh matahari.

 

  1. Spesialisasi tanaman 

Metode monokultur hanya menanam satu jenis tanaman di lahan yang sama untuk waktu yang lama, sehingga hal tersebut akan membuat petani berurusan dengan permasalahan yang kurang lebih serupa saat proses tanam hingga masa panen. Setelah melalui berbagai percobaan, petani akan menemukan cara yang tepat untuk menangani masalah tersebut sehingga kerugian panen dapat dicegah dan tanaman dapat tumbuh subur serta menghasilkan panen melimpah. Selain pendapatan meningkat, keuntungan spesialisasi tanaman ini juga akan menghemat pengeluaran petani karena perlengkapan pertanian yang digunakan tidak akan berbeda selama proses bertani.

 

  1. Mengembangkan teknologi untuk pertanian 

Monokultur menjadi metode bertani pertama yang menerapkan penggunaan mesin untuk bertani, yang mana mempengaruhi para petani di banyak negara maju setelah itu. Para agraris akan memanfaatkan dana yang mereka punya untuk mengembangkan teknologi baru dalam bidang pertanian agar penerapan monokultur lebih maksimal dan efisien. Beberapa teknologi baru yang digunakan sebagai solusi untuk para petani saat menerapkan monokultur adalah drone, sensor tanah, satelit pengumpul data, serta alat untuk membajak lahan seperti traktor. Teknologi yang digunakan dalam pertanian kemudian semakin berkembang setelah traktor pertama digunakan untuk membajak lahan. Jenis tanaman seperti kapas saja saat ini dapat dipanen menggunakan alat yang akan mengangkut hampir seluruh serat kapas di lahan untuk kemudian dibentuk menjadi satu buntalan kapas secara langsung di tempat. 

 

  1. Memaksimalkan hasil panen

Tingginya angka kebutuhan pangan menuntut petani untuk menghasilkan panen yang melimpah dalam kurun waktu yang singkat. Monokultur dirasa dapat menjadi solusi untuk hal tersebut, terutama bagi jenis tanaman biji-bijian atau serealia seperti gandum, padi, dan jagung, yang lebih mudah dikelola dan akan tumbuh lebih subur jika ditanam dengan metode monokultur daripada digabungkan dengan jenis tanaman lainnya di satu lahan. Namun, agar kondisi tersebut tercapai, petani harus menerapkan metode rotasi tanaman di lahan tersebut, misalnya dua tahun digunakan untuk monokultur jagung lalu satu tahun untuk monokultur kedelai. Pola rotasi dapat berbeda menyesuaikan dengan kebutuhan petani dan kondisi lahannya. Alasan penerapan rotasi tanaman sangat sederhana, yaitu karena rotasi tanaman memungkinkan tanah untuk pemulihan serta mengacaukan siklus hama agar tidak menguasai tanaman.

 

  1. Lebih mudah untuk dikelola

Spesialisasi tanaman kemudian akan memudahkan petani untuk menguasai ilmu dan tata cara mengelola jenis tanaman yang ditanam. Dalam monokultur, petani tidak memerlukan perlengkapan bertani yang berbeda untuk setiap jenis tanaman seperti dalam metode polikultur. Sebagai gantinya, petani dapat fokus untuk meningkatkan kualitas tanaman dengan membeli mesin khusus yang dapat membantu kerja mereka lebih efisien dan lebih menghasilkan.

 

  1. Pendapatan lebih tinggi

Konsep monokultur disukai oleh para petani karena bisa menghasilkan tanpa memerlukan banyak pengeluaran. Jenis tanaman yang sama selama bertahun-tahun tidak memerlukan peralatan bertani yang berbeda, sehingga petani tidak harus membeli peralatan lain dan dapat menghemat pengeluaran untuk dialihkan ke keperluan lain. Jika harus melakukan rotasi tanaman, petani dapat mengakalinya dengan menanam dua jenis tanaman yang bisa dikelola dengan peralatan yang sama, seperti jagung dan kedelai, sehingga proses bertani jadi lebih ekonomis. 

Selain itu, setiap negara memiliki spesialisasi hasil tani yang berbeda dan terbatas pada jenis tanaman tertentu, menyesuaikan dengan kondisi iklim dan tanah setempat. Itulah mengapa petani akan memilih monokultur sebagai metode andalan dalam mencari keuntungan, karena mereka dapat memusatkan pertanian pada jenis tanaman yang paling diminati agar kemudian mendapatkan penghasilan yang tinggi.

 

KEKURANGAN DARI METODE MONOKULTUR

 

Ilustrasi penurunan kualitas tanah. (Image by PublicDomainPictures from Pixabay)

 

  1. Gangguan hama yang berlebihan

Tanaman yang tumbuh melimpah dan menumpuk di satu tempat yang sama, apalagi selama bertahun-tahun, merupakan cara mengundang hama paling cepat. Mereka akan produktif dan tumbuh berkali-kali lipat di lahan pertanian monokultur. Mengapa? Itu karena lahan pertanian monokultur hanya memiliki satu jenis tanaman sehingga sangat terbatas dalam aspek keanekaragaman hayati. Padahal adanya keanekaragaman hayati menjadi pelindung alami lahan pertanian dari serangan hama, lho. 

 

Sebuah kasus tragis dari dampak negatif monokultur karena serangan hama terjadi di Irlandia pada tahun 1845 dan 1852, di mana saat itu mereka kehilangan 75 persen hasil panen kentang karena terinfeksi oleh hama jamur jenis Phytophthora infestans. Akibatnya, hampir satu juta orang mati kelaparan dan sisanya banyak yang terpaksa harus meninggalkan rumah untuk melindungi keluarga mereka dari kelaparan yang berlangsung selama 7 tahun tersebut. Sungguh sebuah pelajaran ya, Earthlings.

 

  1. Menciptakan resistensi pestisida

Serangan hama kemudian mengharuskan petani untuk menggunakan pestisida dalam jumlah besar agar dapat melindungi tanaman. Namun, selalu ada hama yang dapat bertahan walau pestisida sudah banyak diberikan. Hama yang bertahan ini kemudian akan mengembangkan resistensi pada pestisida, lalu diturunkan ke anak-anak mereka. Generasi baru hama tersebut kemudian akan menjadi lebih kuat bertahan melawan pestisida sehingga para petani menjadi lebih sering memberikan pestisida dengan terus menambah dosisnya. Cara tersebut mungkin ampuh, untuk sementara. Dalam jangka panjang, strategi tersebut sudah tidak efisien lagi dan berujung berbahaya karena jumlah pestisida yang terus terakumulasi pada lahan dan tanaman itu sendiri.

 

  1. Penurunan kualitas tanah

Sebuah studi pada tahun 2017 yang didukung oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa menyatakan bahwa sepertiga tanah yang ada di bumi kita mengalami penurunan kualitas akibat penerapan metode pertanian modern yang tidak bertanggung jawab, yang mana monokultur menjadi urutan teratas dari daftar metode pertanian yang dimaksud. 

 


Ilustrasi monokultur spesialisasi tanaman kapas. (Image by Joseph Marin from Pixabay)

 

Spesialisasi jenis tanaman menjadi penyebab dari penurunan kualitas tanah dalam metode monokultur. Suatu tanaman dalam sebuah ekosistem membutuhkan nutrisi untuk tumbuh. Jika satu spesies tanaman memerlukan komposisi nutrisi tertentu, maka tanaman lainnya akan memanfaatkan sisa nutrisi yang ada. Itulah mengapa lahan yang ditanami lebih dari satu jenis tanaman—polikultur—akan menciptakan ekosistem yang sehat, karena berbagai jenis tanaman saling menyeimbangi antara satu dengan lainnya; saat hidup tanaman akan menyerap nutrisi agar dapat tumbuh subur, sedangkan saat mati tanaman akan terurai dan mengembalikan nutrisi ke tanah. Namun, spesialisasi tanaman dalam monokultur akan menghabiskan nutrisi tanah. Satu jenis tanaman dalam monokultur memiliki kebutuhan nutrisi spesifik, sehingga ketika tanah ditanami dengan metode monokultur selama bertahun-tahun, tanaman tersebut juga akan menyerap nutrisi di dalam tanah terus menerus lalu berhenti ketika tanaman tersebut dipanen. Siklus tersebut terus berulang dan tinggal menunggu waktu sampai tanah kehilangan nutrisinya dan menjadi lahan kering yang tidak subur pada akhirnya. 

 

Tapi, bukannya petani dapat menggunakan pupuk sintetis untuk mengatasi masalah tersebut? Tidak semudah itu, Earthlings! Monokultur mengacaukan keseimbangan ekosistem sehingga berdampak pada kehidupan organisme tanah. Cacing, laba-laba, dan organisme tanah lainnya sangat penting bagi kesehatan tanah. Sayangnya, mereka hanya berkembang biak dengan baik di lahan yang kaya akan keanekaragaman hayati, yang mana jauh dari definisi monokultur. Jumlah organisme tersebut kemudian berkurang drastis, sehingga peran krusial mereka dalam membangun kesehatan tanah, seperti memecah zat organik dan membasmi parasit, tidak dapat dijalankan dengan baik.

 

Masalah lainnya adalah erosi tanah, yang terjadi akibat lahan pertanian yang ditinggalkan selama berminggu-minggu tanpa tanaman penutup ketika selesai digunakan sehingga tidak adanya tutupan vegetasi alami akan membuat lapisan atas tanah mudah terbawa oleh angin dan air pada saat terjadi badai dan hujan. Erosi tanah dapat dicegah jika lahan memiliki berbagai jenis tanaman sehingga terdapat banyak jenis akar yang bisa menahan air, namun lagi-lagi hal tersebut bukan definisi dari monokultur. 

 

Pada akhirnya, sebanyak apapun pengaplikasian air dan pupuk sintetis tidak akan membantu karena tanah tidak mampu menyerap keduanya. Dampaknya, limpasan air dan pupuk di permukaan tanah mencemari lingkungan sekitar, sedangkan lahan pertanian menjadi semakin kehilangan kesuburannya.

 

  1. Penggunaan pupuk yang berlebihan 

Seperti yang telah dijelaskan dalam poin sebelumnya, spesialisasi tanaman membuat lahan pertanian kehabisan nutrisinya sehingga mengharuskan petani memberikan pupuk sintetis dalam dosis besar untuk meningkatkan kesuburan tanah. Semakin lama sebuah lahan digunakan untuk monokultur, akan semakin banyak pupuk sintetis yang digunakan karena tanah menjadi semakin lelah dan rusak. Cara tidak alami tersebut mengacaukan komposisi alami tanah sehingga akan menghancurkan ekosistem tanah.

 

Bayangkan saja sebuah lahan monokultur jagung di Amerika Serikat, yang luasnya setara dengan California, diberikan sebanyak 5,6 juta ton pupuk sintetis setiap tahunnya, angka yang tidak main-main bukan? Belum lagi kelebihan nutrisi dari pupuk sintetis tersebut yang akan mencemari lingkungan sekitar dan membahayakan penduduk serta makhluk hidup lainnya. Beresiko sekali, ya.

 

  1. Mencemari lingkungan dan berkontribusi pada perubahan iklim

Limpasan air dan pupuk dari pertanian monokultur yang mencemari air merupakan penyebab utama tumbuhnya alga secara masal sehingga membahayakan sumber air minum, membunuh spesies air yang sensitif, dan yang terburuknya membentuk zona mati dalam air, di mana organisme air tidak dapat bertahan hidup karena kadar oksigen yang rendah di area tersebut. Tidak hanya itu, limpasan tersebut juga bocor ke air tanah dan sumur, sehingga ikut mencemari sumber air minum penduduk sekitar dan membahayakan kesehatan mereka dalam jangka panjang.

 

Monokultur juga bertanggung jawab atas polusi udara dan meningkatnya emisi gas rumah kaca, Earthlings! Sebuah studi pada tahun 2016 membuktikan hal tersebut dengan menyatakan bahwa pertanian yang menggunakan banyak pupuk sintetis atau peternakan hewan yang terkonsentrasi menjadi polutan udara nomor satu di sebagian besar negara maju. Penyebabnya adalah tingginya emisi gas amonia—gas yang berasal dari aplikasi pupuk sintetis pada lahan monokultur—yang saat bercampur dengan gas dari aktivitas lain seperti transportasi dan produksi energi, seperti nitrogen oksida dan sulfat, akan membentuk partikel berbahaya yang dengan mudah masuk ke paru-paru dan aliran darah. 

 

Selain itu, penggunaan pupuk sintetis dalam dosis tinggi juga menghasilkan dua gas rumah kaca berbahaya yang bernama metana dan dinitrogen oksida, yang membuat praktik monokultur berkontribusi pada peningkatan perubahan iklim. Hal tersebut didukung oleh pernyataan dari Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) dari PBB yang menyebutkan bahwa pertanian merupakan penghasil gas rumah kaca terbesar selain karbon dioksida, yang sebagian besar penyebabnya adalah penyalahgunaan pupuk sintetis secara berlebihan pada kegiatan pertanian modern. 

 

  1. Pemborosan air 

Lahan pertanian monokultur memiliki kemampuan yang lemah dalam menahan struktur tanah di sekitar tanaman karena sistem akar yang berasal dari satu spesies tanaman saja tidak cukup kuat untuk melakukan hal tersebut. Itulah mengapa lahan monokultur rentan terjadi erosi dan kehilangan kemampuan menyerap air, sehingga lapisan atas tanah menipis, yang kemudian menyebabkan ketidakseimbangan pada kapasitas tanah dalam mempertahankan kelembapannya. Hal tersebut membuat petani harus mengairi lahan monokultur lebih sering dan lebih banyak, yang membuat petani menggunakan air secara berlebihan. Sumber-sumber air di lingkungan sekitar, seperti danau dan sungai, akan ikut terkena dampak dari monokultur ini, selain dieksploitasi, ekosistem air juga dapat terganggu.

 

  1. Merusak ekosistem sekitar

Prinsip utama pada monokultur yang  membuatnya diminati adalah tidak ada keanekaragaman hayati pada lahan pertanian, sehingga membuat petani mudah mengelola lahan. Padahal, keanekaragaman hayati adalah kunci dari terciptanya ekosistem yang sehat, seperti serangga dan tanaman yang dapat bertindak sebagai pertahanan alami dari hama dan penyakit, sehingga membuat lahan pertanian menjadi subur. Dampak negatif dari dihilangkannya keanekaragaman hayati pada sebuah lahan adalah para petani harus menggantikan ekosistem alami lahan secara artifisial, dengan bahan-bahan kimia seperti pupuk sintetis, pestisida, dan lain sebagainya. 

 

Lalu, bagaimana nasib hewan dan tumbuhan yang disingkirkan tersebut? Mereka berpotensi punah karena kesulitan bertahan hidup akibat kehilangan habitatnya. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh German Nature and Biodiversity Union pada 2017 lalu, 15 persen dari total populasi burung telah menghilang dari daerah pedesaan hanya dalam kurun waktu 12 tahun. Kemudian, populasi serangga juga menurun sebesar 76 persen. Hal tersebut terjadi akibat penggunaan berlebihan insektisida pada lahan monokultur serta hilangnya ekosistem mereka sehingga burung dan serangga kehilangan tempat tinggalnya. Bukan hanya itu, mengingat burung merupakan pemakan serangga, rantai makanan ekosistem juga ikut rusak karena terkena dampak dari dihilangkannya keanekaragaman hayati pada lahan monokultur.

 

  1. Mengancam populasi hewan penyerbuk

Lebah dan jenis hewan penyerbuk lainnya seperti kupu-kupu, dan lain-lain, akan mengalami kesulitan akibat penggunaan bahan kimia berlebihan pada lahan monokultur yang dapat mengancam kesehatan mereka. Selain itu, terbatasnya jenis tanaman pada lahan monokultur akan membuat lebah menderita akibat tidak cukupnya pasokan bakteri baik dalam makanan mereka. Bakteri baik yang dimaksud bernama Bifidobacterium dan Lactobacillus, yang akan menguatkan sistem imun lebah. Kemudian, tanpa keragaman bakteri, makanan yang disimpan oleh lebah di dalam sarangnya jadi lebih cepat rusak sehingga mereka akan kekurangan makanan, lalu berakhir kehilangan kekebalan tubuhnya dan semakin rentan terhadap penyakit. 

 

  1. Mengandalkan bahan bakar fosil

Monokultur merupakan sistem pertanian modern yang menggunakan mesin dalam skala besar, mulai dari proses tanam, panen, sampai distribusi ke konsumen via darat maupun laut yang memakan jarak jauh. Aktivitas tersebut memerlukan energi yang seringkali berasal dari bahan bakar fosil, yang dipilih karena murah dan efisien. Tidak hanya itu saja, irigasi, pemompaan dan distribusi air, pengaplikasian pupuk sintetis dan pestisida, juga memerlukan energi dari bahan bakar fosil tersebut. Ketergantungan pada bahan bakar fosil ini akan menyebabkan polusi lingkungan dan perubahan iklim akibat emisi gas rumah kaca.

 

LALU, ADA CARA UNTUK MENGATASINYA GAK, SIH?

 

Ilustrasi penggunaan pestisida yang wajar. (Image by Th G from Pixabay)

 

Melihat dampak negatifnya terhadap lingkungan, kita simpulkan bahwa monokultur ternyata cenderung lebih merugikan, bukan begitu Earthlings? Monokultur akan menjadi metode pertanian paling buruk bagi keberlanjutan lingkungan dan kehidupan manusia apabila dilakukan tanpa henti selama bertahun-tahun, yang bisa kita sebut dengan monocropping atau monokultur terus menerus. Lalu, bagaimana cara mengatasi dampak negatifnya? Ada banyak metode yang bisa dilakukan oleh para petani untuk mengurangi atau menghindari dampak negatif dari monokultur, beberapa yang paling umum diantaranya adalah sebagai berikut: 

 

  • Penerapan rotasi tanaman

Menanam jenis tanaman yang berbeda di sebuah lahan pertanian akan membantu menghindari dampak negatif utama dari monokultur pada tanah. Rotasi tanaman tahunan akan melindungi dan menjaga lahan karena dapat mengacaukan siklus hama sehingga membuat komposisi tanah menjadi seimbang. Para petani dapat menerapkan metode rotasi tanaman yang sesuai dengan kondisi lahan dan lingkungan sekitar, mengingat jenis rotasi tanaman yang beragam.

 

  • Penggunaan pestisida dan herbisida yang wajar

Pestisida dan herbisida sintetis yang digunakan secara berlebihan akan merusak ekosistem lingkungan sekitar yang membuat kualitas tanah dan hasil panen menurun. 

Dampak tersebut dapat dikurangi secara signifikan dengan pemakaian pestisida dan herbisida dalam batas wajar atau beralih ke pestisida dan herbisida organik. Cara tersebut akan semakin ampuh saat dikombinasikan dengan metode rotasi tanaman, yang berperan sebagai pelindung alami tanaman dari hama dan penyakit.

 

  • Pemakaian pupuk yang sesuai kebutuhan

Pengaplikasian pupuk sintetis dalam skala besar harus diubah mengingat bahayanya terhadap ekosistem. Perkembangan teknologi pertanian saat ini memungkinkan para petani untuk mengaplikasikan pupuk dengan cara yang lebih efektif, para petani tidak harus memberikan pupuk ke seluruh lahan dan cukup memberikannya pada area spesifik yang benar-benar membutuhkan saja. 

 

  • Memanfaatkan badan air 

Air adalah sumber daya alam yang krusial, sehingga menggunakan air secara berlebihan untuk kegiatan pertanian akan merugikan bagi lingkungan sekitar, terutama bagi masyarakat yang menggantungkan hidup mereka pada sumber air tersebut. Maka dari itu, membuka lahan pertanian yang dekat dengan badan air akan mengurangi penggunaan air tanah sehingga sumber air dapat digunakan dengan lebih efisien, terlebih jika diaplikasikan pada lahan pertanian dengan penerapan rotasi tanaman.

 

Walau monokultur dirasa lebih unggul dalam beberapa aspek, terutama pada zaman modern yang lebih menyukai proses serba cepat, konsekuensinya terhadap lingkungan dalam jangka panjang merupakan hal serius yang patut diperhatikan dan tidak boleh dilupakan semata-mata karena keunggulannya. Itulah mengapa para petani harus mulai beralih ke metode lain yang lebih ramah lingkungan, seperti polikultur, yang menerapkan rotasi tanaman pada lahan pertanian agar dapat memanfaatkan nutrisi tanah dengan lebih efisien. 

 

Jadi, bagaimana pendapatmu, Earthlings? Apakah menurutmu metode monokultur ini harus dihentikan?

 

References:

Earth Observing System | Monoculture Farming In Agriculture Industry 

Greentumble | Advantages and Disadvantages of Monoculture Farming 

 

This article is written by Amalia Diva. 

 

 

PROTECTING OUR NATURE BY SHOPPING LOCALLY image

PROTECTING OUR NATURE BY SHOPPING LOCALLY.

Earthlings, tahukah kamu kalau produk-produk impor yang kamu beli selama ini merupakan salah satu kontributor perubahan iklim di negara kita? Produk-produk tersebut bisa sampai ke tangan kamu karena sudah melewati alur pengiriman lintas negara yang panjang, mulai dari menggunakan pesawat sampai dengan kapal. Transportasi tersebut beroperasi menggunakan bahan bakar fosil, yang mana merupakan salah satu sumber emisi gas rumah kaca terbesar dunia. Produk impor yang terlihat lebih menggoda ternyata punya konsekuensi bagi alam kita. Kalau selama ini kamu belanja barang-barang impor terus, it’s time to stop! Ayo mulai kurangi dan biasakan belanja produk-produk lokal! 

 

Gak ada alasan untuk gak beralih ke produk lokal, karena selain negara kita punya segudang produk lokal yang kualitasnya patut diadu dengan produk impor, belanja produk lokal memberikan banyak kelebihan terutama bagi lingkungan, lho! Penasaran apa saja? Simak poin-poinnya di bawah ini, ya!

 

Ilustrasi pasar lokal. (Photo by Caio from Pexels)


 

  • Memajukan perekonomian lokal

 

Ilustrasi belanja seafood di pasar lokal. (Photo by Quang Nguyen Vinh from Pexels)

 

Saat kamu membeli produk dari bisnis lokal, uangnya akan diinvestasikan pada perkembangan ekonomi bisnis-bisnis lokal lainnya karena seringkali sebuah pemilik bisnis lokal akan mengambil bahan baku dari produsen lokal. Itulah mengapa, apresiasimu terhadap produk lokal akan sangat membantu perkembangan ekonomi lokal menjadi lebih pesat.

 

 

  • Membantu terciptanya lapangan pekerjaan

 

Ilustrasi tenaga kerja produksi kopi. (Sumber: ekonomi.bisnis.com

 

Bisnis lokal terutama skala kecil seperti bisnis rumahan, adalah pembuka lapangan pekerjaan terbesar secara nasional karena membutuhkan banyak tenaga dalam proses produksinya. Misalnya, bisnis rumahan yang memanfaatkan hasil panen untuk disulap menjadi produk makanan akan menjadi lapangan pekerjaan bagi warga setempat yang tidak mempunyai pekerjaan, khususnya ibu rumah tangga. Jika bisnis berjalan lancar karena tingginya permintaan produk, tenaga kerja akan dibutuhkan dalam waktu yang lama, sehingga bisnis tersebut dapat menjadi sumber pendapatan utama atau sampingan warga lokal.

 

  • Mengurangi jarak tempuh produk (food miles)

 

Ilustrasi panen produk untuk dijual ke pasar. (Photo by ArtHouse Studio from Pexels)

 

Salah satu hal paling penting dari belanja produk-produk lokal adalah kamu bisa membantu melindungi lingkungan dengan mengurangi jarak tempuh makanan. Jarak tempuh makanan atau food miles adalah jarak yang ditempuh oleh suatu produk dari proses produksi sampai ketika produk tersebut sampai di tangan konsumen. Acuan food miles adalah seberapa banyak bahan bakar yang digunakan selama proses tersebut, sehingga food miles digunakan sebagai salah satu faktor dalam uji coba dampak lingkungan dari suatu produk. Dengan begitu, produk lokal sudah pasti memiliki food miles yang lebih aman karena tidak melibatkan proses impor yang panjang. 

 

  • Akses lebih terjangkau

 

Ilustrasi seorang ibu berjalan kaki ke sebuah pasar tradisional. (Photo by Maurício Mascaro from Pexels)

 

Supermarket biasanya terletak di pusat kota, sehingga alternatif yang paling dekat adalah pasar lokal atau pasar tradisional yang ketersediaan produknya cukup lengkap. Mulai dari hasil panen petani setempat sampai hasil tangkapan nelayan yang masih segar, pasar lokal bisa mencukupi kebutuhan pokok tanpa mengharuskan kamu menempuh jarak jauh dengan kendaraan yang hanya akan meningkatkan konsumsi bahan bakar dan jejak karbon. 

 

  • Produk lebih segar dan bebas bahan kimia

 

Ilustrasi buah-buahan segar. (Photo by Mark Stebnicki from Pexels) 

 

Membeli produk lokal, terutama bahan-bahan makanan, akan menjamin kamu mendapatkan produk yang masih segar. Hal utama yang membuat para produsen lokal unggul adalah mereka mengutamakan originalitas produk sehingga proses produksi bebas dari bahan kimia seperti antibiotik dan pestisida. Kamu akhirnya mendapatkan produk organik yang selain baik untuk kesehatan, juga baik untuk lingkungan karena tanaman dan lingkungan sekitar bebas dari bahan kimia berbahaya serta potensi polusi lingkungan seperti polusi air, udara, dan tanah. Selain itu, jarak tempuh produk yang pendek akan menghasilkan lebih sedikit sampah karena produk dibawa langsung ke pasar lokal untuk dijual setelah dipanen.



  • Melindungi lahan dan lingkungan sekitar

 

Ilustrasi lahan produksi sayur-sayuran. (Photo by Soo Ann Woon from Pexels)

 

Membeli produk lokal berarti kamu mendukung para produsen lokal untuk terus beroperasi. Lahan produksi akan tetap dikelola untuk kepentingan proses produksi produk-produk lokal sehingga dapat menghindari alih kuasa lahan oleh produsen besar yang akan merugikan bagi masyarakat sekitar akibat dari perluasan lahan untuk pembangunan gedung yang lebih besar serta bagi lingkungan sekitar, terutama bagi hewan dan tumbuhan yang akan kehilangan tempat tinggalnya. 

 

Semoga setelah mengetahui kelebihan membeli produk-produk lokal di atas, kamu menjadi lebih tertarik untuk belanja produk lokal dan ikut melindungi lingkungan bersama teman-teman yang sudah lebih dulu beralih ke #buylocal, ya! 

 

 
EARTHLING is proudly an Indonesian brand, currently based in Surabaya, East Java. We aim to boost our local economy and provide job opportunities to our closest surroundings! Learn more about our brand by clicking here.


References: 
Green Business Bureau | Buying Local: Understand the Pros and Cons of Striving to Purchase your Goods Locally 
GoGreen | The Environmental Benefits of Buying Locally 
The Local Good | Top 10 Reasons to Shop Local 


This article is written by Amalia Diva.


LESTARIKAN LINGKUNGAN DENGAN JUNK REMOVAL RUMAHMU! image

LESTARIKAN LINGKUNGAN DENGAN JUNK REMOVAL RUMAHMU!.

JUNK REMOVAL ITU APA, SIH? 

Junk removal adalah kegiatan membersihkan dan menyingkirkan berbagai jenis sampah terutama limbah padat, mulai dari rongsokan, barang bekas, maupun barang tidak terpakai yang harus kamu singkirkan karena memakan terlalu banyak ruang. Junk removal akan sangat membantu saat kamu harus decluttering—membuang barang yang tidak perlu untuk menghemat tempat—ruangan di rumah. 

Ilustrasi junk removal. (Sumber: blog.renovationfind.com

KENAPA HARUS JUNK REMOVAL?

Di rumahmu pasti ada tumpukan barang berdebu yang tidak pernah digunakan lagi dalam 5 tahun terakhir, bukan? Sstt, sebenarnya itu sudah masuk kategori sampah, lho, lebih baik disingkirkan dan dibersihkan!

 Lalu, sadarkah kamu bahwa kebiasaan itu lama kelamaan akan membuat rumahmu menyerupai gudang rongsokan? Selain itu, rumah yang penuh sesak dengan barang, terutama barang bekas, rusak, atau tidak pernah digunakan, secara tidak langsung berpengaruh pada kesehatan mental, lho! Gak cuma itu, lingkungan ikut kena dampaknya kalau kamu tidak mengelola dan membuang barang tersebut dengan benar. Beberapa masalah lingkungan di bawah ini akan semakin parah jika kamu salah dalam mengelola dan membuang sampah.



  • Pencemaran tanah

Ini adalah masalah utama yang terjadi akibat kesalahan dalam mengelola sampah. Sampah di rumahmu seringkali hanya ditumpuk di tempat pembuangan akhir (TPA) tanpa pengelolaan yang tepat Tumpukan sampah tersebut dapat mengeluarkan zat kimia beracun yang mencemari tanah. Zat kimia tersebut kemudian akan merusak tumbuhan di sekitar TPA. Bahkan, kesehatan hewan dan manusia yang mengonsumsi tumbuhan tersebut berpotensi terancam.

  • Polusi air

Zat kimia beracun yang mencemari tanah kemudian akan bocor ke mata air yang menjadi sumber air minum dan digunakan untuk kebutuhan sehari-hari oleh masyarakat sekitar. Zat kimia beracun tersebut seringkali bercampur dengan limbah cair dan dapat mencemari laut sehingga mengancam kehidupan biota laut serta manusia dan hewan yang mengonsumsinya. 

  • Pencemaran udara

Tumpukan sampah di TPA tidak hanya mencemari tanah dan air, namun juga dapat mencemari udara dari aktivitas pembakaran sampah. Saat dibakar, berbagai zat kimia dalam tumpukan sampah akan menghasilkan gas beracun yang tidak hanya merusak lapisan ozon, namun juga membahayakan kesehatan masyarakat di sekitar TPA.

  • Perubahan iklim

Semakin panasnya bumi ini juga hasil dari kesalahan dalam mengelola sampah. Tumpukan sampah yang menggunung akan membusuk dan mengeluarkan gas rumah kaca yang naik ke atmosfer dan menahan panas di bumi. Itulah mengapa, saat siang hari panasnya terasa semakin terik! 

Empat masalah lingkungan di atas adalah beberapa masalah utama dari sekian banyak masalah lainnya, yang mengharuskan kamu untuk melakukan junk removal sesegera mungkin, Earthlings! 

Ilustrasi polusi udara dari pembakaran sampah di TPA. (Sumber: climatecentral.org

SEDERET METODE JUNK REMOVAL DARI RUMAH 

Ada banyak pilihan yang bisa kamu lakukan untuk mengelola limbah padat di rumahmu. Beberapa metode di bawah ini sangat direkomendasikan dalam mewujudkan junk removal yang ramah lingkungan.

  • Daur Ulang atau Recycling 

Ilustrasi daur ulang. (Sumber: rco.on.ca

Limbah padat yang didaur ulang menjadi sesuatu yang baru akan berkontribusi pada kelestarian lingkungan melalui berbagai aspek, seperti menghemat energi, mencegah tumpukan sampah di TPA bertambah, dan masih banyak lagi. Metode daur ulang memastikan bahwa kamu mengelola sampah tanpa membahayakan lingkungan. Hanya saja, melakukan daur ulang memang tidak bisa sembarangan, terutama untuk barang-barang di dalam rumah. Kamu harus paham jenis limbah padat rumah tangga apa saja yang bisa didaur ulang sebelum memberikannya ke pusat daur ulang.



Umumnya, barang-barang dengan bahan berikut adalah limbah padat rumah tangga yang bisa didaur ulang. 

  • Kertas, misalnya buku, majalah, koran, kartu undangan, dan amplop.

  • Aluminium, contohnya kaleng semprotan nyamuk.

  • Peralatan elektronik, seperti smartphone, laptop, mesin cuci, dan lain-lain.

  • Baterai—jenis sekali pakai dan isi ulang.

  • Plastik, selain kantong plastik ada kaset CD, DVD, serta botol plastik. 

  • Gelas, diantaranya ada tempat selai dan botol saus.

Agar daur ulang lebih efektif dan efisien, terapkan tips-tips di bawah ini!

  • Identifikasi jenis bahan yang diterima oleh pusat daur ulang, agar kamu ikut memudahkan mereka saat memilah dan mengolah sampahnya.

  • Pastikan barang dalam keadaan bersih, cucilah barang bekas tempat makanan dan minuman—kaleng, plastik, gelas, dsb—agar sampah makanan tidak mengkontaminasi barang lainnya, atau barangmu akan langsung di buang ke tempat pembuangan akhir.

  • Lipat dan ratakan sampah kardus, sehingga kamu bisa menghemat tempat untuk barang lainnya.

  • Buat wadah khusus untuk barang yang bisa didaur ulang, agar kamu lebih mudah mengorganisir dan memilah barang tersebut nantinya.

  • Belilah produk yang terbuat dari bahan hasil daur ulang, cara ini mendukung para produsen yang menjalankan praktik bisnis berkelanjutan. Setelah masa pakai produk tersebut habis, produk akan kembali didaur ulang, sehingga siklus jual-beli tidak menghasilkan sampah. 

  • Up-Cycling 



Ilustrasi up-cycling sepatu bot menjadi pot gantung. (Sumber: onyalife.com

Berbeda dengan recycling, metode up-cycling tidak menghancurkan limbah padat untuk digunakan sebagai bahan dasar sebuah produk baru. Up-cycling mengandalkan ide dan kreatifitas untuk mengubah dan menggunakan kembali (reuse) barang bekas menjadi barang baru, khususnya dari segi fungsional. Istilah up-cycling merujuk pada kegiatan DIY (Do It Yourself), namun ciri khas up-cycling adalah hanya memanfaatkan barang bekas saja. 

Contoh up-cycling yang sering kita lihat dalam kehidupan sehari-hari di antaranya mengubah ban bekas menjadi tempat duduk, memanfaatkan sampah botol plastik sebagai pot gantung, mengkreasikan baju-baju bekas menjadi boneka, dan masih banyak lagi. Jenis limbah padat yang bisa digunakan dalam up-cycling juga bervariasi, tergantung sekreatif apa ide yang ingin kamu wujudkan pada limbah padat yang ada di rumahmu.




Simak beberapa tips berikut untuk membantu kamu saat up-cycling, Earthlings!

  • Persiapan yang matang adalah kuncinya. Pastikan kamu memiliki peralatan yang lengkap untuk melakukannya agar proses up-cycling tidak terhenti tiba-tiba karena ada alat yang kurang. 

  • Jangan asal up-cycling, pasti barang bekas di rumahmu penuh debu dan sarang laba-laba yang menempel, kan? Bersihkan dulu barangnya, ya!

  • Gunakan kuas cat berkualitas tinggi, agar bebas dari bulu-bulu yang rontok sehingga warna cat menutup sempurna barang bekasmu. Terlihat seperti baru, deh!

  • Cari inspirasi lewat sosial media. Saat ini konten DIY marak sekali di mana-mana, kamu tinggal mengetik kata kunci yang tepat untuk mendapatkan tutorial DIY yang kamu mau. Setelah itu, tinggal ikuti tutorialnya menggunakan barang bekas yang sudah kamu siapkan. 

  • Donasikan barang yang masih berfungsi dan layak pakai 

Ilustrasi donasi. (Sumber: thespruce.com

Mungkin bagimu limbah padat di rumah sudah tidak ada gunanya lagi. Namun, masih banyak orang kurang beruntung di luar sana yang akan sangat terbantu dengan donasimu. Entah itu baju bekas, celana yang sudah kekecilan, smartphone lama yang tidak terpakai, sofa bekas, dan lain sebagainya, donasikan ke mereka yang membutuhkan. Mulai dari yang terdekat seperti saudara, tetangga, teman-teman kampus, atau ke yang sudah pasti membutuhkan seperti panti asuhan dan organisasi kegiatan amal.

Selain bermanfaat bagi sesama, mendonasikan barang bekasmu akan membantu melestarikan lingkungan karena barang tersebut berakhir di pihak yang membutuhkan. Kamu juga mengurangi terjadinya masalah pencemaran lingkungan seperti yang telah disebutkan sebelumnya.




Ada dua tips untuk memastikan donasi kamu tidak memberatkan bagi yang menerimanya:

  • Konfirmasi kebutuhan target donasi. Tidak sembarangan, kebanyakan organisasi dan panti asuhan mempunyai aturan sendiri tentang barang apa yang bisa dan tidak bisa mereka terima. Begitu juga saat kamu ingin berdonasi ke kerabat dekat, pastikan barang yang kamu berikan ke mereka sesuai kebutuhan, ya.

  • Periksa kondisi barang, jika barangmu sudah berkarat, robek sana-sini, dan rusak, lebih baik didaur ulang saja karena tidak akan bisa digunakan lagi oleh yang menerimanya. Ingat, donasi tidak sama dan bukan representasi dari “membuang sampah pada tempatnya”, ya! Lakukan donasi dengan benar agar barang-barangmu bisa diterima dengan senang hati.

Jika kamu ingin berdonasi, pertimbangkan target donasi dan jenis barangnya seperti contoh di bawah ini:

  • Panti asuhan — pakaian, seragam sekolah, peralatan sekolah (tas, buku, alat tulis), buku cerita, mainan, perlengkapan ibadah (mukena dan peci).

  • Tempat penampungan hewan — handuk dan selimut.

  • Perpustakaan — berbagai jenis buku layak baca. 


JUNK REMOVAL DAN KEUNTUNGANNYA BAGI LINGKUNGAN 

Ada banyak keuntungan yang akan kita berikan pada lingkungan dari penerapan junk removal yang tepat dan konsisten. Berikut adalah beberapa contohnya:

  • Membantu mengurangi polusi air, udara, dan tanah.

  • Meningkatkan kualitas air, udara, dan tanah.

  • Mengurangi emisi gas rumah kaca.

  • Membantu menghemat energi—yang diperlukan saat memproduksi produk baru.

  • Melestarikan sumber daya alam seperti mineral, air, dan kayu, melalui daur ulang (recycling) dan up-cycling.



Empat fakta menarik di bawah ini adalah bukti dari keuntungan junk removal dengan metode daur ulang (recycling). Simak, yuk!

  • Mendaur ulang satu kaleng aluminium dapat menghemat energi sebanyak 95%, yang mana setara dengan menyalakan televisi selama 3 jam.

  • Mendaur ulang satu kotak limbah gelas menghemat energi sebanyak 50%, atau setara dengan menyalakan lampu kapasitas 100 watt selama 4 jam.

  • Kita bisa menghemat 17 pohon dan 7.000 galon air dengan mendaur ulang satu ton kertas.

  • Jika kita mendaur ulang setiap botol plastik bekas, kita akan mencegah bertambahnya 2 miliar ton plastik ke tempat pembuangan akhir.

Cukup mengesankan juga, ya, ternyata keuntungan junk removal bagi lingkungan. Yuk, segera mulai junk removal untuk bantu melestarikan lingkungan dari rumah, Earthlings!



References:

Jiffy Junk | Junk Removal Benefits the Environment – But How? 

Skip the Tip | 10 NEGATIVE EFFECTS OF IMPROPER RUBBISH REMOVAL 

SCA | How to Recycle and Why You Should Do It 

Forge Waste & Recycling | The Waste Management & Recycling Blog 

House Beautiful | Upcycling for beginners: 11 things to know 

BBB | Decluttering and Organizing - A Guide to Used Goods Donations 

UMass Amherst | Office of Waste Management: Environmental Benefits 



This article is written by Amalia Diva.

 

INDUSTRIAL AGRICULTURE, UNTUNG ATAU BUNTUNG? image

INDUSTRIAL AGRICULTURE, UNTUNG ATAU BUNTUNG?.

INDUSTRIAL AGRICULTURE ITU APA, SIH?

Industrial agriculture, atau pertanian intensif merupakan produksi tanaman dan hewan, yang umumnya untuk konsumsi manusia, secara intensif dan besar-besaran dengan melibatkan penggunaan bahan kimia seperti pupuk sintetis dan antibiotik agar memaksimalkan proses produksi dan meminimalkan biaya produksi sehingga mendapatkan keuntungan yang besar.

Industrial agriculture juga melibatkan modifikasi genetik terhadap tanaman, penggunaan pestisida yang berlebihan, eksploitasi lahan, dan bahkan eksploitasi hewan. 

Ilustrasi industrial agriculture. (Sumber: fwi.co.uk

AGAR LEBIH PAHAM, SIMAK CIRI-CIRI INDUSTRIAL AGRICULTURE INI!

Dalam praktiknya, industrial agriculture ditandai dengan hal-hal berikut:

  • Spesialisasi jenis produk

Industrial agriculture hanya fokus pada produksi dan pengelolaan satu jenis tanaman atau hewan. Suatu lahan digunakan berkali-kali untuk menanam jenis tanaman yang sama bertahun-tahun tanpa memperhatikan dampak yang ditimbulkan terhadap kualitas tanah. Lalu, hewan ternak dipelihara di lahan yang kecil dengan pola makan tidak wajar dan seringkali tidak diberi akses keluar kandang. 

  • Penggunaan skala besar pestisida dan pupuk 

Untuk membuat hasil panen melimpah, praktik industrial agriculture menggunakan pestisida dan pupuk dalam skala besar. Degradasi tanah akibat menanam jenis tanaman yang sama di suatu lahan secara terus menerus juga meningkatkan kebutuhan penggunaan pupuk. Organisasi Pangan dan Pertanian PBB menyebutkan bahwa permintaan untuk tiga jenis pupuk paling umum yaitu kalium, fosfor, dan nitrogen, diperkirakan akan meningkat hingga 200.000 ton pada tahun ini.

  • Konsolidasi pertanian

Pada tahun 1950 hingga tahun 1997, ukuran lahan pertanian di Amerika diperluas hingga dua kali lipat, sedangkan jumlah lahannya dikurangi. Ini merupakan tanda peralihan, di mana lahan pertanian kecil dengan berbagai jenis tanaman kemudian berada di bawah kuasa perusahaan yang mengontrol sebagian besar lahan pertanian.

  • Melibatkan mesin untuk produksi

Spesialisasi yang sudah dibahas sebelumnya kemudian mengharuskan petani yang terlibat dalam industrial agriculture melakukan aktivitas yang sama terus menerus untuk waktu yang lama di bidang lahan pertanian yang luas. Itulah mengapa penggunaan mesin menjadi pilihan agar pekerjaan efisien.

PERKEMBANGAN INDUSTRIAL AGRICULTURE DARI DULU HINGGA KINI

Sebelum bahas lebih lanjut tentang industrial agriculture, kita bahas dulu secara singkat bagaimana perkembangannya dari abad-abad yang lalu hingga kenyataannya di masa kini, yuk! Jadi, industrial agriculture yang akan kita bahas lebih lanjut setelah ini adalah hasil dari kemajuan teknologi dan penjajahan selama berabad-abad di Amerika. Tiap abad memiliki cirinya masing-masing. Mari ulik satu per satu di bawah ini:

  • Abad ke-16

Di Amerika, abad ke-16 adalah saat perekonomian negara bergantung pada peternakan. Hal tersebut merupakan akibat dari pengaruh para penjajah yang memasuki Amerika dengan memperkenalkan hewan ternak untuk dikonsumsi. Meningkatnya kebutuhan membangun peternakan akhirnya ikut menambah tuntutan lahan yang luas.

  • Abad ke-17

Nah, di abad ini terjadi Revolusi Pertanian Inggris yang menghasilkan metode bertani baru bernama sistem rotasi tanaman. Sistem ini meningkatkan produktivitas pertanian sehingga dapat menambah jumlah pakan ternak.

  • Abad ke-18

Pada abad ini terjadi Revolusi Industri yang menciptakan selective breeding atau pembiakan selektif, yaitu metode untuk menambah ukuran hewan menjadi lebih besar  serta meningkatkan produktivitasnya.

  • Abad ke-20

Sebuah obat bernama prontosil dipasarkan di Inggris untuk digunakan pada hewan dan berlangsung dari tahun 1938. Perkembangan antibiotik di Amerika kemudian semakin meningkat dengan terjalinnya hubungan antara perusahaan farmasi dan perusahaan makanan. Kemudian, terciptalah sulfaquinoxaline sebagai antibiotik pertama yang disetujui untuk dimasukkan dalam pakan unggas. Pada awal tahun 1950-an, penggunaan antibiotik tersebut meluas hingga ke Eropa, namun lebih terkontrol karena tidak dijual terpisah dan hanya bisa dibeli dalam bentuk campuran pakan-antibiotik.

Lalu, di tahun 1970-an, praktik industrial agriculture mulai didukung secara terbuka oleh Sekretaris Pertanian pada saat itu, yakni Earl Butz. Kebijakannya membuat para petani meningkatkan produksi karena harga yang naik di pasaran. Namun, hal itu tak berlangsung lama. Di tahun 1980an, produksi berlebihan membuat harga turun drastis sehingga ribuan petani bangkrut dan berakhir diakuisisi oleh perusahaan pertanian besar.

  • Abad ke-21; masa kini

Saat ini, sebagian besar makanan diproduksi oleh perusahaan besar yang menerapkan praktik industrial agriculture sebagai usaha untuk meningkatkan produksi dengan resiko yang signifikan bagi lingkungan, manusia, serta hewan.

JADI, INDUSTRIAL AGRICULTURE INI SEBENARNYA UNTUNG ATAU BUNTUNG? 

Ilustrasi monokultur jagung. (Sumber: dailykos.com

Sampai sini, kira-kira sudah bisa menyimpulkan belum apakah industrial agriculture ini menguntungkan atau malah merugikan? Sepertinya masih bingung, bukan? Jadi, praktik industrial agriculture ternyata mempunyai konsekuensi yang memberikan dampak buruk pada lingkungan, kesehatan manusia, dan juga kesejahteraan hewan. Wah, terdengar seram, ya? Kok sampai sebegitunya? Cari jawabannya di bawah ini!

  • CAFO: Concentrated Animal Feeding Operation

Ilustrasi hewan ternak di fasilitas CAFO. (Sumber: foodanimalconcernstrust.org

Spesialisasi jenis produk berupa hewan ternak bisa kita sebut dengan CAFO. Fasilitas CAFO mementingkan hasil produksi dan keuntungan ekonomi daripada kesejahteraan hewan ternak. Hewan yang dipelihara dalam fasilitas CAFO kemungkinan besar terkait dengan animal cruelty. Dipelihara dalam jumlah yang sangat banyak, mereka dikurung selama lebih dari 45 hari per tahun dan bukannya dibiarkan merumput atau makan di luar kandang, hewan-hewan tersebut mendapatkan makanannya di dalam kandang.

Sebagai gambaran, sebuah CAFO yang sangat besar biasanya memelihara paling sedikit 1.000 sapi potong, 700 sapi perah, 2.500 babi ukuran besar, atau 82.000 ayam petelur, di satu lahan—terlepas dari ukuran lahan yang memadai atau tidak. Membayangkannya saja sudah membuat kita merasa sesak, bagaimana dengan hewan-hewan tersebut, ya? 

Kemudian, praktik ini memperlakukan hewan semena-mena. Contohnya, ayam-ayam petelur yang dikurung dalam kandang tidak bisa berdiri atau bahkan sekedar berbalik saking sempitnya ruang di kandang, yang otomatis membuat mereka membuang kotoran di tempatnya masing-masing sehingga mereka menderita borok kaki dan luka bakar. Lalu, kondisi tersebut menyebabkan stres yang membuat mereka saling mematuk dan mencabut bulu satu sama lain, sehingga paruhnya dipotong saat ayam masih kecil agar perilaku itu tidak terulang. Miris, ya! 

  • Monokultur 

Ilustrasi monokultur. (Sumber: eos.com

Monokultur adalah penanaman satu jenis tumbuhan di satu lahan yang sama selama bertahun-tahun. Singkatnya, monokultur adalah CAFO versi tumbuhan. Praktik monokultur sangat buruk untuk kesehatan tanah karena dapat menghabiskan nutrisi di dalam tanah hingga kemudian membuat para petani memberikan pupuk sintetis dalam jumlah besar—yang mana juga dapat memperburuk kesehatan tanah dalam jangka panjang. Kemudian, monokultur membuat tanah rentan terhadap erosi karena tanah menjadi gundul di luar musim tanam. Selain itu, praktik monokultur menanam tumbuhan yang sama secara berulang akan mengundang hama untuk menunggu tumbuhan tersebut kembali tumbuh di titik yang sama.

  • GMO: Genetically Modified Organism

Ilustrasi buah organik dan buah hasil GMO. (Sumber: homeremedies.org

Akrab kita kenal sebagai rekayasa genetika, industrial agriculture menggunakan GMO dengan memasukkan gen ke dalam hewan atau tumbuhan untuk mencapai tujuan tertentu. Gen yang digunakan tidak  harus dari tanaman, bisa dari jamur, bakteri, atau hewan. Umumnya, GMO digunakan pada jagung atau kedelai untuk membuat mereka tahan paparan herbisida—bahan kimia untuk memberantas gulma. Namun, strategi ini rupanya membuat gulma tahan terhadap herbisida sehingga mendorong petani memberikan dosis lebih banyak, yang mana berdampak buruk pada lingkungan, terutama pada kualitas tanah. 

  • Resiko racun pestisida

Ilustrasi penggunaan pestisida. (Sumber: panna.org

Nah, poin sebelumnya berhubungan dengan poin ini, di mana para petani yang menggunakan pestisida, bahkan dalam jumlah yang banyak, beresiko terkena masalah kesehatan seperti ruam, iritasi, sakit kepala, koma, bahkan sampai menyebabkan kematian. Resiko kesehatan ini terjadi akibat mereka terpapar oleh pestisida dalam kurun waktu yang tidak sebentar dengan frekuensi yang cukup sering.  

 

  • Resistensi antibiotik

Ilustrasi penyebaran bakteri dari resistensi antibiotik. (Sumber: fairfarmsnow.org

Hewan ternak dalam praktik industrial agriculture diberikan antibiotik dalam jumlah besar, yang lama kelamaan membuat bakteri yang ada di lahan ternak menjadi berkembang dan tahan terhadap antibiotik. Dampak ini tidak hanya buruk bagi hewan, namun juga pada manusia yang mengonsumsi daging hewan ternak tersebut—karena jenis antibiotik yang dipakai dalam praktik industrial agriculture juga digunakan untuk mengobati penyakit pada manusia—sehingga menurunkan kemampuan manusia untuk melawan penyakit.

Nah, lima poin di atas menunjukkan bahwa praktik industrial agriculture ini ternyata cenderung merugikan, dengan kata lain lebih banyak buntungnya daripada untungnya! Mulai dari lingkungan, hewan dan tumbuhan, hingga manusia, semuanya terdampak oleh praktik industrial agriculture ini. Lalu, seberapa parah sih, dampaknya ke lingkungan? Lanjut bahas di bawah ini, ya!

BAGAIMANA INDUSTRIAL AGRICULTURE MERUGIKAN BAGI LINGKUNGAN?

Ilustrasi deforestasi. (Sumber: consciousdimension.wordpress.com

Industrial agriculture berdampak cukup serius bagi kelestarian lingkungan. Selain yang sudah dibahas pada lima poin di atas, kita ulik satu per satu sisanya melalui tiga aspek lingkungan berikut ini, yuk!

  • Polusi air

Melihat jumlah hewan yang dikelola dalam CAFO, tidak mengejutkan bahwa pada akhirnya akan muncul limbah kotoran dan urin hewan dalam jumlah yang sangat besar. Limbah kotoran ini seringkali hanya ditangani dengan menyebarkannya ke seluruh bagian lahan sebagai pupuk. Namun, jumlah yang berlebihan tersebut membuat petani memberikan terlalu banyak sehingga tidak sebanding dengan kebutuhan nutrisi pada tanah, yang akhirnya membuat tanah gagal menyerap seluruh nutrisi dalam limbah dan akhirnya sisa nutrisi rembes hingga ke air tanah bahkan ke saluran air yang kemudian bermuara ke laut. 

Nutrisi yang sampai ke laut kemudian memicu pertumbuhan berlebihan pada alga. Dalam pertumbuhan alga yang berbahaya, racun dapat dilepaskan ke laut sehingga mengancam keselamatan manusia, hewan, dan ekosistem secara keseluruhan. Saat alga akhirnya mati, bakteri aerobik mengurainya menggunakan oksigen, yang kemudian dapat membahayakan kehidupan laut. Tanpa oksigen, air tidak dapat mendukung kehidupan laut lainnya sehingga berpotensi menciptakan ‘zona mati’ pada laut.

Selain itu, cuaca ekstrim dapat membuat tumpukan limbah kotoran yang membentuk danau kecil—laguna—menyebabkan banjir yang mencemari lingkungan sekitar dengan limbah kotoran berbahaya. Hal itu terjadi pada saat Badai Florence di Amerika, September 2018 lalu di mana 110 laguna limbah kotoran babi bercampur dengan limbah lainnya dan mencemari Sungai Cape Fear—sumber air minum mayoritas penduduk di Carolina Utara—dengan 39 juta galon limbah. Duh, parah sekali, bukan?

  • Polusi udara dan emisi gas rumah kaca

Praktik industrial agriculture yang menghasilkan limbah kotoran hewan serta melibatkan penggunaan pupuk sintetis menciptakan amonia—gas transparan yang menjadi racun jika dalam dosis tinggi—yang jika bercampur dengan polutan dari pembakaran dapat menimbulkan aerosol, yaitu kumpulan partikel berbahaya yang tersuspensi di udara dan dapat merusak kesehatan manusia, khususnya sistem pernapasan karena partikel tersebut dapat menembus paru-paru dan memasuki sistem peredaran darah.  

Kemudian, limbah kotoran dari CAFO yang disebarkan di lahan sebagai pupuk bukan hanya akan mencemari air—seperti yang telah dijelaskan di poin sebelumnya—namun juga dapat menghasilkan gas berbahaya bernama hidrogen sulfida. Dalam dosis sedang, gas tersebut dapat menyebabkan sakit kepala, mual, iritasi mata, dan pusing, sedangkan dalam dosis tinggi, gas tersebut berpotensi mematikan. 

Selain itu, CAFO juga berkontribusi sekitar 18% dalam produksi gas rumah kaca secara keseluruhan. Lalu, meskipun karbon dioksida dianggap sebagai jenis emisi rumah kaca yang utama, ternyata limbah kotoran CAFO menghasilkan gas metana dan dinitrogen oksida yang kekuatannya 23 dan 300 kali lipat lebih tinggi daripada karbon dioksida. Ngeri sekali, ya?

Last but not least, praktik monokultur merupakan sumber produksi gas dinitrogen oksida, sama seperti CAFO. Penggunaan mesin dalam proses pengelolaan lahan monokultur juga mengeluarkan karbon dioksida akibat dari penggunaan bahan bakar fosil untuk pengoperasian mesin. Intinya, industrial agriculture punya andil besar dalam perubahan iklim yang kita rasakan sekarang, Earthlings!

  • Deforestasi—penebangan hutan

Kebutuhan lahan yang besar untuk mengelola CAFO dan menjalankan praktik monokultur membuat hutan—yang merupakan sumber kehidupan utama manusia—harus ditebangi. Tak terkecuali hutan hujan Amazon, yang pada Agustus 2019 hingga Juli 2020 lalu sudah dihancurkan seluas 4.281 mil persegi. Jadi, jangan heran jika deforestasi global yang disebabkan oleh praktik industrial agriculture mencapai angka 80%. Angka setinggi itu menggambarkan bahwa sebagian besar hutan kita sudah hilang, yang mana meningkatkan resiko erosi karena jumlah lahan kering semakin bertambah dan lahan hijau malah berkurang. Tak hanya erosi, ragam hayati yang hidup di hutan otomatis ikut kehilangan habitatnya sehingga semakin banyak flora dan fauna yang punah. Sedih, ya. 

Ilustrasi perbandingan deforestasi di hutan Amazon pada tahun 2000 vs 2012. (Sumber: indiatimes.com

Ditambah lagi, praktik industrial agriculture ini ternyata lebih berkontribusi pada berkurangnya jumlah hutan secara permanen dibandingkan dengan kebakaran hutan dan urbanisasi. Lalu, tahukah kamu bahwa di negara kita sendiri, Indonesia, juga kehilangan sekitar 600.000 hektar hutan setiap tahunnya karena praktik industrial agriculture ini! Kenyataan yang menampar, bukan?

DUH, SUDAH SEPARAH ITU MASIH BISA DISELAMATKAN GAK, YA?

Seperti kata pepatah, banyak jalan menuju Roma! Terdapat sederet alternatif untuk memproduksi hewan dan tumbuhan sebagai pangan tanpa mengorbankan lingkungan. Namun, perlu kamu ketahui bahwa sebenarnya praktik bertani dan beternak konvensional yang ramah lingkungan sudah ada sejak 12.000 tahun yang lalu, sedangkan industrial agriculture bahkan belum mencapai usia satu abad. Tapi, semakin merajalelanya industrial agriculture membuat praktik pertanian dan peternakan yang berkelanjutan jadi dianggap sebagai alternatif. Lucu juga, ya.

Kemudian, kamu paham pernyataan bahwa setiap hal punya dua sisi berlawanan, bukan? Nah, jika industrial agriculture adalah hal negatif yang harus kita hindari, kita juga punya sustainable agriculture, atau pertanian berkelanjutan, yang tentunya tidak perlu kita hindari dan malah harus kita terapkan. Dalam pertanian, konsep berkelanjutan harus dilihat dari tiga aspek, yaitu ekonomi, sosial, dan lingkungan. Pertanian berkelanjutan dari aspek ekonomi artinya sebuah pertanian harus menghasilkan keuntungan yang berkontribusi pada kekuatan ekonomi. Lalu, pertanian berkelanjutan dari aspek sosial artinya sebuah pertanian harus menegakkan keadilan dengan para pekerjanya serta memiliki hubungan saling menguntungkan dengan masyarakat sekitar. Sedangkan, pertanian berkelanjutan dari aspek lingkungan artinya pengelolaan terstruktur terhadap sumber daya alam yang menjadi fondasi dari praktik pertanian itu sendiri. Sayangnya, industrial agriculture tidak meliputi aspek sosial dan lingkungan, sehingga harus dihentikan jika ingin menyelamatkan lingkungan, Earthlings!

LAKUKAN PRAKTIK SUSTAINABLE AGRICULTURE INI

Ilustrasi biodynamic farming. (Sumber: smart-akis.com

Kita bisa mencapai sustainable agriculture dengan mengandalkan banyak metode, tidak hanya sekedar pertanian organik saja, seperti beberapa metode berikut ini:

  1. Menyatukan peternakan & pertanian (biodynamic farming). Metode ini efisien dan juga menguntungkan karena hewan ternak menjadi dekat dengan sumber makanan mereka dan tumbuhan mendapatkan pupuk alami dari kotoran ternak. 

  2. Menerapkan sistem kurungan dengan intensitas rendah, yang akan membantu meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan hewan ternak.

  3. Memberi waktu ternak untuk merumput, sehingga dapat mengurangi produksi gas rumah kaca serta mengalihkan hasil tani untuk kebutuhan lainnya, tidak selalu sebagai pakan ternak. Hewan ternak yang merumput juga membantu tanah menjadi lebih sehat.

  4. Meningkatkan pengelolaan limbah kotoran ternak, sehingga mengurangi potensi emisi gas berbahaya seperti hidrogen sulfida, serta potensi pencemaran air. 

  5. Rotasi tanaman, yaitu menanam berbagai macam tanaman di satu lahan—kebalikan dari monokultur. Rotasi tanaman akan membuat tanah menjadi lebih sehat dan memudahkan kontrol terhadap hama. 

  6. Praktik agroforestri, yaitu menggabungkan pertanian dan peternakan dengan pohon. Metode ini bisa dilakukan dengan menanam pohon di area pertanian dan peternakan, atau membangun pertanian dan peternakan di dalam lingkungan hutan. Agroforestri memberikan simbiosis mutualisme; pohon memberikan karbon bagi tanah, menjadikan tanah lebih sehat sehingga hasil panen meningkat dan ternak mendapat pakan berkualitas tinggi. 

  7. Hidroponik dan aquaponik, yaitu metode menumbuhkan tanaman tanpa tanah, namun menggunakan air yang diberikan nutrisi khusus. Selain air, hidroponik menggunakan media tanam non tanah seperti kerikil, pasir kasar, atau sabut kelapa. Sedangkan, aquaponik adalah metode yang menggabungkan teknik hidroponik dengan hewan aquatik seperti ikan. Sistem aquaponik memanfaatkan kotoran dari ikan sebagai pupuk bagi tanaman hidroponik. 

  8. Urban agriculture, atau konsep pertanian perkotaan yang memanfaatkan lahan terbatas di lingkungan sekitar seperti rooftop dan halaman belakang rumah, untuk menanam berbagai jenis tumbuhan seperti sayur, bumbu dapur—bawang, cabai, dll, serta buah-buah seperti stroberi.  

  9. Permakultur, merupakan perencanaan dan pemeliharaan sistem produksi pertanian yang mengutamakan keberagaman, stabilitas, dan ketahanan dalam ekosistem alam sehingga dapat membentuk sistem yang efisien dengan prinsip kerja cerdas bukan kerja keras. Permakultur mencakup praktik seperti memanfaatkan limbah kotoran hewan sebagai pupuk, limbah dapur untuk pakan ternak, menanam tanaman tahunan seperti pohon buah untuk menghindari pengolahan tanah terlalu sering, membangun terasering dan sengkedan untuk konservasi air, dan masih banyak lagi.

Sembilan metode di atas baru segelintir dari sekian alternatif industrial agriculture yang bisa diterapkan oleh kelompok produsen atau pihak yang berwenang atas proses produksi. Lalu, sebagai individu kita bisa apa? Nah, kita bisa berkontribusi untuk menekan praktik industrial agriculture dengan menjalankan peran sebagai konsumen. Peran konsumen krusial karena tanpa konsumen, para produsen tidak akan bisa melanjutkan bisnisnya. 

Beberapa aksi di bawah ini bisa kita lakukan untuk bantu menekan praktik industrial agriculture:

  • Konsumsi lebih banyak makanan nabati atau plant-based.

  • Kurangi konsumsi daging merah, karena seperti yang sudah dibahas sebelumnya, CAFO berkontribusi pada emisi gas rumah kaca yang bahkan jenisnya lebih berbahaya daripada karbon dioksida.

  • Pun kalau ingin membeli daging merah, belilah di produsen yang tidak menggunakan antibiotik berlebihan pada ternaknya. 

  • Beralih ke buah dan sayuran organik! 

  • Buatlah plan meals atau perencanaan menu makanan sebelumnya, agar mengurangi sampah makanan—yang juga merupakan kontributor gas rumah kaca.

  • Belilah dari petani lokal yang menerapkan praktik sustainable agriculture. Ini juga membuat mereka merasa diapresiasi, lho!

  • Buat kebun kecil di rumahmu. Manfaatkan lahan kosong yang ada, atau gunakan metode hidroponik seperti pada poin sebelumnya—yang terpenting, jangan gunakan bahan kimia. Gencarkan gerakan ini dengan mengajak keluarga dan teman-temanmu!

  • Pelajari kebijakan terkait pertanian dan peternakan. Suarakan dukunganmu dengan mengajukan petisi ke pemerintah. Topik yang bisa kamu bahas diantaranya adalah praktik bertani yang ramah lingkungan, pelarangan pestisida kimia, penurunan dosis penggunaan antibiotik pada hewan ternak, dan masih banyak lagi.

References:

  1. NRDC | Industrial Agriculture 101 

  2. Sentient Media | Is Industrial Agriculture Really Making the World a Better Place? 

  3. FoodPrint | How Industrial Agriculture Affects Our Air 

  4. ArcGIS StoryMaps | Environmental Impacts of Industrial Agriculture

  5. Reducetarian | How Industrial Agriculture Is Driving Deforestation In The Amazon 

  6. Greentumble | 10 Sustainable Agriculture Methods and Farming Practices  

  7. Union of Concerned Scientists | What is Sustainable Agriculture? 

  8. NRDC | Industrial Agricultural Pollution 101 

This article is written by Amalia Diva

Hydropower: Infinite Source of Renewable Power image

Hydropower: Infinite Source of Renewable Power.

APA ITU HYDROPOWER?

Hydroelectric power, bisa juga disebut sebagai hydropower atau hydroelectricity adalah suatu bentuk energi yang memanfaatkan kekuatan air mengalir untuk menghasilkan listrik. Di Indonesia, kita akrab menyebutnya sebagai PLTA atau Pembangkit Listrik Tenaga Air. Hydropower adalah salah satu sumber energi terbarukan yang paling besar dan sudah digunakan sejak lama. Contohnya, lebih dua ribu tahun yang lalu orang Yunani mengubah gandum menjadi tepung dengan menggunakan air mengalir untuk memutar roda penggilingan. 

Hydropower sangat bergantung pada siklus air atau water cycle mengingat air adalah sumber energi utama hydropower. Itulah mengapa mempelajari siklus air cukup penting dalam membantu pemahaman kita tentang cara kerja hydropower.

Siklus air memiliki empat tahap, yaitu:

  • Evaporation; energi matahari memanaskan air di permukaan sungai, danau, dan lautan, yang menyebabkan air menguap.

  • Condensation; uap air mengembun menjadi awan

  • Precipitation; uap air jatuh sebagai presipitasi—hujan dan salju.

  • Collection; curah hujan terkumpul di sungai, lalu bermuara di lautan dan danau, kemudian menguap dan memulai siklus lagi.

Jumlah presipitasi yang mengalir ke sungai, danau, dan laut di wilayah geografis menentukan jumlah air yang tersedia untuk memproduksi hydropower. Perubahan pola curah hujan di tiap musim serta adanya kekeringan dapat berdampak besar pada pelaksanaan produksi hydropower.

Untuk membantu kamu memahami water cycle, perhatikan ilustrasinya di bawah ini, ya! 

Infographic vector created by brgfx 

BAGAIMANA HYDROPOWER MENGHASILKAN LISTRIK?

Hydropower terletak di dekat sumber air untuk memudahkan pengoperasiannya. Kebanyakan hydropower memiliki waduk, gerbang atau katup untuk mengontrol seberapa banyak air yang mengalir keluar dari waduk, serta saluran tempat air berakhir setelah mengalir turun. Air mendapatkan energi potensial tepat sebelum tumpah di atas bendungan atau mengalir menuruni bukit. Energi potensial tersebut diubah menjadi energi kinetik ketika air mengalir menuruni bukit. Air kemudian memutar bilah turbin untuk menghasilkan listrik yang disalurkan ke pembangkit listrik lingkungan sekitar.

Nah, kira-kira seperti inilah proses hydropower saat menghasilkan listrik.

Sumber: electronicslovers.com

Lalu, hydropower terdiri dari tiga jenis fasilitas yaitu impoundment, diversion, dan pumped storage. Beberapa menggunakan bendungan sedangkan sisanya tidak. Kita simak ketiganya di bawah ini, yuk!

Illustrasi Impoundment, Sumber: energy.gov

Ini adalah jenis paling umum dari hydropower. Fasilitas impoundment termasuk dalam sistem hydropower yang berukuran besar, menggunakan bendungan untuk menampung air sungai di waduk. Air yang dilepaskan dari waduk kemudian mengalir melalui turbin, memutar turbin sampai dapat mengaktifkan generator yang menghasilkan listrik. Lalu, air dapat dilepaskan untuk memenuhi kebutuhan lain seperti pengendalian listrik, saluran untuk ikan, dan kebutuhan terkait air lainnya.  

Illustrasi Diversion, Sumber: energy.gov 

Hydropower jenis ini juga disebut sebagai run-of-river, yang mana menyalurkan bagian tertentu dari sungai melalui kanal (penstock) untuk memanfaatkan penurunan alami dari aliran dasar sungai agar dapat menghasilkan energi. Kanal (penstock)—saluran tertutup—berperan menyalurkan aliran air ke turbin dengan aliran air yang diatur oleh gerbang, katup, dan turbin. Pengoperasian hydropower jenis diversion tidak membutuhkan bendungan. 

Illustrasi Pump Storage, Sumber: theconversation.com 

Jenis pumped storage mengoperasikan hydropower seperti baterai raksasa. Pumped storage hydropower, atau PSH, dapat menyimpan listrik yang dihasilkan oleh sumber daya lain—seperti matahari, angin, dan nuklir—untuk digunakan nanti. Fasilitas hydropower jenis ini menyimpan energi dengan memompa air dari waduk yang terletak di ketinggian lebih rendah ke waduk yang terletak di ketinggian lebih tinggi. Ketika kebutuhan listrik rendah, PSH menyimpan energi dengan memompa air dari waduk bawah ke waduk atas. Sebaliknya, saat kebutuhan listrik tinggi, air kembali dilepaskan kembali ke waduk bawah sehingga memutar turbin yang menghasilkan listrik.  

LANJUT BAHAS PROS AND CONS DARI HYDROPOWER, YUK! 

Sumber: im-mining.com

Hydropower telah menjadi sumber energi terbarukan yang paling banyak digunakan selama bertahun-tahun. Namun, sama seperti jenis sumber energi lainnya, tentu saja hydropower memiliki pros and cons—kelebihan dan kekurangan—yang penting untuk diketahui.

Kita mulai dengan mengupas satu-satu pros atau kelebihan hydropower, ya.

  • Hydropower adalah sumber energi terbarukan

Masih ingat dengan siklus air (water cycle) yang kita bahas sebelumnya? Siklus air merupakan elemen penting yang membuat hydropower menjadi energi terbarukan karena menggunakan air sebagai sumber energinya. Water cycle menjadikan air memiliki kemampuan isi ulang sendiri sehingga hydropower tidak akan kehabisan sumber energinya.



  • Hydropower hemat emisi gas rumah kaca

Hydropower tidak melepaskan polutan berbahaya ke udara atau air pada saat menghasilkan daya listrik karena menggunakan air sebagai bahan bakarnya, yang mana membuat hydropower menghasilkan lebih sedikit emisi gas rumah kaca daripada sumber energi lainnya. 

  • Hydropower aman dan dapat diandalkan 

Selain karena tidak menyebabkan polusi dan hemat emisi gas rumah kaca, hydropower aman dioperasikan karena air bisa dikendalikan melalui pelepasan lewat turbin sesuai kebutuhan sehingga bisa menghemat sumber daya yang ada. Hydropower dapat memasok listrik hanya dalam waktu 5 hingga 6 menit saja melalui fasilitas line charging sehingga menjadi penyelamat saat terdapat gangguan listrik di wilayah sekitar. 

  • Hydropower melengkapi sumber energi lainnya

Fasilitas waduk dan bendungan yang dapat menyimpan air memudahkan hydropower menghasilkan listrik kapanpun dibutuhkan sehingga menjadi pelengkap bagi sumber energi lainnya seperti angin dan matahari. Di malam hari saat matahari tidak bersinar maupun saat angin tidak berhembus, hydropower menjadi energi pendukung yang menghasilkan listrik karena ketersediaan air yang selalu ada. Ini menjadikan hydropower sebagai sumber energi yang ekonomis dan praktis.

Kemudian, cons atau kekurangan dari hydropower adalah sebagai berikut:

  • Hydropower merusak habitat hewan & manusia

Pembangunan fasilitas hydropower beresiko merusak lingkungan sekitar karena saat bendungan dibuat, lahan yang sebelumnya kering akan dipenuhi dengan air untuk digunakan sebagai waduk. Ini kemudian membuat manusia dan hewan kehilangan tempat tinggal mereka. Manusia harus pindah karena lahan pemukiman yang digusur, hewan juga dipaksa mencari habitat baru. Selain itu, aliran alami air menjadi terganggu sehingga berdampak buruk pada jalur migrasi ikan untuk berkembang biak. Setelah air berhenti mengalir, hewan-hewan pun tidak dapat lagi mengakses air.      

  • Hydropower perlu pembiayaan yang besar

Projek pembangunan hydropower merupakan projek infrastruktur besar yang memerlukan biaya tidak sedikit karena harus membangun bendungan, waduk, dan turbin penghasil listrik. Meskipun hydropower dapat menyediakan listrik dengan biaya pengelolaan dan pemeliharaan yang rendah untuk 50 hingga 100 tahun setelah dibangun, namun semakin langkanya lokasi yang cocok untuk pembangunan hydropower akan menyebabkan biaya pembangunannya semakin tinggi.  

  • Lokasi pembangunan hydropower terbatas

Hydropower harus berlokasi di sumber air dengan jumlah yang cukup dan dekat dengan saluran listrik. Sulit untuk menemukan lokasi hydropower yang tepat dengan pasokan air untuk sepanjang tahun. Tantangan lainnya adalah bagaimana hydropower harus bisa menyeimbangkan air sungai terus mengalir namun tetap bisa membendung banyak air untuk menghasilkan listrik. Selain itu, lokasi yang sudah memenuhi syarat biasanya jauh dari pusat kota yang menjadi target fasilitasi hydropower. Itulah mengapa cukup sulit menemukan lokasi yang tepat untuk membangun hydropower. 

PENASARAN DENGAN HYDROPOWER TERBESAR DUNIA?

Sumber: reuters.com 

Memiliki kapasitas 34 generator turbin dengan panjang bendungan 2.335 meter serta tinggi mencapai 185 meter, Three Gorges menghasilkan 22.500 megawatts listrik sehingga menjadi hydropower terbesar sekaligus paling produktif di dunia. Hydropower Three Gorges terletak di Provinsi Hubei, Cina tengah, dan dibangun di atas Sungai Yangtze. Hydropower ini telah beroperasi sejak 2003 dan menjadi sumber listrik utama di Cina Timur, Cina Tengah, Provinsi Guangdong di Cina Selatan, dan juga daerah lainnya. Hydropower milik China Three Gorges Corporation (CTGC) ini menciptakan rekor dunia dengan produksi daya tahunan sebanyak 111,8 miliar kilowatt-hours (kWh). Wah, luar biasa sekali, ya? 



INDONESIA PUNYA HYDROPOWER, GAK?

Sumber: rudinazar.com 

Tentu, dong! Bahkan, salah satu hydropower kita menjadi yang terbesar se-ASEAN, lho! Hydropower tersebut bernama PLTA Cirata, terletak di Provinsi Jawa Barat, tepatnya di daerah aliran Sungai Citarum dengan waduk yang memiliki luas genangan mencapai 6.200 hektar dan berada di 3 kabupaten yaitu Bandung, Purwakarta, dan Cianjur. Memiliki delapan unit hydropower dengan masing-masing berkapasitas sebesar 126 megawatts, hydropower Cirata mampu menghasilkan listrik hingga mencapai 1.428 gigawatt hours (GWh) per tahunnya. Kapasitas tersebut membuat hydropower Cirata mampu memasok listrik ke sistem jaringan Jawa, Madura, dan Bali saat ada gangguan dengan kurun waktu hanya dalam 5 hingga 6 menit saja! Namun, kondisi terkini PLTA Citarum cukup memprihatinkan karena dipenuhi sampah dan kotoran ternak sehingga menurunkan kemampuan masa beroperasi yang semula 100 tahun menjadi 60 tahun. Duh, sangat disayangkan, bukan?

References:

  1. National Geographic: Hydroelectric Energy 

  2. EIA.gov: Hydropower explained 

  3. Energy.gov: How Hydropower Works 

  4. ENERGYSAGE: Hydropower pros and cons 

  5. SolarReviews: Hydropower pros and cons 

  6. GreenGeeks: Advantages and Disadvantages of Hydroelectric Energy 

  7. Askari Mohammad Bagher, Mirzaei Vahid, Mirhabibi Mohsen, Dehghani Parvin. Hydroelectric Energy Advantages and Disadvantages. American Journal of Energy Science. Vol. 2, No. 2, 2015, pp. 17-20.

  8. Power Technology: World’s biggest hydroelectric power plants 

  9. Dunia Energi: Jadi Terbesar di Indonesia, PLTA Cirata Mampu Pasok Daya 1.428 GWH Per Tahun 


This article is written by Amalia Diva

GRAY WATER: BAGAIMANA CARA MENGELOLANYA? image

GRAY WATER: BAGAIMANA CARA MENGELOLANYA?.

APA SAJA YANG DIMAKSUD DENGAN GRAY WATER?

Air abu-abu, yang merupakan arti harfiah dari gray water ternyata memang menggambarkan definisi dari gray water itu sendiri, lho. Gray water atau bisa kita sebut sebagai limbah cair merupakan air buangan hasil dari aktivitas manusia sehari-hari seperti aktivitas rumah tangga, industri, perkantoran, serta perdagangan. Air buangan tersebut umumnya berasal dari kamar mandi, dapur, dan juga mesin cuci. Namun, khusus untuk air buangan dari kamar mandi adalah air buangan yang belum terkontaminasi oleh limbah toilet, ya. Limbah toilet masuk dalam kategori black water yang mengandung bakteri pembawa penyakit, berbeda dengan gray water yang level kontaminasinya lebih rendah sehingga lebih mudah untuk dikelola daripada black water.

Ilustrasi mencuci piring. (Photo by Sarah Chai from Pexels

KOK GRAY WATER DIKELOLA? ITU KAN AIR KOTOR...

Jangan pandang sebelah mata gray water! Meskipun air buangan, gray water dapat membantu kita menghemat air untuk melestarikan alam, lho. Kok bisa? 

Aktivitas rumah tangga menghasilkan gray water sebanyak kurang lebih 50% hingga 80%, yang membuat gray water menjadi penghasil limbah air rumah tangga terbesar. Jumlah limbah air sebanyak itu jika dilepas langsung ke sungai, danau, atau laut, akan menyebabkan polusi yang berbahaya bukan hanya untuk ekosistem alam, namun juga bagi kesehatan kita sebagai manusia karena sumber air sehari-hari kita tercemar. Itulah mengapa gray water perlu dikelola dengan cara yang tepat agar bisa digunakan kembali untuk memenuhi kebutuhan air non-minum, seperti untuk irigasi lahan pertanian, menyiram bunga di kebun, pembilasan toilet, mencuci pakaian kotor, dan masih banyak lagi. 

Selain itu, kelangkaan air bersih dan kekeringan di banyak tempat juga jadi dorongan kuat agar kita mulai memanfaatkan gray water. Penggunaan kembali gray water bagi negara-negara yang kekurangan air seperti wilayah Afrika dan Timur Tengah adalah aksi penting yang sangat membantu dalam menambah cadangan air nasional. Itulah mengapa, penggunaan kembali gray water perlu direalisasikan secara menyeluruh karena itu merupakan langkah tepat untuk meningkatkan kesadaran kita akan kelestarian lingkungan, terutama kelestarian sumber air. Kita tidak dapat hidup tanpa air, bukan?

Ilustrasi Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL). (ANTARA FOTO/Novrian Arbi)

SEDERET MANFAAT PENGGUNAAN KEMBALI GRAY WATER

Umumnya, penggunaan kembali gray water yang sudah diolah dengan tepat akan membantu kita dalam hal-hal berikut ini: 

  • Gray water yang tidak dikelola akan berakhir di septic tank, selokan, bahkan sampai mencemari sumber air seperti danau, sungai, juga laut. Penggunaan kembali gray water akan mengurangi dan menghindari polusi tersebut, sehingga sumber air bersih kita terjaga.

  • Penggunaan kembali gray water akan membantu menghemat konsumsi air bersih. Gray water yang sudah dikelola dengan baik dapat digunakan sebagai pengganti air bersih untuk kehidupan sehari-hari. Pertama, untuk menyirami tanaman di kebun, seperti pohon buah, tanaman hias, sayuran, umbi-umbian, dan rumput. Mengutip dari Garden Myths, gray water mengandung bahan organik yang akan menghasilkan nutrisi baik bagi tanaman seperti nitrogen, belerang, kalsium, magnesium, besi, dll. Gray water mengandung fosfor dan kalium dari sabun yang membantu pertumbuhan tanaman. Kedua, gray water dapat digunakan untuk menyiram toilet, mencuci pakaian kotor, dan juga mencuci kendaraan. Coba bayangkan berapa banyak air bersih yang digunakan untuk hal-hal tersebut?

  • Mengolah dan menggunakan kembali gray water akan meningkatkan efisiensi penggunaan air. Gray water yang tidak diolah kembali akan menyebabkan pemborosan air. Gray water seperti air bekas cucian baju bisa digunakan kembali untuk menyiram tanaman, misalnya. “Tapi, bukannya air bekas cucian baju mengandung mikroplastik yang berbahaya?” Nah, Garden Myths menyebutkan bahwa mikroplastik justru tidak disaring dengan baik di saluran pembuangan air dan akan berakhir di sungai dan laut, yang mana lebih berbahaya daripada saat dimanfaatkan kembali untuk mengairi tanaman. Mikroplastik hancur secara perlahan di tanah dan tidak akan terserap oleh tumbuhan.

  • Penggunaan kembali gray water akan mengurangi emisi gas rumah kaca. Kebutuhan air bersih yang berkurang karena penggunaan kembali gray water akan menghemat pemakaian energi saat memompa air ke dalam rumah. Itu berarti pemakaian listrik berkurang, sehingga dapat menghemat bahan bakar fosil dan membantu penurunan emisi gas rumah kaca.

  • Penggunaan kembali gray water untuk menyiram tanaman akan menurunkan jumlah pemakaian bahan kimia seperti pestisida karena gray water mengandung nutrisi yang dapat membantu pertumbuhan tanaman. Selain efisien, cara ini juga dapat menjaga kelestarian lingkungan.

JADI, GIMANA SIH CARA MENGOLAH GRAY WATER?

Perlu diketahui sebelumnya bahwa dalam proses pengelolaannya, gray water di Indonesia tidak dipisah untuk dikelola sendiri, namun digabungkan dengan black water―limbah dari toilet―yang kemudian dikenal sebagai air limbah domestik.

Di Indonesia, gray water memiliki sistem pengelolaan air limbah yang terbagi menjadi dua―berdasarkan Permen PUPR No.4 Tahun 2017―yaitu Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik Setempat (SPALD-S) dan Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik Terpusat (SPALD-T). Air limbah domestik yang sudah terkumpul melalui kedua sistem tersebut kemudian disalurkan ke Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dan Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT).

Di bawah ini adalah ilustrasi dari sistem pengelolaan gray water di Indonesia.

Pertama, kita bahas SPALD-S atau sistem pengelolaan air limbah setempat dulu, yuk! Jadi, SPALD-S merupakan sistem pengelolaan air limbah domestik yang dilakukan dengan mengumpulkan air limbah di lokasi sumber untuk kemudian dikelola di IPLT atau Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja. Ada dua jenis SPALD-S berdasarkan skala cakupannya, yaitu Skala Individual (1 unit rumah) dan Skala Komunal (2-10 rumah). 

Infografis tentang alur pengelolaan SPALD-S di bawah ini akan memudahkan kamu memahaminya.

Sumber: Nawais.org

Lalu, mari lanjut ke SPALD-T atau sistem pengelolaan air limbah terpusat. SPALD-T ini mengelola air limbah domestik secara kolektif ke IPAL atau Instalasi Pengolahan Air Limbah. Jenis SPALD-T berdasarkan skala cakupannya ada tiga, yaitu Skala Perkotaan, Skala Permukiman, dan Skala Kawasan Tertentu. Gray water yang dikelola dengan sistem terpusat ini memiliki proses yang lebih terkendali karena sarananya lebih lengkap, mulai dari pipa non tinja hingga bak penangkap lemak dan minyak dari saluran limbah dapur.

Simak lebih lanjut mengenai sistem pengelolaan air limbah terpusat atau SPALD-T lewat infografis di bawah ini, ya!

Sumber: Nawais.org




Earthlings, kalian sudah tahu belum kalau saat ini pemerintah sedang melaksanakan proyek peningkatan pelayanan air limbah domestik di empat kota besar Indonesia? Proyek tersebut bernama Metropolitan Sanitation Management Investment Project (MSMIP), yang mencakup kota Jambi, Makassar, Palembang, dan Pekanbaru. Empat kota tersebut nantinya akan disediakan sarana pengelolaan air limbah terpusat atau SPAL-T dan juga Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) domestik yang berlokasi di kawasan bisnis terpusat kota-kota tersebut. Harapannya, proyek ini dapat mengurangi pencemaran badan air yang disebabkan oleh pembuangan limbah air domestik secara langsung ke lingkungan. Wah, semoga berjalan lancar dan efektif, ya!

References:

https://greencoast.org/what-is-greywater/ 

https://www.universaleco.id/pengolahan-limbah-cair-sumber-pengertian 

https://www.ecomena.org/reuse-of-greywater/ 

https://www.gardenmyths.com/gray-water-safe-garden/ 

https://www.conserve-energy-future.com/ways-and-benefits-of-using-greywater.php 

http://sim.ciptakarya.pu.go.id/msmip/profil/tentang-kami


This article is written by Amalia Diva 

JANGAN BUANG SMARTPHONE BEKASMU, E-CYCLING SAJA! image

JANGAN BUANG SMARTPHONE BEKASMU, E-CYCLING SAJA!.

SEBELUMNYA, SUDAH TAHU APA ITU E-WASTE?

E-waste atau electronic waste adalah peralatan elektronik yang telah dibuang karena rusak, tidak berfungsi, sudah tidak bisa digunakan lagi, atau tidak lagi digunakan karena berbagai alasan seperti misalnya sudah ada peralatan baru yang lebih canggih, dan sebagainya. 

 

Potensi e-waste ada di sekitar kita, mulai dari barang-barang rumah tangga seperti kulkas, mesin cuci, televisi, air conditioner (AC), sampai dengan alat teknologi untuk komunikasi yang saat ini wajib dimiliki seperti smartphone, laptop, komputer, dan masih banyak lagi. Barang-barang tersebut akan menjadi e-waste ketika sudah rusak dan tidak lagi digunakan.

 

Peralatan elektronik ini kemudian menjadi limbah elektronik yang berpotensi merusak ekosistem alam jika tidak dibuang dengan benar. 

Ilustrasi recycling smartphone. (Sumber: pixabay.com/WilfriedPohnke)

 

TAHUKAH KAMU?

 

Ilustrasi e-waste. (Sumber: pixabay.com/INESby)

 

  • Menurut laporan World Economic Forum pada Januari 2019, sampah elektronik atau E-waste merupakan limbah yang pertumbuhannya paling cepat dengan perkiraan aliran limbah sebanyak 48,5 juta ton pada tahun 2018.

  • Membuat sebuah komputer bersama dengan monitornya membutuhkan setidaknya 1,5 tons air, 22 kg bahan kimia, dan 240 kg bahan bakar fosil.

  • Mendaur ulang 1 juta ponsel akan menghasilkan lebih dari 15.875 kg tembaga, 14,9 kg palladium, 350 kg  perak, dan 34 kg emas.

  • Untuk setiap 10.000 ton limbah komputer yang didaur ulang akan menciptakan 296 pekerjaan per tahun dibandingkan dengan membuangnya ke tempat pembuangan atau pembakaran sampah.

  • Jumlah timbal yang berlebihan dalam sampah elektronik, jika dilepaskan ke lingkungan, dapat menyebabkan kerusakan parah pada darah dan ginjal manusia, serta sistem saraf pusat dan perifer.

 

MENGAPA E-CYCLING PENTING?

Selain fakta-fakta di atas, alasan lain kita harus mendaur ulang sampah elektronik adalah karena dampaknya yang sangat berbahaya jika dibuang sembarangan alih-alih dikelola dengan benar. Di bawah ini adalah alasan penting yang untuk refleksi diri agar kita mulai e-cycling barang elektronik bekas kita.

 

  • Melestarikan sumber daya alam

Peralatan elektronik merupakan sumber bahan baku berharga. Hanya karena suatu perangkat tidak lagi berfungsi, bukan berarti harus langsung dibuang. Bahan baku di dalam perangkat tersebut, seperti emas, alumunium, tembaga, dan bahan baku lainnya dapat diambil untuk kemudian digunakan kembali untuk membuat yang baru.   

 

PBB menemukan bahwa limbah elektronik mengandung logam mulia 40 hingga 50 kali lebih kaya daripada bijih yang ditambang dari bumi. Selain itu, internationally, emas dalam limbah elektronik hanya berhasil diselamatkan sebanyak 10-15 persen, sedangkan sisanya hilang. 

 

E-cycling akan membuat bahan baku seperti emas dan logam mulia mudah didapatkan, sehingga eksploitasi tambang bisa dihilangkan melalui penerapan e-cycling yang konsisten. Selain menghemat sumber daya di bumi, proses mendapatkan bahan baku dari e-cycling juga lebih efisien karena berbagai dampak positifnya untuk alam. 

 

  • Mengurangi zat beracun dan gas rumah kaca

E-waste mengandung zat beracun seperti kadmium, kromium, timbal, merkuri, dan banyak lagi. Zat-zat beracun tersebut akan berbahaya bagi lingkungan dan menimbulkan dampak seperti merusak tanah, mencemari air dan juga udara.

 

E-cycling akan mengurangi emisi bahan kimia dengan memanfaatkan e-waste untuk membuat peralatan elektronik yang baru. Ketika bahan daur ulang digunakan untuk memproduksi peralatan elektronik baru, maka peralatan hasil daur ulang tersebut akan menggunakan lebih sedikit energi sehingga mengurangi emisi gas rumah kaca yang dilepaskan ke lingkungan.

 

  • Menjaga kesehatan 

Seperti disebutkan di atas, e-waste mengandung bahan kimia dan zat beracun yang berbahaya. Selain merusak lingkungan, membuang e-waste sembarangan akan membahayakan penduduk sekitar. Dalam jumlah yang kecil sekalipun, zat beracun dalam e-waste akan berbahaya jika masuk ke air, tanah, dan menyebar ke udara. 

 

Melalui e-cycling, kita dapat menjauhkan zat-zat beracun tersebut dari tempat pembuangan sampah dengan membawanya ke pusat daur ulang yang ada di sekitar kita. 

 

  • Mengelola produksi limbah padat

Perkembangan teknologi yang pesat membuat masa hidup suatu alat elektronik cenderung lebih pendek daripada sebelumnya. Ini kemudian membuat jumlah limbah padat meningkat cepat dan memenuhi tempat pembuangan sampah karena limbah padat susah untuk terurai, bahkan bisa tidak terurai sama sekali. 

 

E-cycling akan mengurangi jumlah limbah padat yang tertumpuk di tempat pembuangan akhir melalui daur ulang e-waste dengan memanfaatkannya dalam berbagai bentuk. Dengan begitu, tumpukan sampah di tempat pembuangan akhir sangat mungkin berkurang pesat dan mengelola limbah lainnya menjadi lebih mudah.

 

E-CYCLING PUNYA PERAN PENTING DALAM MENJAGA LINGKUNGAN, LHO!

Setelah mengetahui betapa pentingnya e-cycling, di bawah ini adalah manfaat e-cycling untuk lingkungan jika penerapan e-cycling dilakukan secara konsisten.

 

  • Mengurangi eksploitasi bahan tambang 

Semua komponen alat elektronik mengandung mineral dan logam yang harus ditambang dari berbagai pertambangan di seluruh dunia. Penambangan sumber daya yang terus menerus akan membuat sumber daya menipis dan merusak lingkungan. Mengutip dari Recycle Technologies, 98% komponen dalam perangkat elektronik dapat didaur ulang. E-cycling akan membantu memenuhi kebutuhan logam melalui ekstraksi dari barang elektronik bekas, sehingga kebutuhan untuk menambang sumber daya alam berkurang.

 

Sebagai perbandingan, kita bisa mendapatkan 40 hingga 800 kali lebih banyak emas dan 30 hingga 40 kali lebih banyak tembaga dari 1 ton papan sirkuit daripada saat kita menambang 1 ton bijih. Intinya, e-waste atau limbah elektronik mengandung banyak komponen yang terbuat dari bahan tambang sehingga dengan e-cycling, kebutuhan bahan tambang dapat ditekan melalui pemanfaatan kembali komponen-komponen tersebut.

 

  • Mencegah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) jadi sumber bahaya

Setiap tahunnya, e-waste dibuang ke TPA dalam jumlah yang semakin meningkat. Membuang e-waste ke TPA akan menghasilkan banyak masalah bagi lingkungan. Contohnya, logam yang terdapat dalam e-waste seperti besi, aluminium, dan emas, akan mengikis tanah dan melepaskan racun berbahaya. Begitu juga dengan kandungan plastik dalam e-waste yang bisa meracuni tanah. Racun yang memasuki tanah akan membunuh semua tumbuhan dan mikroorganisme yang hidup di lahan tersebut. Bahkan skenario terburuknya, racun kemudian menyebar sampai ke mata air.

 

Di sinilah peran e-cycling dibutuhkan, di mana e-waste akan didaur ulang dengan memisahkan komponen e-waste yang bisa digunakan kembali untuk membuat produk baru. Kemudian, komponen yang tidak dapat didaur ulang akan dibuang dengan benar sehingga tidak membahayakan lingkungan. E-cycling membantu menghemat ruang di TPA sehingga e-waste tidak memberikan bahaya bagi mikroorganisme dan tumbuhan yang ada.

 

  • Melindungi sumber air dari pencemaran zat beracun

Tempat pembuangan sampah yang penuh akan e-waste beresiko melepaskan racun ke air dalam tanah yang bisa sampai sumur terdekat. Ini meningkatkan resiko keracunan bahan kimia untuk hewan dan masyarakat sekitar yang mengonsumsi air tersebut. Melalui e-cycling, pencemaran zat beracun dapat dicegah sehingga air tetap bersih dan aman untuk dikonsumsi.



  • Mengurangi polusi udara

Membakar e-waste akan melepaskan gas beracun ke udara sehingga menyebabkan polusi udara yang  Itulah mengapa kita harus melakukan e-cycling dengan memastikan bahwa alat elektronik yang sudah tua dan tidak digunakan lagi didaur ulang dengan benar alih-alih dibakar langsung.

 

Selain itu, pembuatan bahan baku alat elektronik melibatkan proses pertambangan yang mengeluarkan emisi gas dari adanya peledakan batuan. Tiap 1 ton emas atau platinum, ada sekitar 10.000 ton karbon dioksida yang dilepaskan ke udara. Untuk meminimalisir hal ini, e-cycling butuh dilakukan agar eksploitasi tambang dapat dicegah sehingga emisi gas beracun dapat dihentikan dan polusi udara pun berkurang.

 

  • Melindungi lahan dan menghemat energi

Proses produksi logam untuk bahan baku alat elektronik melibatkan pertambangan yang memakan lahan dan energi dalam jumlah cukup besar. Menggali dan mengebor tanah yang kemudian ditinggalkan begitu saja akan membahayakan lingkungan. Lahan bekas tambang membentuk lubang-lubang besar yang kemudian menjadi lahan kering dan gersang. Saat hujan lebat, daerah dengan lahan bekas tambang tersebut menjadi tidak stabil. E-cycling akan membantu menekan jumlah kebutuhan bahan baku alat elektronik menjadi lebih kecil sehingga dapat mencegah pertambangan yang berlebihan dan menghemat energi yang dikeluarkan serta menghindari terbentuknya lahan kering yang berbahaya bagi lingkungan.

 

  • Menyediakan sumber daya ramah lingkungan bagi produsen 

Setiap perangkat elektronik memiliki komponen dari bahan logam dan plastik yang merupakan hasil pengerukan sumber daya tambang. Ketika perangkat tersebut rusak dan dibuang, itu berarti semakin banyak tambang yang harus digali untuk menghasilkan bahan baku perangkat elektronik baru. Siklus ini akan terus terjadi dan menghasilkan limbah yang berbahaya bagi lingkungan.

 

Namun, jika e-cycling diterapkan, kita akan membantu alam terhindar dari eksploitasi dan penumpukan e-waste dengan mendistribusikan komponen e-waste yang reusable ke produsen yang membutuhkan. Misalnya, hard drive dapat diolah menjadi batangan aluminium untuk digunakan oleh produsen otomotif, dengan begitu kelangkaan aluminium dapat dicegah dan e-waste tidak terbuang sia-sia. 

 

TAPI, GIMANA CARANYA RECYCLING E-WASTE?

Tidak seperti sampah organik dan anorganik pada umumnya yang bisa dikelola sendiri di rumah, e-waste memerlukan penanganan yang serius sehingga harus diserahkan kepada ahlinya. Jika kamu ingin membuang handphone bekas yang sudah menumpuk di rumah, kamu bisa mencari pusat pembuangan e-waste di daerah sekitarmu. Cari dan telusuri layanan jasa daur ulang yang bertanggung jawab, karena kebanyakan e-waste akan dikirim ke negara berkembang untuk disortir dan dibakar. Layanan jasa daur ulang yang bersertifikat akan menjamin e-waste kamu dikelola dengan baik sehingga meminimalisir dampak buruk untuk lingkungan dan kesehatan. Then, pastikan kalau kamu sudah mengeluarkan SIM card serta mencadangkan dan membersihkan data pribadi di gadget yang ingin kamu e-cycling, ya! Ini akan membantu pihak penyedia jasa e-cycling dalam proses daur ulang nantinya.

 

Kamu juga bisa bertanya ke pemerintah setempat mengenai pengelolaan e-waste, apakah ada pihak yang bertugas untuk mengumpulkan e-waste atau kamu harus menaruhnya ke titik drop off e-waste yang tersedia. Kemudian, jangan lupa cek kebijakan daur ulang perusahaan asal barang-barang elektronik milikmu. Merk gadget ternama seperti Apple memiliki program Apple Recycling Programs yang memungkinkan para konsumen mengirim kembali produk ke toko maupun secara online untuk kemudian didaur ulang.

 

Di Indonesia sendiri, ada salah satu komunitas yang menyediakan jasa daur ulang e-waste bernama EwasteRJ, yang baru-baru ini memecahkan rekor dengan mengumpulkan 2,4 ton e-waste dalam kurun waktu 6 bulan, dari Januari hingga Juni 2021. Wah, jumlah yang sangat besar, bukan? 

 

EwasteRJ 

 

Bagi kamu yang tinggal di Jakarta, khususnya Jakarta Selatan, kamu bisa langsung mengunjungi dropzones EwasteRJ yang ada di beberapa titik, tinggal pilih yang terdekat saja! Selain itu, EwasteRJ juga tersedia di beberapa kota besar seperti Bandung, Semarang, Jogja, dan Surabaya, lho! Wah, niat kamu untuk berkontribusi pada kelestarian lingkungan semakin dipermudah jika seperti ini. 

 

Kalau belum ada pusat daur ulang e-waste di sekitarmu, lakukan tindakan pencegahan untuk meminimalisir e-waste dengan merawat barang elektronik yang kamu punya sebaik mungkin sehingga bisa berumur panjang, ya!

 

References:

The Balance Small Business: E-Waste Recycling Facts and Figures 

The Balance Small Business: E-Waste and the Importance of Electronics Recycling  

CJD E-Cycling: 10 Environmental Benefits of E-Waste Recycling

Recycle Technologies: Six Benefits of Recycling E-Waste

Platinum Electricians: Tips For Recycling Your Electronic Waste Responsibly


This article is written by Amalia Diva